Vozinha
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SEPAK bola tidak pernah lepas dari kontroversi. Kontroversi itulah yang membuat sepak bola tidak pernah berhenti untuk dibahas dan menjadikan olahraga itu semakin populer. Cerita tentang Diego Armando Maradona dengan ‘gol tangan’, misalnya, sampai sekarang masih menjadi perdebatan meski sudah 40 tahun berlalu dan pelakunya sudah tiada.

Piala Dunia 2026 yang sudah memasuki babak 32 besar memperpanjang kontroversi itu. Paling menghebohkan ialah penerapan Peraturan Nomor 11 The International Football Association Board (IFAB) tentang off-side pada pertandingan penentuan Iran melawan Mesir.

Iran membutuhkan kemenangan untuk lolos ke babak 32 besar. Dari kemelut di depan gawang Mesir, centre-back Iran Shoja Khalilzadeh mampu menjebol gawang lawannya pada menit 93. Kubu Iran pun euforia menyambut gol kemenangan yang akan membawa mereka melaju ke sistem gugur.

Namun, wasit Szymon Marciniak dari Polandia memutuskan menganulir gol Iran tersebut. Alasannya, Khalilzadeh berada dalam posisi off-side. Ujung kakinya sedikit lebih jauh daripada pemain terakhir kedua Mesir.

Pecinta sepak bola mempertanyakan putusan itu karena terlihat masih ada satu pemain belakang Mesir yang berdiri dekat garis gawang dan ia berada di belakang kiper Mostafa Shobier. FIFA menjelaskan, karena kiper sudah keluar dari garis gawangnya dan berada di depan, pada momen itu, kiper dianggap sebagai pemain kedua terakhir. Bek yang tertinggal di belakang dianggap sebagai pemain terakhir. Itulah yang membuat Khalizadeh berada dalam posisi off-side.

Pasal 11 Aturan Permainan Sepak Bola Internasional itu diakui FIFA jarang diterapkan. Iran harus menerima kenyataan pahit gagal melaju ke babak 32 besar karena aturan tersebut berlaku.

Teori konspirasi pun tidak terelakkan karena timnas Iran mendapat perlakuan buruk selama kejuaraan. Karena perang antara Amerika Serikat dan Iran, pemerintah AS sebagai tuan rumah melakukan tindakan yang diskriminatif. Sepanjang kejuaraan, Mehdi Taremi dan kawan-kawan tidak diizinkan tinggal di AS. Padahal, tiga pertandingan yang mereka mainkan dilakukan di Los Angeles dan Seattle, AS.

Beruntung Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum Pardo yang juga menjadi tuan rumah kejuaraan berbaik hati. Timnas Iran diperkenankan untuk kembali dan tinggal di Tijuana setelah selesai menjalani pertandingan mereka di AS.

Berbagai kesulitan yang diberikan, mulai visa yang terbatas, peralatan tim yang dilarang dibawa, hingga visa yang tidak diberikan kepada ofisial Iran, menunjukkan AS tidak menyambut baik Iran sebagai peserta putaran final. Bahkan Iran diharapkan untuk tersingkir di babak awal. Termasuk dengan penganuliran gol yang mereka butuhkan ke gawang Mesir.

Kemarin malam keputusan wasit yang kontroversial kembali terjadi. Pelanggaran kiper Kongo Lionel Mpasi yang jelas-jelas menahan kaki kapten kesebelasan Inggris Harry Kane tidak dianggap penalti, sementara tackling bek Senegal Lamine Camara terhadap gelandang Belgia Youri Tielemans dianggap penalti. Untuk kasus pertama wasit tidak mau melihat VAR, yang kedua wasit mau melihat VAR.

Cerita Piala Dunia 2026 semakin panjang dengan tersingkirnya dua raksasa sepak bola dunia, Belanda dan Jerman, dari arena. Baik Belanda maupun Jerman tersingkir melalui drama adu tendangan penalti saat menghadapi Maroko dan Paraguai.

Jerman untuk pertama kalinya kalah dalam adu penalti karena tiga algojo mereka, Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tan, gagal menjalankan tugas. Tiba-tiba negara yang sejarah sepak bolanya begitu gemilang seperti tidak memiliki pemain yang memiliki teknik menendang yang baik.

Lebih dramatis lagi nasib yang dialami Belanda. Salah satu dari tiga pemain Belanda yang gagal menjalankan tugas ialah Justin Kluivert. Dua puluh enam tahun yang lalu, ayahnya, Patrick Kluivert, gagal menjadi algojo ke gawang Italia karena tendangannya sama-sama membentur tiang kanan gawang lawan.

Semua cerita seru itu masih akan terus berlanjut. Sabtu dini hari WIB nanti semua orang menantikan dongeng yang akan dituliskan Tanjung Verde (Tanjung Hijau). Negara kepulauan kecil di barat Afrika itu akan menantang juara bertahan Argentina.

Dengan Lionel Messi yang begitu luar biasa dan tim yang tidak banyak berubah sejak Piala Dunia empat tahun lalu, Argentina memang unggul segalanya dari Tanjung Verde. Namun, kiper Tanjung Verde Vozinha begitu luar biasa tangguhnya sehingga bisa membawa negaranya menjadi runner-up di bawah Spanyol untuk menyingkirkan Uruguai dan Arab Saudi.

Ketangguhan Vozinha mengingatkan kita kepada kiper Italia Dino Zoff. Pada usianya yang sama-sama 40 tahun, Zoff mampu memimpin Italia melewati hadangan Argentina dan Brasil untuk memenangi Piala Dunia 1982. Kita lihat saja apakah dongeng Vozinha akan sama dengan Zoff.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *