Filantropi Islam Jadi Alternatif Melawan Kekeringan Ekstrem dan Krisis Energi
Sedekah Energi di DI.(Dok.Istimewa)

INDONESIA kembali dipaksa berhadapan dengan wajah garang perubahan iklim (climate change) dan krisis energi. Selain potensi kekeringan yang akan terjadi pada 2025 hingga awal 2026, krisis energi juga mengancam dengan tersendatnya pasokan Migas imbas situasi di Timur Tengah yang masih memanas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berpeluang 62% berkembang menjadi kategori kuat sepanjang 2026. Fenomena ini menyebabkan musim kemarau menjadi jauh lebih kering dan berlangsung lebih panjang (diprakirakan hingga awal 2027), dengan puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026. 

Fenomena El Niño yang mengancam sumur-sumur warga mengering, ancaman gagal panen, dan kelompok masyarakat miskin menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampaknya.  

Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana menyampaikan, di tengah bayang-bayang krisis air dan cuaca ekstrem ini, sebuah gerakan perlawanan berbasis spiritual sedang tumbuh dari akar rumput. “Arah strategis gerakan ke depan adalah membangun filantropi Islam yang jauh lebih responsif dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim dan transisi energi yang berkeadilan,” kata dia, Rabu (24/6).

Aksi nyata ini dimotori oleh MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact), sebuah gerakan kolaboratif yang sejak 2021 konsisten menerjemahkan doktrin agama menjadi aksi penyelamatan lingkungan. 

Umat Muslim di Indonesia telah memulai untuk melakukan “Hijrah Ekologis”—sebuah transisi kolektif untuk mengubah dana ibadah menjadi solusi konkret menghadapi bencana iklim. Salah satu langkah yang dilakukan adalah lewat program Wakaf Hutan yang dirintis sejak 2023, yang berfokus pada akar masalah kekeringan, yaitu rusaknya daerah tangkapan air.  

MOSAIC, kata dia, mendobrak pemahaman konvensional bahwa wakaf hanya boleh berwujud bangunan fisik seperti madrasah atau makam. Melalui Wakaf Hutan, instrumen keuangan Islam digunakan secara sistematis untuk membeli dan menjaga hutan tetap lestari.

Di musim kemarau ekstrem seperti sekarang, keberadaan hutan yang terjaga adalah satu-satunya jaminan agar cadangan air tanah di sekitar pemukiman warga tidak habis tersedot. Menjaga fungsi ekologis ini kini diposisikan memiliki legitimasi spiritual yang kuat setara ibadah jariyah. 

KADER MUDA

Di sisi lain, guna menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks, MOSAIC juga menyadari perlunya kesiapan sumber daya manusia, terutama anak-anak muda. Melalui Bengkel Hijrah Iklim, mereka telah melatih generasi muda Muslim sejak 2022 untuk menjadi trusted messenger. 

Para kader muda ini turun ke komunitas dan pesantren untuk mengomunikasikan mitigasi bencana iklim serta mendorong adopsi kurikulum lingkungan.  

Di ruang siber, narasi ini diperluas oleh platform Umat Untuk Semesta. Menggunakan gaya komunikasi yang reflektif dan dekat dengan anak muda, platform ini mengubah ketakutan publik atas ancaman El Niño menjadi gelombang partisipasi digital dan aksi nyata. 

El Niño mungkin mengeringkan tanah-tanah di Indonesia, tetapi gerakan Hijrah Ekologis dari MOSAIC membuktikan bahwa ia tidak bisa mengeringkan rasa solidaritas dan iman umat untuk menjaga semesta.

Aktivis muda pro iklim dari Depok, Jawa Barat, Kholida mengatakan sudah banyak generasi muda yang sadar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup guna menghadapi krisis iklim. “Melalui berbagai gerakan kolaboratif, anak-anak muda kini tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktif mengambil peran sebagai solusi atas berbagai permasalahan ekologis yang terjadi saat ini,” kata Kholida, yang juga merupakan alumni program Bengkel Hijrah pada tahun 2022 lalu. 

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anak muda menjadi solusi atas permasalahan lingkungan hari ini. Salah satu aksi nyata yang berhasil diinisiasi adalah pembentukan gerakan pemuda lingkungan. 

“Melalui gerakan ini, mereka menggelar Future Green Leaders Camp, sebuah pelatihan lingkungan hidup yang mempertemukan 30 perwakilan anak muda terpilih dari seluruh penjuru Indonesia,” ungkap dia.

TINDAKAN NYATA

Ketua Dewan Pembina MOSAIC, Dr. Abdul Gaffar Karim, M.A., menilai, perubahan iklim dan krisis energi saat ini adalah tantangan moral yang nyata. “Momen ini menjadi waktu krusial untuk menggeser kepedulian umat dari yang bersifat simbolik menuju tindakan nyata merawat bumi,” ungkap dia.

El Niño mungkin mengeringkan tanah-tanah di Indonesia, tetapi gerakan Hijrah Ekologis dari MOSAIC membuktikan bahwa ia tidak bisa mengeringkan rasa solidaritas dan iman umat untuk menjaga semesta. 

Salah satu dampak paling terasa dari kemarau ekstrem akibat El Niño adalah melonjaknya biaya hidup dan energi, sementara pendapatan masyarakat pedesaan justru merosot akibat gangguan penghidupan. 

Oleh sebab itu, program Sedekah Energi milik MOSAIC menjadi sangat bermanfaat sebagai bantalan sosial-ekologis. Melalui program ini, dana sedekah umat dialihkan untuk memasang panel surya di masjid-masjid dan pesantren. Masjid-masjid yang terafiliasi dengan MOSAIC justru mampu mandiri energi menggunakan panas matahari yang melimpah.  

“Sedekah Energi tidak hanya bertujuan menekan emisi, tetapi juga memperkuat fungsi rumah ibadah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat di tengah krisis,” imbuh dia.

Saat ini, program tersebut telah menjadi oase di wilayah terdampak seperti Sembalun (Nusa Tenggara Barat) dan Bantul (DIY), serta tengah dikembangkan ke Garut (Jawa Barat). Ke depan, Sedekah Energi bekerja sama dengan yayasan wakaf al azhar & kementerian agama mengembangkannya di Aceh Tamiang, Cirebon, dan Sumatera Utara. (E-2)

 

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *