
GURU Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Hariyadi, menekankan pentingnya pendekatan “Nexus Baru” dalam pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan. Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang diselenggarakan pada Sabtu (27/6), ia menyoroti perlunya pergeseran strategi dari ekstensifikasi menuju intensifikasi lahan guna mendongkrak produktivitas nasional.
Menurut Prof Hariyadi, saat ini produktivitas perkebunan rakyat masih jauh dari optimal, yakni berada di bawah 60% dari potensi yang ada. Ia menilai perluasan lahan atau ekstensifikasi bukan solusi tepat jika tidak dibarengi dengan kesiapan input produksi yang mumpuni.
“Kuncinya adalah benih unggul dan input pupuk yang tepat. Saya lebih mendorong intensifikasi untuk mengoptimalkan potensi yang sudah ada,” tegasnya.
Prinsip 5 Tepat dan Good Agricultural Practices
Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) menjadi pilar utama dalam strategi intensifikasi ini. Prof Hariyadi merinci bahwa efektivitas pemupukan sangat bergantung pada prinsip “5 Tepat” untuk memastikan tanaman mendapatkan nutrisi maksimal.
| Prinsip 5 Tepat | Deskripsi Aplikasi |
|---|---|
| Tepat Jenis | Kesesuaian jenis pupuk dengan kebutuhan unsur hara tanaman. |
| Tepat Dosis | Pemberian jumlah pupuk sesuai dengan umur dan kondisi tanaman. |
| Tepat Tempat | Penempatan pupuk pada area perakaran yang paling aktif menyerap hara. |
| Tepat Waktu | Aplikasi dilakukan pada saat tanaman membutuhkan dan kondisi iklim mendukung. |
| Tepat Cara | Teknik aplikasi yang meminimalkan kehilangan hara ke lingkungan. |
Selain produktivitas lahan, Prof Hariyadi juga memaparkan potensi besar ekonomi sirkular di industri sawit. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi dapat diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
| Jenis Limbah Sawit | Potensi Nilai Tambah |
|---|---|
| Pelepah & Tandan Kosong (TKKS) | Pupuk organik dan mulsa lahan. |
| Cangkang & Serat | Sumber energi terbarukan (biomassa). |
| Limbah Cair Pabrik (POME) | Biogas dan sumber energi listrik. |
| Produk Sampingan Lain | Bahan baku pakan ternak. |
Meski potensinya besar, ia mengakui adanya tantangan dalam implementasi ekonomi sirkular, seperti tingginya investasi awal, keterbatasan teknologi, hambatan logistik, hingga regulasi yang belum sepenuhnya mendukung pekebun kecil.
Integrasi Nexus Baru
Sebagai penutup, Prof Hariyadi menegaskan bahwa kerangka kerja “Nexus Baru” harus menjadi kompas industri sawit masa depan. Konsep ini mengintegrasikan aspek produktivitas, ketahanan iklim, ekonomi sirkular, dan digitalisasi.
Langkah integratif ini dipandang krusial untuk menjawab tantangan global, mulai dari pemenuhan standar Environment, Social, and Governance (ESG) hingga upaya penurunan emisi karbon di tengah perubahan iklim yang kian nyata. (Z-1)
