
BAGI penyanyi Afgan, musik bukan lagi sekadar profesi atau pengisi waktu luang. Musisi bersuara lembut yang khas ini mengungkapkan pandangan mendalamnya mengenai arti musik dalam hidupnya. Bagi Afgan, musik adalah sebuah ruang aman yang selalu menyambutnya dalam kondisi emosional apa pun.
“Saya merasa seperti berada di rumah setiap kali mendengarkan musik,” ujar Afgan saat ditemui di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Selasa (23/6).
Ia merasa bahwa esensi rumah tidak melulu soal bangunan fisik, melainkan sebuah tempat bernaung untuk segala rasa yang sedang bergejolak di dalam dada mau itu sedih, senang, bingung, maupun takut.
Melalui untaian nada dan lirik, Afgan mengaku bisa menemukan ruang yang selalu menerima dan memahami kondisinya kapan saja tanpa syarat. “Saya bisa selalu kembali ke musik dan merasa selalu dimengerti. Musik sudah seperti teman selamanya untuk saya,” lanjut penyanyi berusia 37 tahun itu.
Soroti Tantangan Konser Lokal
Di balik kecintaannya yang mendalam terhadap dunia tarik suara, Afgan tidak menampik adanya keresahan yang mengganjal di hatinya terkait industri musik tanah air.
Ia secara khusus menyoroti bagaimana perjuangan besar di balik layar dalam menggelar sebuah konser musik lokal sering kali kurang mendapatkan apresiasi yang sebanding jika dibandingkan dengan gelaran musisi internasional.
Afgan menyampaikan harapannya agar masyarakat bisa memberikan dukungan yang lebih besar untuk karya-karya anak bangsa.
“Saya berharap bisa lebih banyak orang lagi yang menyadari bahwa membuat sebuah persembahan konser musik di Indonesia, khususnya konser musik lokal, perjuangannya sangat berat,” ungkapnya.
Ia menyayangkan kecenderungan publik yang terkadang jauh lebih royal dan menghargai pertunjukan dari luar negeri ketimbang mengapresiasi musisi dari negeri sendiri.
“Saya ingin orang-orang menyadari bahwa kadang-kadang kita lebih menghargai pertunjukan yang dilakukan oleh artis luar negeri. Sementara untuk artis kita sendiri, kita kurang memberikan apresiasi yang seharusnya mereka dapatkan,” tambahnya.
Menurutnya, potensi industri musik lokal sangat luar biasa besar untuk terus berkembang dan bersaing di kancah yang lebih luas jika ekosistemnya saling mendukung.
“Musik anak bangsa harus lebih didukung lagi. Karena semakin didukung, musik kita akan semakin berkembang dan semakin bisa membuat bangga negara,” jelas Afgan.
Ia percaya bahwa kekuatan musik yang besar mampu menyentuh dan menjangkau banyak orang jika masyarakat tidak memandang sebelah mata karya lokal.
“Sebab, musik itu sangat kuat. Musik adalah alat yang kuat untuk menjangkau banyak orang, jadi jangan pernah dianggap remeh,” tegasnya.
Menyikapi Fenomena Musik AI
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tengah merambah industri musik secara masif. Bahkan banyak puluhan lagu milik musisi Indonesia digunakan untuk melatih sistem AI, dan Afgan menjadi salah satu penyanyi yang karyanya turut diambil.
Menanggapi fakta bahwa suaranya dan lirik lagunya dijadikan bahan training AI tanpa kendali penuh darinya, Afgan bersikap cukup santai dan tidak merasa terlalu khawatir.
“Itu sesuatu yang tidak bisa saya kontrol. Karena sekali saya merilis sebuah lagu, lagu tersebut bisa diapa-apakan saja oleh orang lain,” kata Afgan.
Ia memaparkan berbagai kemungkinan manipulasi digital yang bisa terjadi pada karya-karyanya di era teknologi saat ini.
“Lagu itu bisa di-remix, di-edit, atau dimodifikasi sedemikian rupa. Salah satunya bisa menjadi bahan buat AI untuk membuat lagu baru dengan menggunakan suara saya,” paparnya.
Meski demikian, Afgan merasa fenomena ini adalah risiko global yang harus dihadapi oleh seluruh pelaku industri musik saat ini tanpa perlu ditakuti berlebihan.
“Namun, semua penyanyi pasti mengalami hal itu. Saya sendiri tidak terlalu khawatir jika kondisinya seperti itu,” ujarnya santai.
Ia percaya bahwa sekadar hasil ciptaan kecerdasan buatan tidak akan bisa menggantikan kedalaman rasa dari sebuah karya yang dibuat langsung oleh manusia. Menurutnya, para pendengar musik saat ini sudah cukup cerdas untuk membedakan mana karya asli dan mana yang instan.
“Karena semua orang pasti tahu bahwa hasil AI itu hanya sebatas kecerdasan buatan, bukan sebuah karya tiruan yang benar-benar saya rilis secara resmi. Jadi, masyarakat sekarang sudah bisa membedakan mana yang buatan AI dan mana yang asli,” ungkap Afgan.
Pada akhirnya, optimisme tersebut menegaskan bahwa di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan, sentuhan emosional seorang musisi tetap memiliki ruang tersendiri yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma.
