
Upaya pemberantasan scam atau penipuan semakin intensif. Sejak dibentuk Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) pada November 2024, sebanyak 515.554 rekening terkait scam telah diblokir dari 998.558 rekening yang dilaporkan. Dana yang diblokir hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp638,9 miliar. Sementara dana yang telah dikembalikan kepada korban sekitar Rp169,3 miliar.
Untuk diketahui, IASC merupakan sebuah unit di bawah Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI). Satgas PASTI ialah forum koordinasi yang terdiri dari otoritas, kementerian dan lembaga yang dibentuk untuk melakukan pencegahan dan penangan aktivitas illegal di sektor keuangan.
Ketua Sekretariat Satgas PASTI Hudiyanto menyebut konsep kolokasi yakni sistem kerja fisik dan digital turut mempercepat penanganan scam yang dilakukan IASC. Dalam sistem kolokasi, perwakilan dari industri perbankan, penyedia sistem pembayaran, dan lembaga terkait ditempatkan bersama dalam satu lokasi dan sistem yang sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Jadi kami mengumpulkan bank-bank yang sering dimanfaatkan para pelaku penipuan untuk berkumpul di satu tempat yang sama. Total 17 bank, 5 sistem pembayaran. Itu efektif untuk bisa mempercepat proses dari laporan yang masuk,” ujarnya dalam pemaparan yang disampaikan di acara Journalist OJK di bilangan Binatro, Tangerang Selatan, Senin (29/6).
Sebagai gambaran, IASC setiap harinya menerima 1.300 laporan. Adapun total laporan yang masuk hingga 31 Mei 2026 mencapai 579.459. Hudiyanto menjelaskan, kolokasi memang tidak dilakukan selama 24 jam. Namun penangan scam di IASC sendiri tetap 24 jam.
“PIC kolokasi dia (bekerja) office hour jam 7-5 sore. Setelah itu mereka switch di PIC yang non-kolokasi. Karena penipuan itu tidak hanya di pagi, siang, sore hari, terkadang juga dinihari,” jelasnya.
Berdasarkan data IASC, lima modus tertinggi scam adalah penipuan transaksi belanja (77.740 laporan), impersonation/fake call (47.269), penipuan investasi (26.649), penipuan kerja (23.910), dan penipuan melalui media sosial (20.469). Laporan tertinggi ada di wilayah Jawa Barat (119.750 laporan), kemudian DKI Jakarta, (84.845), dan Jawa Timur (81.548).
Dalam rencana strategisnya, kata Hudiyanto, IASC ingin melakukan tindakan proaktif dan reaktif. “Di IASC kan tindakan reaktif, ketika sudah terjadi. Ketika belum terjadi, kita ingin membangun suatu sistem untuk bisa melakukan pencegahan atau deteksi dini sebelum terjadinya penipuan tersebut,” paparnya.
Literasi masih jadi PR
Persoalan masih maraknya korban penipuan terutama di ranah daring tidak terlepas dari rendahnya literasi masyarakat. Terutama di ranah jasa keuangan, banyak masyarakat belum memahami produk-produk yang mereka gunakan.
Plt Kepala Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Andi Muhammad Yusuf menyebut indeks literasi keuangan di Indonesia baru 66,46%. Sementara inklusi keuangan sendiri telah mencapai 80,51%.
“Ini menandakan ada gap, orang lebih banyak memanfaatkan produk jasa keuangan dibandingkan mengetahui atau memahami seperti apa karakteristik produk keuangan tersebut. Jadi banyak orang yang pakai tapi tidak paham,” kata Andi dalam kesempatan yang sama.
Dengan situasi tersebut masyarakat rentan terjerat penipuan seperti menjadi korban pinjaman daring ilegal dan lain-lain.
Andi mengatakan saat ini OJK sedang mendorong agar literasi keuangan tidak hanya ada di seminar, sosialisasi, tetapi juga masuk di kurikulum pendidikan formal. “Ada di SMA, SMP, perguruan tinggi. Itu hal yang saat ini kami coba dorong inisiatifnya, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” tandasnya. (E-3)
