
DAHULU rak-rak toko buku dipenuhi dengan koleksi teka-teki silang, Sudoku, hingga buku mewarnai dewasa. Semuanya menjanjikan satu hal: menjaga pikiran tetap tajam. Namun, pada saat itu, bukti ilmiah mengenai manfaat praktis dari aktivitas tersebut masih sangat tipis.
Kini, lanskap tersebut mulai berubah. Neurosains mulai mengidentifikasi aktivitas yang benar-benar membantu otak, seperti mempelajari bahasa baru, bermain musik, hingga menguasai keterampilan baru. Pertanyaan besarnya adalah: dapatkah pengalaman ini digabungkan menjadi latihan fisik yang dirancang khusus untuk pikiran?
“Saat ini kita hanya fokus pada otak ketika ada sesuatu yang salah. Namun, kami menemukan bahwa mungkin ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk pencegahan,” ujar Sandra Bond Chapman, profesor ilmu perilaku dan otak di University of Texas, Dallas.
Bukti Baru dari Meja Riset
Studi-studi awal mengenai program pelatihan otak sering dianggap gagal karena peserta hanya membaik pada tugas spesifik yang dilatih. Namun, serangkaian penelitian dalam setahun terakhir menunjukkan arah yang berbeda: pelatihan kognitif dapat menghasilkan perubahan terukur yang lebih luas pada otak.
- Oktober: Peneliti McGill University melaporkan bahwa lansia yang berlatih otak 30 menit sehari selama 10 minggu menunjukkan peningkatan pada sistem kolinergik, yang krusial untuk pembelajaran dan memori.
- November: Analisis pemindaian MRI terhadap 190 orang dewasa menunjukkan bahwa pelatihan kognitif dapat mengatur ulang struktur otak orang dewasa secara fisik.
- Februari: Tindak lanjut selama 20 tahun dari uji klinis penting menemukan bahwa lansia berusia 65 tahun ke atas yang menyelesaikan pelatihan kecepatan pemrosesan (speed-of-processing) memiliki risiko demensia 25 persen lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.
Membedah Jenis Latihan: Top-Down vs Bottom-Up
Dalam studi terbaru yang dipresentasikan di Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer, para peneliti membagi peserta ke dalam tiga kelompok latihan:
- Berpikir Top-Down: Melatih keterampilan mental tingkat tinggi seperti perencanaan, penalaran, dan pengalihan perhatian.
- Pelatihan Bottom-Up: Menekankan pada reaksi otomatis terhadap input sensorik. Fokusnya adalah pada kecepatan dan perhatian visual, seperti melacak objek yang bergerak cepat di layar di bawah tekanan waktu.
- Kontrol Aktif: Memainkan permainan komputer biasa seperti Solitaire atau pencarian kata.
Hasilnya mengejutkan. Hanya kelompok pelatihan kecepatan (speed-training) yang menunjukkan perubahan menguntungkan pada biomarker amiloid beta dalam darah, protein yang terkait erat dengan penyakit Alzheimer.
Mengapa Kecepatan Itu Penting?
Hye Won Chai, asisten profesor riset di Clemson University, menjelaskan bahwa latihan kecepatan pemrosesan menstimulasi sistem kolinergik. Berbeda dengan kosakata yang cenderung stabil seiring bertambahnya usia, kecepatan pemrosesan otak mulai melambat jauh lebih awal.
Etienne de Villers-Sidani dari McGill University menambahkan bahwa meskipun teka-teki silang tetap menyenangkan dan melibatkan mental, aktivitas tersebut mungkin tidak cukup kuat untuk menggerakkan jarum dalam membalikkan efek penuaan dibandingkan dengan latihan kecepatan. (The Washington Post/I-2)
Catatan Penting: Pelatihan otak bukan solusi tunggal. Tinjauan dalam jurnal The Lancet tahun lalu menemukan bahwa manfaat kognitif terbesar diperoleh ketika pelatihan otak dikombinasikan dengan intervensi gaya hidup lain, terutama olahraga fisik.
Personalisasi dan Tantangan Masa Depan
Temuan menarik lainnya adalah adanya perbedaan respons antara pria dan wanita. Pada uji coba kecil tersebut, latihan kecepatan mengubah biomarker amiloid pada pria, sementara pada wanita, peningkatan kesehatan otak dikaitkan dengan perubahan kedalaman lipatan kortikal di area memori.
Aaron Seitz, profesor psikologi di Northeastern University, mengingatkan masyarakat untuk tetap kritis dalam memisahkan sains dari pemasaran. Meskipun belum ada konsensus ilmiah luas bahwa semua “game otak” berfungsi, bukti yang ada saat ini sangat layak untuk diselidiki lebih lanjut.
“Orang yang paling banyak mendapatkan keuntungan adalah mereka yang memiliki ruang paling besar untuk perbaikan,” kata Seitz, merujuk pada lansia dengan gaya hidup menetap dibandingkan dengan mahasiswa yang sudah berada dalam lingkungan yang menstimulasi secara kognitif.
