
GREAT Institute mengajak masyarakat dan dunia usaha berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Mei-31 Juli 2026. Data yang akurat dinilai penting sebagai fondasi penyusunan kebijakan ekonomi yang tepat sasaran. Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Devita, mengatakan ketersediaan data yang lengkap menjadi prasyarat bagi penyusunan kebijakan berbasis bukti.
“Sensus Ekonomi bukan hanya berkaitan dengan berapa banyak usaha atau perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Data ini membantu negara memahami bagaimana kegiatan ekonomi berkembang, bagaimana lapangan kerja tercipta, bagaimana pola kerja masyarakat berubah, dan wilayah mana yang membutuhkan dukungan pembangunan lebih besar,” ujar Trisha dalam keterangannya, Jumat (17/7).
Ajakan tersebut disampaikan di tengah masih adanya kekhawatiran dan penolakan terhadap petugas sensus di sejumlah daerah. Sebagian masyarakat disebut belum sepenuhnya memahami tujuan pendataan dan masih mengkhawatirkan kemungkinan data sensus digunakan untuk kepentingan perpajakan.
GREAT Institute menilai pembaruan data semakin penting karena struktur ekonomi Indonesia berubah cepat. Aktivitas ekonomi kini tidak hanya berlangsung di pabrik, kantor, toko, atau pasar konvensional, tetapi juga melalui usaha rumahan, media sosial, platform digital, pekerjaan mandiri, dan berbagai layanan berbasis teknologi.
“Banyak kegiatan ekonomi hari ini tidak selalu terlihat dari bangunan usaha formal. Ada usaha rumahan, usaha keluarga, pedagang yang memasarkan barang melalui media sosial, pekerja mandiri, dan pelaku jasa berbasis platform. Jika aktivitas seperti ini tidak tercatat, maka mereka berisiko tidak terlihat dalam perumusan kebijakan,” jelasnya.
Data Ekonomi untuk Kebijakan Tepat Sasaran
BPS mencatat dalam Sensus Ekonomi 2016 terdapat sekitar 26,7 juta usaha dan perusahaan nonpertanian di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat dari sekitar 22,7 juta usaha pada Sensus Ekonomi 2006.
Menurut GREAT Institute, data sensus dapat membantu pemerintah, peneliti, dan akademisi memetakan perubahan pusat kegiatan ekonomi, kebutuhan infrastruktur, perkembangan jenis pekerjaan baru, mobilitas tenaga kerja, hingga kesenjangan kapasitas ekonomi antardaerah.
Hal itu dinilai penting di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada triwulan I-2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan. Namun, angka tersebut belum menggambarkan secara terperinci bagaimana pertumbuhan terdistribusi antarsektor, antarwilayah, dan antarskala kegiatan ekonomi.
“Di balik angka pertumbuhan ekonomi terdapat kondisi masyarakat yang sangat beragam. Ada daerah yang berkembang karena industri, perdagangan, pariwisata, atau ekonomi digital, tetapi ada pula daerah yang menghadapi keterbatasan lapangan kerja dan infrastruktur,” kata Trisha.
Ia menambahkan, data mikro dapat membantu pemerintah memahami perbedaan tersebut sehingga kebijakan tidak dibuat dengan pendekatan seragam. GREAT Institute juga mengimbau masyarakat tidak khawatir memberikan informasi kepada petugas resmi BPS. Data Sensus Ekonomi dijaga kerahasiaannya, tidak digunakan untuk kepentingan perpajakan, dan disajikan dalam bentuk statistik agregat.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau memeriksa rompi, kartu pengenal, dan surat tugas petugas sebelum memberikan informasi. “Kepercayaan masyarakat adalah modal utama statistik yang berkualitas. Masyarakat perlu yakin bahwa data mereka aman dan digunakan untuk kepentingan statistik,” ujar Trisha.
GREAT Institute mendorong BPS, pemerintah daerah, asosiasi usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan tokoh lokal memperkuat sosialisasi dengan bahasa yang sederhana. Masyarakat juga diharapkan menyebarluaskan informasi yang benar dan melaporkan pihak yang mencurigakan serta mengatasnamakan BPS.
“Partisipasi masyarakat dalam Sensus Ekonomi 2026 merupakan kontribusi langsung terhadap kualitas pembangunan Indonesia. Semakin lengkap data yang dikumpulkan, semakin besar kemampuan pemerintah dalam memahami perubahan ekonomi dan mengarahkan pembangunan kepada masyarakat serta wilayah yang paling membutuhkan,” pungkas Trisha. (Fan/P-3)
