
PSIKOLOG klinis Kasandra Putranto mengingatkan perilaku posesif pasangan perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda bahaya dalam hubungan. Menurutnya, perilaku tersebut bisa mengarah pada hubungan yang tidak sehat, bahkan kekerasan dalam hubungan.
“Dalam psikologi hubungan, perilaku tersebut dapat menjadi tanda bahaya yang mengarah pada hubungan yang tidak sehat atau bahkan kekerasan dalam hubungan,” kata Kasandra ketika dihubungi dari Jakarta, Rabu (24/6).
Kasandra, psikolog lulusan Universitas Indonesia, menjelaskan hubungan yang sehat semestinya dibangun atas dasar rasa hormat, kepercayaan, serta penghargaan terhadap batasan pribadi masing-masing. Ketika salah satu pihak mulai mendominasi dan mengurangi otonomi pasangannya, kondisi itu dapat menjadi sinyal bahwa hubungan tidak lagi berjalan sehat.
Posesif Kerap Tampak seperti Perhatian
Dalam konsep kontrol koersif, Kasandra menjelaskan individu yang berperilaku posesif dapat secara bertahap membatasi kebebasan pasangan. Bentuknya bisa berupa pengawasan terus-menerus, isolasi sosial, intimidasi, hingga pengaturan aktivitas sehari-hari.
“Pada tahap awal, perilaku ini sering tampak sebagai perhatian, misalnya selalu ingin mengetahui keberadaan pasangan, meminta laporan setiap aktivitas, atau menunjukkan pengungkapan berlebihan dengan alasan khawatir,” katanya.
Menurut Kasandra, penting bagi seseorang untuk memahami bahwa perilaku posesif sering muncul secara halus. Karena kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang, korban bisa tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam pola hubungan yang mengarah pada kekerasan.
Tidak Selalu Berupa Kekerasan Fisik
Kasandra menegaskan perilaku posesif tidak selalu berujung pada kekerasan fisik. Dalam banyak situasi, tindakan posesif juga bisa hadir dalam bentuk kekerasan psikologis, seperti manipulasi, ancaman terselubung, dan pengendalian aktivitas pasangan.
Perilaku tersebut dapat berkembang secara bertahap hingga membuat korban merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Kondisi ini berbahaya karena korban bisa kehilangan kemandirian dalam menentukan pilihan hidupnya.
“Karena terjadi secara bertahap, korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam hubungan yang mengandung unsur kekerasan,” kata Kasandra.
Tanda-tanda Perilaku Posesif yang Perlu Diwaspadai
Berdasarkan penjelasan Kasandra, sejumlah perilaku berikut dapat menjadi tanda hubungan mulai mengarah pada pola tidak sehat:
- Pasangan selalu menuntut mengetahui keberadaan Anda.
- Pasangan meminta laporan atas setiap aktivitas.
- Pasangan membatasi pergaulan atau mengisolasi Anda dari lingkungan sosial.
- Pasangan mengatur kegiatan sehari-hari secara berlebihan.
- Pasangan menggunakan alasan khawatir untuk mengontrol keputusan Anda.
- Pasangan melakukan manipulasi atau menyampaikan ancaman terselubung.
Apabila pola tersebut terjadi berulang dan membuat seseorang merasa takut, tertekan, atau kehilangan kebebasan, hubungan tersebut perlu dievaluasi secara serius.
Kasus Kekerasan Menjadi Pengingat
Peringatan mengenai perilaku posesif juga mengemuka di tengah kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi baru-baru ini. Seorang perempuan berusia 29 tahun dilaporkan selama sekitar tiga tahun disekap dan dianiaya oleh kekasihnya yang berusia 30 tahun di wilayah Kabupaten Bandung.
Perempuan tersebut dilaporkan hilang kontak dengan keluarga sejak 2023. Ia kemudian ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah diduga mengalami penyekapan dan penganiayaan secara kejam oleh sang pacar.
Kasandra menekankan bahwa hubungan sehat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kebebasan, rasa aman, dan kemampuan mengambil keputusan. Karena itu, perilaku posesif perlu dikenali sejak awal agar tidak berkembang menjadi pola kekerasan yang lebih serius. (Ant/H-3)
