
TOKOH media dunia, Oprah Winfrey, memanfaatkan penampilannya di ajang Cannes Lions International Festival of Creativity untuk mengajak para kreator menggunakan platform mereka demi tujuan yang lebih besar daripada sekadar popularitas dan keuntungan.
Dalam sesi diskusi bersama Ketua Festival, Phil Thomas, di Lumière Theatre, Winfrey menerima penghargaan LionHeart Award dan berbicara tentang filantropi, warisan hidup, serta perjalanan luar biasanya dari seorang gadis miskin di Mississippi hingga menjadi salah satu figur media paling berpengaruh di dunia.
Selain membahas sekolah yang ia dirikan di Afrika Selatan dan masa kecilnya yang penuh keterbatasan, Winfrey juga mengenang wawancaranya yang terkenal dengan mendiang Whitney Houston.
Menurut Winfrey, salah satu wawancara paling berkesan terjadi ketika ia berbicara secara pribadi dengan Houston sebelum kamera mulai merekam.
“Kami saling menyapa, lalu saya menghentikan kamera dan mengajaknya berbicara di belakang panggung. Saya bertanya apa yang ingin ia capai dari wawancara itu, dan saya juga menyampaikan harapan saya. Itu menjadi salah satu wawancara paling kuat yang pernah saya lakukan,” ujar Winfrey dikutip dari Variety.
Ia kemudian mengungkapkan bahwa Houston pernah kembali tampil di acaranya setelah mengalami kambuh dalam perjuangannya melawan kecanduan narkoba.
Winfrey menceritakan bahwa pada penampilan terakhir Houston di acaranya, sang penyanyi terjatuh dari panggung. Saat itu, ia menyadari bahwa jika insiden tersebut tersebar ke publik, dampaknya bisa sangat merugikan Houston.
“Saya tahu jika cerita itu keluar, hidupnya bisa hancur. Meskipun ada penonton dan banyak kamera, saya memohon kepada mereka agar tidak menyebarkan foto-foto tersebut. Mereka menghormati permintaan itu. Hal seperti itu mungkin tidak akan terjadi di era media sosial saat ini,” kata Winfrey.
Houston meninggal dunia pada Februari 2012 dalam usia 48 tahun akibat tenggelam secara tidak sengaja.
Dalam kesempatan yang sama, Winfrey juga mengingatkan para kreator bahwa pengaruh yang mereka miliki membawa tanggung jawab besar.
“Apa yang Anda lakukan bukan hanya soal menghasilkan uang atau membangun pengaruh. Tugas terbesar Anda di dunia ini adalah menjadi manusia terbaik yang bisa Anda capai, bukan sekadar kreator terbaik, pembawa acara terbaik, atau podcaster terbaik,” ujarnya.
Sebagian besar percakapan juga membahas asal mula semangat filantropi Winfrey. Ia mengenang masa kecilnya ketika keluarganya tidak memiliki apa-apa saat Natal hingga sekelompok biarawati datang membawa hadiah.
“Bukan hadiahnya yang paling berkesan, tetapi fakta bahwa mereka datang. Mereka membuat seorang gadis berusia 12 tahun merasa dirinya berarti,” kenangnya.
Pengalaman itu kemudian menginspirasinya mendirikan Oprah Winfrey Leadership Academy for Girls di Afrika Selatan. Menurutnya, sekolah tersebut lahir dari keinginannya untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak yang tumbuh dalam kondisi serupa dengan dirinya.
“Saya adalah seorang gadis miskin di Kosciusko, Mississippi, hidup di jalan tanah tanpa air mengalir dan tanpa listrik. Ketika saya melihat anak-anak perempuan di desa-desa Afrika dengan kondisi yang sama, rasanya seperti melihat cerminan diri saya sendiri,” katanya.
Winfrey mengungkapkan bahwa sebuah survei terbaru dari University of Cape Town menunjukkan bahwa sekolah tersebut berhasil membantu memutus rantai kemiskinan bagi para siswinya.
“Mereka mengatakan bahwa apa yang kami lakukan di sekolah ini telah menghentikan siklus kemiskinan. Itulah tujuan saya sejak awal, mengubah arah kehidupan mereka,” ujarnya.
Ia juga mengenang nasihat dari sahabat sekaligus mentor dekatnya, Maya Angelou, tentang makna warisan hidup. Menurut Winfrey, saat ia mengatakan bahwa sekolah tersebut akan menjadi warisan terbesarnya, Angelou menegurnya dengan lembut.
“‘Warisanmu bukanlah namamu yang terukir di sebuah bangunan. Warisanmu adalah setiap kehidupan yang berhasil kamu sentuh,’ kata Maya kepada saya,” tutur Winfrey.
Di akhir sesi, Winfrey menyampaikan pesan emosional tentang perjalanan hidupnya yang tidak pernah diperkirakan banyak orang.
“Tidak ada yang menyangka seorang gadis kulit hitam yang lahir di Mississippi pada tahun 1954 akan mencapai semua ini. Namun saya ada di sini hari ini,” katanya yang disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
“Tidak peduli bagaimana Anda sampai di sini, fakta bahwa Anda hidup dan berada di sini adalah sebuah keajaiban,” pungkasnya. (Z-4)
