
PROTEIN merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan energi, membentuk antibodi, serta membangun dan memperbaiki jaringan tubuh. Meski memiliki banyak manfaat, para ahli mengingatkan bahwa mengonsumsi protein dalam jumlah tinggi belum tentu lebih baik bagi kesehatan. Kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda, sehingga asupannya perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tingkat aktivitas sehari-hari.
Protein Penting, tetapi Sesuai Kebutuhan
Ahli gizi ate Patton, RD, LD, menjelaskan bahwa seseorang tetap bisa mengonsumsi protein secara berlebihan, terutama jika menjalani pola makan tinggi protein seperti diet paleo. Menurutnya, jumlah protein yang dibutuhkan setiap orang bergantung pada kondisi kesehatan dan tingkat aktivitas fisik.
Secara umum, protein dianjurkan memenuhi sekitar 10–35 persen dari total kebutuhan kalori harian. Sebagai acuan, orang dewasa disarankan mengonsumsi sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan per hari. Sebagai contoh, seseorang dengan berat badan sekitar 68 kilogram membutuhkan sekitar 54 gram protein setiap hari.
Kate Patton menambahkan bahwa orang yang aktif berolahraga dapat memerlukan asupan protein sedikit lebih tinggi untuk membantu proses pertumbuhan dan perbaikan otot. Karena itu, kebutuhan protein sebaiknya tidak disamaratakan, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas masing-masing individu.
Terlalu Banyak Protein Dapat Menimbulkan Efek Samping
Ahli gizi terdaftar Kate Patton, RD, LD, menjelaskan bahwa seseorang dapat mengonsumsi protein secara berlebihan apabila asupannya terus-menerus melebihi jumlah yang direkomendasikan.
Risiko tersebut lebih besar pada orang yang menjalani pola makan tinggi protein, seperti diet paleo atau keto, mengonsumsi daging dalam jumlah besar, atau sering menggunakan suplemen protein, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik yang cukup.
Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat konsumsi protein berlebihan antara lain:
– Bau mulut (keto breath)
Mengonsumsi terlalu banyak protein tanpa diimbangi karbohidrat yang cukup dapat memicu kondisi ketosis, yaitu saat tubuh mulai membakar lemak sebagai sumber energi. Salah satu efek samping yang dapat muncul adalah bau mulut khas yang dikenal sebagai keto breath.
– Dehidrasi
Ginjal berperan menyaring limbah hasil metabolisme protein dari dalam darah. Proses tersebut membutuhkan air, sehingga ketika asupan protein terlalu tinggi, ginjal bekerja lebih keras dan dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
– Gangguan pencernaan
Konsumsi protein berlebihan, terutama yang berasal dari daging merah, dapat memicu keluhan pada saluran pencernaan, seperti perut kembung, sembelit, maupun diare.
– Asupan kalori berlebih
Menurut Kate Patton, pola makan tinggi protein juga dapat meningkatkan asupan kalori harian. Jika kebutuhan tubuh telah terpenuhi, kelebihan protein dapat disimpan sebagai lemak sehingga berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan.
– Urine berbusa
Urine yang tampak berbusa atau bergelembung dapat menjadi tanda proteinuria, yaitu kadar protein yang tinggi dalam urine. Kondisi ini dapat menjadi salah satu tanda gangguan atau kerusakan ginjal sehingga perlu segera diperiksakan ke tenaga kesehatan.
– Meningkatkan beban kerja ginjal
Asupan protein yang terlalu tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring sisa metabolisme protein. Pada orang yang telah memiliki gangguan ginjal, kondisi ini dapat memperburuk fungsi ginjal sehingga pola makan tinggi protein umumnya tidak dianjurkan.
– Risiko dari konsumsi daging merah berlebihan
Cleveland Clinic juga mengingatkan bahwa jika asupan protein berlebih terutama berasal dari daging merah, kondisi tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker.
Mengkonsumsi protein perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Masyarakat juga disarankan memilih sumber protein yang berkualitas dan menggunakan suplemen secara bijak apabila memang diperlukan. (Sumber: Cleveland Clinic, Harvard Health Publishing/P-3)
