
MAYORITAS paus bungkuk dikenal sebagai penjelajah samudra yang hebat. Setiap tahun, mereka bermigrasi ribuan mil dari perairan dingin tempat mencari makan ke perairan hangat untuk berkembang biak. Namun, sebuah kelompok kecil di lepas pantai Oman memilih jalan hidup yang berbeda. Paus bungkuk Laut Arab ini menetap di wilayah yang sama sepanjang tahun, dan kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 82 ekor saja.
Melalui studi terbaru menggunakan teknologi pelacakan satelit, tim ilmuwan berhasil memetakan rute perjalanan, kedalaman selam, hingga perilaku unik populasi yang masuk dalam daftar terancam punah ini.
Penulis utama studi tersebut, Dr. Andrew Willson, seorang ilmuwan laut dan direktur pendiri Future Seas Global SPC, menjelaskan temuan timnya. “Kami menunjukkan paus bungkuk Laut Arab sebagian besar tinggal di wilayah jelajah yang sangat terbatas di sepanjang pantai Oman,” kata Dr. Willson.
Antara tahun 2014 hingga 2017, tim peneliti memasang 14 tag satelit pada paus-paus tersebut. Tag ini berhasil merekam data selama total 749 hari dan mengirimkan lebih dari 1.800 titik lokasi. Hasilnya mengejutkan: wilayah jelajah mereka hanya membentang di sepanjang pantai Laut Arab bagian barat, dari Yaman utara hingga Oman selatan, sebuah jalur perairan yang lebarnya hanya beberapa ratus mil.
Paus bungkuk Laut Arab diketahui terpisah dari kerabat selatan mereka sekitar 70.000 tahun yang lalu. “Hal ini secara mendasar menantang pemahaman kita tentang ekologi paus bungkuk,” ujar Dr. Willson. “Pada satu titik dalam sejarah mereka, paus bungkuk Laut Arab berhasil beradaptasi dengan perubahan radikal dalam lingkungan dan strategi mencari makan mereka.”
Keberadaan angin muson musiman menjadi kunci utama yang mengubah Laut Arab bagian barat menjadi salah satu zona upwelling (naiknya massa air kaya nutrisi) tersubur di planet ini. Kelimpahan makanan inilah yang membuat mereka bisa makan, kawin, dan membesarkan anak tanpa perlu bermigrasi.
Selama bertahun-tahun, mengamati paus-paus ini sangatlah sulit. “Menjelang studi ini, kami memiliki begitu banyak pertanyaan tentang kehidupan sehari-hari paus bungkuk misterius yang ditemukan di Laut Arab, di mana kami hanya mendapatkan sekilas pandangan singkat selama berjam-jam survei perahu yang panjang dan panas,” ungkap Dr. Willson. “Menandai paus-paus ini memungkinkan kami membuka misteri laut dan memantau secara online untuk melihat di mana mereka berada setiap hari.”
Data menunjukkan bahwa Teluk Masirah menjadi pusat aktivitas utama dengan mencakup 57% lokasi yang dilacak, diikuti oleh Teluk Hallaniyat sebesar 18%. Sebagian besar paus melakukan penyelaman dangkal di bawah 20 meter untuk mengejar mangsa seperti sarden di atas landas kontinen. Namun, penyelaman yang lebih dalam juga terdeteksi di dekat ngarai bawah laut, yang diduga untuk mencari krill.
Menariknya, ada satu paus betina bernama Luban yang melakukan pergerakan tidak biasa. Dia terekam menyeberangi Laut Arab menuju Goa di India barat, lalu bergerak ke selatan ke Teluk Mannar sebelum akhirnya kembali lagi ke Oman. Perjalanan pulang-pergi sejauh 7.000 kilometer ini menjadi bukti langsung pertama bahwa populasi ini mampu melintasi seluruh lautan.
“Selalu menjadi kelegaan tersendiri ketika kami melihat kembali paus-paus luar biasa ini mengingat ukuran populasinya yang terbatas,” kata Dr. Willson saat mengetahui Luban telah kembali ke Teluk Masirah.
Meskipun dihormati oleh komunitas nelayan lokal selama turun-temurun, paus-paus ini menghadapi ancaman besar dari modernisasi, seperti tabrakan dengan kapal kargo dan jeratan jaring ikan. Sekitar dua pertiga dari mereka bahkan telah memiliki luka bekas jeratan jaring.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Marine Science ini diharapkan dapat memperkuat upaya konservasi lintas batas. Suaad Al Harthi, direktur eksekutif Environment Society of Oman (ESO), menyatakan, “Kami berharap adaptabilitas mereka akan membantu paus bungkuk Laut Arab di masa-masa penuh ketidakpastian ketika wilayah kekuasaan mereka dipengaruhi oleh perubahan iklim yang dipercepat.” (Earth/Z-2)
