Waspada Hipertensi Usia Muda: Penyebab, Data SKI, dan Cara Pencegahan
Ilustrasi(magnific)

PENYAKIT hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Tren medis terbaru menunjukkan pergeseran signifikan di mana kelompok usia produktif, mulai dari 20 hingga 30-an tahun, semakin rentan terpapar kondisi yang sering dijuluki sebagai silent killer ini.

Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, mengungkapkan bahwa gaya hidup tidak sehat menjadi pemicu utama lonjakan kasus ini. Menurutnya, obesitas, konsumsi garam berlebih, alkohol, hingga kurangnya aktivitas fisik adalah faktor risiko yang nyata di depan mata.

Bahaya Tersembunyi Minuman Berenergi

Salah satu poin krusial yang disoroti Anindia adalah kebiasaan mengonsumsi minuman berenergi (energy drink) di kalangan anak muda. Kandungan kafein dan gula yang tinggi dalam minuman tersebut dapat memicu peningkatan denyut jantung secara instan.

“Lama-kelamaan bila kita mengonsumsi energy drink secara terus-menerus, akan terjadi peningkatan tekanan darah dan kekakuan pembuluh darah. Efek jangka panjangnya bisa menimbulkan hipertensi,” ujar Anindia di Jakarta, Senin (22/6).

Data Prevalensi Hipertensi di Indonesia

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan, angka kejadian hipertensi pada kelompok muda tergolong cukup tinggi. Jika dahulu tekanan darah di atas 140/90 mmHg lazim ditemukan pada usia 50 tahun ke atas, kini potretnya telah berubah.






Kelompok Usia Prevalensi Hipertensi
18 – 24 Tahun Sekitar 10%
25 – 30-an Tahun Sekitar 17%

Langkah Pencegahan dan Penanganan

Kabar baiknya, risiko hipertensi pada usia muda dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup yang disiplin. Dr. Anindia menyarankan beberapa langkah preventif sebagai berikut:

  • Pola Makan: Menerapkan diet rendah garam.
  • Aktivitas Fisik: Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.
  • Hindari Zat Adiktif: Tidak merokok dan tidak menggunakan rokok elektrik (vape).
  • Kontrol Berat Badan: Menjaga indeks massa tubuh agar terhindar dari obesitas.

Catatan Medis: Bagi individu yang tekanan darahnya tetap tinggi meski telah memperbaiki gaya hidup, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter. Penggunaan obat anti-hipertensi mungkin diperlukan, namun dosisnya dapat dikurangi secara perlahan jika faktor risiko seperti obesitas berhasil dikendalikan.

Dengan deteksi dini dan komitmen pada gaya hidup sehat, risiko komplikasi jangka panjang akibat hipertensi dapat diminimalisir sejak dini. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *