
KETEGANGAN antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak di Teluk Persia pada Sabtu (28/6). Aksi saling serang selama tiga hari berturut-turut di sekitar Selat Hormuz ini menguji ketahanan gencatan senjata yang sebelumnya diharapkan dapat mengakhiri permusuhan selama berbulan-bulan.
Militer AS meluncurkan operasi yang menargetkan situs komunikasi, pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, serta kemampuan peletakan ranjau Iran. Serangan ini merupakan gelombang kedua dalam dua hari terakhir sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker minyak di selat tersebut. AS berupaya melemahkan kemampuan Iran dalam menargetkan pelayaran komersial.
Respons Iran dan Ancaman Donald Trump
Media pemerintah Iran melaporkan ada ledakan akibat proyektil di kota pelabuhan Sirik, Bandar Lengeh, serta Pulau Qeshm. Semua merupakan lokasi fasilitas militer. Menanggapi eskalasi ini, Presiden AS Donald Trump melalui pernyataan di media sosial memberikan peringatan keras kepada Teheran.
“Mungkin akan tiba saatnya di mana kita tidak bisa lagi bersikap masuk akal dan terpaksa menyelesaikan pekerjaan militer yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!” tulis Trump.
Pascaserangan AS, Iran mengeklaim telah menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sirene serangan udara dilaporkan berbunyi di wilayah tersebut, sementara otoritas Kuwait menyatakan berhasil mencegat dua rudal balistik. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan akan memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur air yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia.
Ancaman terhadap Kesepakatan Damai
Konflik ini memberikan tekanan besar pada kesepakatan damai awal yang terbebani oleh pertempuran di Libanon dan perselisihan mengenai inspeksi nuklir. Iran menafsirkan bahasa perjanjian tersebut sebagai pemberian wewenang kepada mereka atas Selat Hormuz dengan dalih melakukan pengaturan demi keamanan kapal komersial.
Selama ini, banyak kapal menggunakan rute yang didukung AS di sepanjang pantai Oman dan Emirat Arab. Namun, Garda Revolusi mengarahkan kapal-kapal untuk beralih menggunakan jalur yang melewati perairan Iran.
Kekerasan itu juga membayangi perjanjian kerangka kerja perdamaian antara Israel dan Libanon yang ditengahi AS pada Jumat lalu. Namun, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menolak perjanjian tersebut dan bersumpah untuk terus melawan Israel.
Serangan terhadap Kapal Tanker Kiku
Pada Sabtu, militer AS melaporkan satu drone Iran menghantam kapal tanker Kiku berbendera Panama yang membawa 2 juta barel minyak mentah. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan serangan tersebut mengenai bagian bridge atau pusat komando utama kapal.
Meskipun Iran tidak secara spesifik mengaku bertanggung jawab atas serangan Kiku, media pemerintah mereka menyatakan bahwa Garda Revolusi melakukan serangan terhadap target-target Amerika dan menegaskan kembali kendali atas lalu lintas di selat tersebut.
Akibat insiden ini, Joint Maritime Information Center (lembaga angkatan laut AS-Inggris) menaikkan tingkat ancaman keamanan maritim di Selat Hormuz menjadi substansial. Selain membalas serangan, pasukan AS dilaporkan menembak jatuh dua drone lain yang menargetkan pelayaran komersial pada hari yang sama.
Hingga saat ini, kedua belah pihak masih menunjukkan tanda-tanda ingin menjaga agar pertempuran tetap terkendali demi melanjutkan diskusi implementasi kesepakatan. Namun, tantangan politik tetap besar, terutama karena Iran bersikeras untuk mengumpulkan pendapatan dari kapal komersial yang melintas dan menolak menyerahkan program nuklirnya. (Wall Street Journal/I-2)
