Luncurkan Buku Pertama di Dunia Rumuskan Masa Depan Digital Social Work di Afrika dan Asia
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Manakala kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), sistem identitas digital, biometrik, big data, dan layanan publik berbasis algoritma semakin menentukan siapa yang memperoleh bantuan sosial, pelayanan kesehatan, maupun perlindungan sosial, muncul satu pertanyaan mendasar: Siapa yang merancang masa depan teknologi tersebut, dan atas perspektif siapa?

Pertanyaan inilah yang dijawab melalui peluncuran buku Digital Social Work Across Africa and Asia: A Decolonial Framework for the Future of the Global South, karya Siddhartha Paul Tiwari, Prof. Dr. Adi Fahrudin, dan Dr. Fentiny Nugroho, yang diterbitkan oleh UI Publishing (Penerbit Universitas Indonesia).

Lebih dari sekadar buku akademik, publikasi ini menandai hadirnya kontribusi intelektual Indonesia dalam percakapan global mengenai hubungan antara teknologi digital, keadilan sosial, dan masa depan kesejahteraan masyarakat di negara-negara Global South.

Buku ini merupakan karya pertama yang secara khusus membangun teori mengenai Digital Social Work dengan menjadikan Afrika dan Asia sebagai satu lanskap intelektual, bukan sekadar objek penerapan teori yang selama ini didominasi perspektif Eropa dan Amerika Utara. Buku ini lahir dari analisis kebijakan lintas negara, kajian dekolonial, serta penelitian lapangan yang melibatkan 234 pekerja sosial garis depan di berbagai negara Afrika dan Asia.

Perspektif Baru  Percakapan Global

Selama puluhan tahun, literatur mengenai transformasi digital dalam pekerjaan sosial sebagian besar disusun berdasarkan pengalaman negara-negara maju yang memiliki infrastruktur digital matang, kepemilikan perangkat pribadi, dan sistem kesejahteraan yang relatif mapan. Namun realitas di Asia dan Afrika sangat berbeda.

Di kawasan ini, teknologi digital berkembang di tengah tantangan kemiskinan, kesenjangan infrastruktur, kepemilikan perangkat yang digunakan bersama dalam keluarga, keberagaman bahasa, serta sejarah kolonial yang masih memengaruhi sistem pelayanan sosial.

Melalui buku ini, Indonesia menawarkan cara pandang baru bahwa transformasi digital tidak boleh dipahami semata-mata sebagai modernisasi teknologi, tetapi sebagai persoalan keadilan sosial, etika, dan martabat manusia.

Buku ini menunjukkan bahwa pekerja sosial di Afrika dan Asia bukanlah penerima pasif teknologi dari negara maju. Mereka justru menjadi pelaku inovasi yang mengembangkan berbagai solusi berbasis kebutuhan lokal, mulai dari penggunaan mobile money untuk penyaluran bantuan sosial, pemetaan digital komunitas, sistem peringatan dini bencana, telekonseling, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan yang berpihak kepada kelompok rentan.

Tiga Konsep Baru yang Lahir dari Indonesia

Salah satu kontribusi paling penting buku ini adalah lahirnya tiga kerangka konseptual baru yang belum pernah diperkenalkan dalam literatur internasional sebelumnya, yaitu:

  • Asia-African Digital Justice Framework, sebuah kerangka yang menjelaskan bagaimana hubungan keluarga, komunitas, budaya, dan infrastruktur digital saling membentuk dalam masyarakat Global South.
  • Communal Digital Safeguarding, konsep yang menawarkan pendekatan baru terhadap perlindungan privasi digital pada rumah tangga yang menggunakan satu perangkat secara bersama-sama, kondisi yang sangat umum di negara berkembang tetapi hampir tidak pernah dibahas dalam literatur Barat.
  • Shared Screen Dilemma, istilah baru yang menjelaskan dilema etis ketika komunikasi rahasia antara pekerja sosial dan klien harus dilakukan melalui telepon yang juga digunakan oleh anggota keluarga lainnya.

Ketiga konsep tersebut lahir bukan dari simulasi laboratorium, melainkan dari pengalaman nyata praktik pekerjaan sosial di lapangan dan diharapkan menjadi referensi baru dalam pengembangan kebijakan maupun pendidikan pekerjaan sosial secara internasional.

Buku ini juga mengingatkan bahwa transformasi digital membawa konsekuensi besar terhadap keadilan sosial. Kesalahan identifikasi biometrik dapat menyebabkan keluarga kehilangan akses terhadap bantuan sosial. Algoritma yang tidak transparan dapat menentukan siapa yang dianggap layak menerima perlindungan.

Data masyarakat miskin dapat berubah menjadi komoditas yang dimanfaatkan tanpa persetujuan mereka. Karena itu, para penulis menegaskan bahwa pertanyaan paling penting bukanlah apakah pelayanan sosial harus menjadi digital.

Pertanyaannya adalah apakah digitalisasi tersebut tetap berpihak pada manusia. Melalui pendekatan dekolonial, buku ini mengajak pemerintah, akademisi, organisasi sosial, dan pengembang teknologi untuk memastikan bahwa inovasi digital selalu dibangun di atas prinsip keadilan, transparansi, akuntabilitas, perlindungan data pribadi, serta penghormatan terhadap konteks budaya lokal.

Terbitnya buku ini juga menjadi tonggak penting bagi dunia akademik Indonesia. Dalam keterangannya melalui salah satu penulisnya, Prof. Dr. Adi Fahrudin, dikenal sebagai Guru Besar Pekerjaan Sosial pertama di Indonesia yang selama puluhan tahun berkontribusi dalam pengembangan ilmu pekerjaan sosial di tingkat nasional maupun internasional.

Adi Fahrudin yang juga Guru Besar Ilmu Pekerjaan Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul, Jakarta ini menyatakan transformasi digital dalam pelayanan sosial bukan lagi pilihan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Namun digitalisasi tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat layanan diberikan atau seberapa canggih teknologi yang digunakan. “Yang jauh lebih penting  apakah teknologi tersebut mampu memperluas keadilan sosial, melindungi kelompok rentan, dan menjaga martabat manusia,” tegas Adi.

Melalui buku ini pihaknya ingin menunjukkan bahwa Afrika dan Asia memiliki pengalaman, nilai, dan pengetahuan yang layak menjadi rujukan dalam membangun masa depan Digital Social Work secara global.”

Adapun penulis utama dan ketua tim Dr Siddhartha Paul Tiwari menyatakan selama bertahun-tahun, literatur Digital Social Work didominasi oleh perspektif negara-negara berpendapatan tinggi. Padahal sebagian besar masyarakat dunia hidup di negara-negara Global South yang menghadapi tantangan sangat berbeda, mulai dari kesenjangan digital, penggunaan perangkat secara bersama, hingga keterbatasan infrastruktur. 

“Buku ini berupaya menggeser cara pandang tersebut dengan menghadirkan teori dan konsep yang lahir dari realitas Afrika dan Asia, sehingga masyarakat Global South tidak hanya menjadi objek penelitian,  juga produsen pengetahuan,” tandas Siddharta.

Sementara itu, Dr. Fentiny Nugroho turut menyatakan kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan tanggung jawab etis. Di era kecerdasan buatan, perlindungan data pribadi, privasi, transparansi algoritma, dan hak masyarakat atas pelayanan sosial yang adil menjadi isu yang tidak dapat diabaikan. “Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi bagi akademisi, praktisi, maupun pembuat kebijakan dalam merancang transformasi digital yang lebih inklusif dan berorientasi pada manusia,” tukas Fentiny.

Perkuat Posisi Indonesia

Bersama Dr. Siddhartha Paul Tiwari dan Dr. Fentiny Nugroho, buku ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teori global,  juga mampu menghasilkan teori yang relevan bagi sebagian besar penduduk dunia.

Keberadaan buku ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan pemikiran mengenai transformasi digital yang berorientasi pada keadilan sosial di kawasan Global South.

Relevan di Era AI

Ketika berbagai negara tengah mempercepat penerapan Artificial Intelligence ( AI). dalam pelayanan publik, bantuan sosial, kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan anak, buku ini hadir pada saat yang amat tepat.

Isu mengenai bias algoritma, etika kecerdasan buatan, perlindungan data, kesenjangan digital, serta hak masyarakat terhadap teknologi kini menjadi agenda global.

Melalui pendekatan yang berakar pada pengalaman Afrika dan Asia, buku ini menawarkan perspektif alternatif yang selama ini hampir tidak pernah hadir dalam diskursus internasional.

Ditujukan bagi Akademisi, Pemerintah, dan Praktisi

Direktur UI Publishing menyatakan sebagai penerbit akademik Universitas Indonesia, UI Publishing berkomitmen menghadirkan karya-karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar akademik internasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai persoalan global. “Penerbitan buku ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi salah satu pusat produksi pengetahuan dunia, khususnya dalam bidang transformasi digital dan pembangunan sosial.”

Buku ini menjadi referensi penting bagi akademisi dan peneliti bidang pekerjaan sosial; mahasiswa program sarjana dan pascasarjana; pembuat kebijakan di bidang kesejahteraan sosial, transformasi digital, dan pemerintahan; organisasi internasional; lembaga kemanusiaan; praktisi pekerjaan sosial; pengembang teknologi yang ingin membangun sistem digital yang inklusif dan berkeadilan.

Melalui karya ini, UI Publishing kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan publikasi ilmiah Indonesia yang memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. “Buku ini bukan hanya berbicara mengenai teknologi. Buku ini berbicara mengenai masa depan pelayanan sosial, hak-hak warga negara, dan bagaimana kecerdasan buatan serta transformasi digital dapat dikembangkan untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.” (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *