Ngeri! Spesies Laba-laba Baru di Australia Punya Jaring Ketapel Secepat Jet Tempur
Laba-laba ini dijuluki “ballista” karena kecepatan dan kekuatan yang digunakannya untuk melemparkan mangsa ke dalam jaringnya.(Macquarie University)

SEBUAH spesies laba-laba baru yang unik ditemukan di pedalaman hutan hujan tropis Queensland utara, Australia. Predator nokturnal ini memiliki metode berburu yang tidak biasa: merajut perangkap sutra berbentuk ketapel untuk menjebak satu jenis semut agresif yang terkenal berbahaya bagi arachnida.

Meski belum diberi nama ilmiah secara resmi, para ilmuwan menjuluki laba-laba kecil ini dengan sebutan “Ballista”. Nama ini diambil dari senjata kuno yang digunakan untuk melempar batu dalam pertempuran.

Tim peneliti dari Macquarie University, Australia, menghabiskan waktu selama 10 malam di hutan untuk merekam perilaku laba-laba ini menggunakan kamera inframerah berkecepatan tinggi. Berdasarkan temuan yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, laba-laba Ballista hidup di pepohonan yang dikuasai oleh semut pohon hijau (Oecophylla smaragdina) yang sangat teritorial.

Laba-laba yang masuk dalam genus Propostira ini pertama kali diamati oleh Greg Anderson, seorang peneliti biomedis sekaligus fotografer laba-laba. Pada siang hari, laba-laba ini bersembunyi di balik dedaunan. Namun saat malam tiba, ia akan turun sekitar 50 cm ke daun, ranting, atau lantai hutan untuk mulai membangun perangkapnya.

Proses pembuatan jebakan ini memakan waktu berjam-jam. Laba-laba Ballista akan membuat titik jangkar menggunakan garis sutra, lalu menyusun puluhan garis tegangan berbentuk kerucut yang dilapisi jaring tipis.

Begitu semut pohon hijau mendekat dan menggigit jebakan tersebut, mekanisme ketapel akan langsung terpicu. Kekuatan jaring ini melontarkan semut ke arah jaring laba-laba yang lebih besar di atasnya dengan akselerasi yang sangat luar biasa.

“Kekuatan perangkap yang luar biasa tinggi ini melontarkan semut ke jaring yang lebih besar pada kecepatan 15 kali gaya g-force paling ekstrem yang dialami oleh pilot jet,” ujar pemimpin penelitian, Prof. Ajay Narendra.

Uniknya, semut pohon hijau menjadi satu-satunya mangsa yang ditangkap oleh laba-laba ini. Peneliti menduga laba-laba Ballista menambahkan feromon pada jaringnya untuk memikat dan memancing amarah semut tersebut. Dr. Jonas Wolff, salah satu peneliti, menjelaskan alasan di balik adaptasi ekstrem ini.

“Mekanisme perangkap ini tampaknya berevolusi sebagai cara yang sangat khusus untuk memungkinkan laba-laba ‘memilih’ mangsa yang berpotensi berbahaya satu demi satu, lalu membawanya ke jarak yang aman dari jalur dan sarang semut,” kata Dr. Jonas Wolff.

Semut diketahui memiliki pertahanan kimia, kemampuan menyengat, serta dapat memanggil koloninya dengan cepat untuk melawan predator. Oleh karena itu, spesialisasi jebakan ini menjadi penemuan yang sangat langka di dunia satwa.

“Ini tampaknya menjadi satu-satunya kasus di mana jaring laba-laba dirancang untuk menangkap satu spesies mangsa saja, dan di mana mekanismenya dipicu oleh mangsa itu sendiri, bukan oleh predatornya,” pungkas Narendra. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *