
AKSELERASI Puskesmas Indonesia (Apkesmi) berupaya memperkuat penanganan anemia dan stunting melalui program bertajuk Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi Aksi Cegah Anemia dan Stunting).
“Melalui program ini kami ingin memperkuat peran puskesmas dalam melakukan skrining, edukasi, dan intervensi secara lebih terstruktur. Pencegahan anemia dan stunting harus dilakukan sejak dini agar dampaknya terhadap tumbuh kembang anak dapat diminimalkan,” kata Ketua Umum DPP Apkesmi Kusnadi dalam sambutannya saat Launching Puskesmas Sedia di Puskesmas Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (29/6).
Menurut Kusnadi, angka anemia di negara kita masih pada angka 23%, bahkan menurut hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir 19,8%. ”Berbagai upaya sudah dilakukan oleh kita semua. Pemerintah, masyarakat saling berhubung bahu membahu. Kita ada absurd konvergensi yang dilakukan oleh tim terpadu CP3S di setiap daerah. Namun demikian kita masih menemui jalan buntu,” jelas Kusnadi.
Oleh karena itu, kata Kusnadi, puskesmas memiliki peran strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, sehingga penguatan kapasitas layanan primer menjadi langkah penting untuk meningkatkan deteksi dini dan penanganan masalah gizi di tingkat komunitas.
Melalui program yang didukung oleh Danone Indonesia ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan layanan kesehatan primer dalam mencegah anemia dan stunting pada ibu dan anak.
‘Puskesmas Siap SEDIA’ menerapkan pendekatan terintegrasi melalui tiga tahapan utama. Yaitu, pertama, tahap skrining. Dilakukan menggunakan standar antropometri dan kalkulator zat besi untuk membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko anemia dan gangguan pertumbuhan pada anak.
Kedua, tahap edukasi. Dilakukan menggunakan Flipchart SEDIA yang berisi panduan mengenai gizi seimbang, pentingnya pemenuhan zat besi, serta pola makan sehat bagi ibu dan anak.
Ketiga, tahap intervensi. Tahap ini disesuaikan berdasarkan hasil skrining dan rekomendasi tenaga kesehatan sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak.
“Kami berharap melalui implementasi awal di beberapa puskesmas, program ini menjadi upaya strategis penguatan kapasitas layanan primer agar pencegahan Anemia Defisiensi Besi (ADB) dan stunting dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan,” ujar Kusnadi.
BASIS BUKTI ILMIAH
Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Ray Wagiu Basrowi menambahkan bahwa upaya pencegahan stunting dan ADB perlu didukung oleh pendekatan berbasis bukti ilmiah agar intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Pihaknya akan mendukung program tersebut melalui aspek skrining sebagai bagian dari upaya penguatan deteksi dini anemia dan stunting di layanan kesehatan primer.
“Selain untuk memaksimalkan capaian screening di layanan primer, juga untuk memastikan agar supaya efektivitasnya teroptimalkan dengan ada potensi edukasi, dan juga potensi intervensi sedikit mungkin, agar supaya nanti risikonya bisa ditekan, bahkan sampai sejak di tingkat layanan primer,” ujar Ray.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting berada di angka 19,8% atau sekitar 1 dari 5 anak balita di Indonesia masih mengalami stunting. Kondisi ini menegaskan bahwa stunting masih membutuhkan perhatian serius dan upaya pencegahan yang berkelanjutan.
Stunting tidak hanya berbicara soal tinggi badan, tetapi juga berkaitan erat dengan berbagai masalah gizi, termasuk ADB yang masih banyak ditemukan pada kelompok ibu dan anak di Indonesia.
ADB pada anak diketahui dapat mengganggu perkembangan otak dan fungsi kognitif seperti konsentrasi, perhatian, serta daya ingat yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar dan tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.
Hadir juga pada launching itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Lilis Suryani. Lilis menjabarkan bawah Kota Tangerang Selatan memiliki jumlah penduduk yang begitu banyak dengan puskesmas rata-rata membawahi jumlah penduduk di atas 30 ribu.
”Dengan 7 kecamatan, 54 kelurahan, 35 puskesmas, 31 rumah sakit RSU, pemerintah, dan swasta. Dan juga posyandu dengan jumlah 860 posyandu, dengan 35 puskesmas. Jadi kami puskesmasnya belum satu per kelurahan, Karena memang terkait dengan fasus-fasumnya agak sulit. Terima kasih kepada Apkesmi Pusat yang sudah memilih kami Tangerang Selatan menjadi lokasi launching dengan puskesmas SEDIA,” kata Lilies. (H-2)
