
KEMENTERIAN Agama (Kemenag) mendorong akselerasi perluasan jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi santri di pondok pesantren, siswa madrasah, serta lembaga pendidikan keagamaan di seluruh Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa santri di pondok pesantren sangat membutuhkan intervensi gizi tersebut. Namun, sejauh ini persentase penerima manfaat di lingkungan pesantren masih sangat minim.
“Pondok pesantren ini boleh dikatakan yang paling memerlukan sentuhan, tetapi ternyata baru satu persen yang bisa tersentuh oleh program ini,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu (29/7).
Meski demikian, Nasaruddin optimistis berbagai tantangan di lapangan dapat teratasi melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga. Optimisme tersebut didorong oleh langkah cepat kepemimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) yang berfokus pada penyelarasan data penerima manfaat.
Kemenag menilai pendataan terintegrasi, mulai dari jumlah sasaran santri hingga zonasi wilayah sebarannya, merupakan kunci utama sekaligus tantangan terbesar dalam penyaluran program MBG di lingkungan pendidikan keagamaan.
Berdasarkan data Kemenag, saat ini terdapat lebih dari 6,2 juta santri yang tersebar di 42 ribu lembaga pendidikan pesantren di Indonesia.
“Dengan demikian, kalau data kita tepat, saya kira gampang sekali kita mengurai permasalahan,” tegas Nasaruddin.
Ia memastikan Kemenag akan bersikap proaktif memfasilitasi kerja sama antara BGN dengan jaringan pondok pesantren serta madrasah demi mengejar target pemenuhan gizi para santri. (Ant/P-4)
