
AMERIKA Serikat resmi menangguhkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran selama 60 hari menyusul dimulai hari pertama perundingan kesepakatan damai. Langkah ini diambil setelah kedua belah pihak menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pekan lalu yang memicu dialog langsung antara Washington dan Teheran.
Presiden AS Donald Trump menegaskan akan mengambil tindakan tegas jika Iran tidak mematuhi poin-poin kesepakatan. “Saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan jika Iran tidak setia pada sisi perjanjian mereka,” ujar Trump.
Stabilitas Selat Hormuz dan Pasar Energi
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan awal ini ialah pembentukan jalur komunikasi terkait Selat Hormuz. Tujuannya menghindari insiden dan salah komunikasi guna menjamin jalur aman bagi kapal komersial. Sebelumnya, Iran menutup selat tersebut–jalur bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia–setelah serangan AS-Israel pada akhir Februari lalu memicu lonjakan harga energi global.
Mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa negosiator utama akan melapor secara berkala kepada Komite Tingkat Tinggi. Kelompok kerja khusus juga dibentuk untuk fokus pada isu nuklir, sanksi, serta mekanisme pemantauan dan penyelesaian sengketa.
Silang Pendapat Mengenai Aset US$12 Miliar
Meski sanksi minyak ditangguhkan, kedua negara masih berselisih mengenai detail kesepakatan lain. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa AS setuju untuk mencairkan aset Iran senilai US$12 miliar (Rp213 triliun). Namun, Washington memberikan narasi berbeda.
Wakil Presiden AS JD Vance dan Presiden Trump menyatakan bahwa dana yang dicairkan akan ditempatkan dalam akun escrow yang dikendalikan AS. Dana tersebut hanya boleh digunakan untuk tujuan kemanusiaan, yakni membeli produk pertanian dan medis eksklusif dari petani Amerika.
Klaim Donald Trump: “Uang tersebut akan digunakan untuk membeli jagung, gandum, dan kedelai dari petani hebat kita. Ini krisis kemanusiaan dan saya merasa perlu membantu sekarang sebelum terlambat.”
Sebaliknya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa aset tersebut akan digunakan dengan kebebasan mutlak oleh Iran untuk membeli komoditas apa pun yang dibutuhkan bangsa.
Inspeksi Nuklir: Kesepakatan atau Klaim Sepihak?
Isu nuklir tetap menjadi titik api utama. JD Vance mengeklaim Iran setuju untuk mengizinkan kembali inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) masuk ke negara tersebut. Trump bahkan menyebut Iran menyetujui inspeksi tingkat tertinggi untuk jangka waktu yang sangat lama.
Namun, Teheran memberikan bantahan keras pada Selasa (23/6). Baghaei menyatakan belum ada jadwal jelas bagi inspektur IAEA untuk memeriksa fasilitas nuklir Iran. Saat ini, Iran diyakini memiliki stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen, mendekati tingkat senjata (90 persen).
Dampak Ekonomi Penangguhan Sanksi
Penangguhan sanksi selama 60 hari ini membebaskan sekitar 67 juta barel minyak Iran yang saat ini tersimpan di kapal-kapal tanker di Teluk. Selama ini, Iran terpaksa menjual minyak dengan diskon besar untuk menghindari sanksi. Dengan kebijakan baru ini, Iran dapat menjual minyak dengan harga pasar penuh, yang menjadi suntikan besar bagi ekonomi mereka.
Meskipun kemajuan teknis dilaporkan berjalan baik di Jenewa, nasib akhir kesepakatan ini masih bergantung pada negosiasi mengenai stok uranium dan detail teknis pencabutan sanksi secara permanen yang harus disetujui oleh Dewan Keamanan PBB. (Al Jazeera/I-2)
