
DUNIA musik internasional berduka. Clive Davis, salah satu eksekutif musik paling berpengaruh dalam sejarah rock dan pop, dikabarkan meninggal dunia pada usia 94 tahun. Mantan pimpinan Columbia dan Arista Records ini mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Manhattan, New York, saat sedang dalam masa pemulihan setelah sempat dirawat di rumah sakit akibat masalah pernapasan.
Pihak keluarga dalam pernyataan resminya menyebut Davis sebagai sosok legenda ikonik yang visi dan instingnya telah membentuk “soundtrack” bagi kehidupan banyak orang.
“Bagi dunia, ayah kami adalah legenda musik. Namun bagi keluarga, Clive adalah sosok ayah dan kakek yang menjadi sumber kebijaksanaan, kekuatan, dan cinta tanpa syarat,” ungkap pernyataan tersebut.
Dari Hukum ke Panggung Musik Dunia
Lahir di Brooklyn pada 4 April 1932, Davis sebenarnya tidak memiliki latar belakang industri musik saat memulai kariernya. Lulusan Harvard Law School ini bergabung dengan Columbia Records pada usia 28 tahun sebagai pengacara. Namun, ketekunannya mempelajari hukum hak cipta dan kontrak membawanya menduduki kursi presiden label tersebut pada tahun 1965.
Di bawah kepemimpinannya, Columbia Records mengalami masa keemasan dengan perekrutan nama-nama besar seperti Janis Joplin, Santana, Aerosmith, hingga Bruce Springsteen. Davis dikenal memiliki “telinga emas” yang mampu mendeteksi potensi bintang besar sebelum orang lain menyadarinya.
| Era/Label | Artis yang Diorbitkan/Didukung |
|---|---|
| Columbia Records | Janis Joplin, Bruce Springsteen, Billy Joel, Pink Floyd, Santana |
| Arista Records | Whitney Houston, Barry Manilow, Patti Smith, Aretha Franklin |
| LaFace & Bad Boy | TLC, Usher, Outkast, Notorious B.I.G. |
| J Records / Sony | Alicia Keys, Maroon 5, Christina Aguilera |
Sentuhan Midas: Kasus Whitney Houston dan Santana
Salah satu pencapaian paling fenomenal Davis adalah penemuan Whitney Houston pada 1983. Davis menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari produser dan penulis lagu yang tepat demi memaksimalkan bakat Houston.
Keputusannya yang paling berani adalah mempertahankan intro a capella selama 40 detik pada lagu I Will Always Love You, sebuah langkah yang sempat ditentang produser namun akhirnya membawa lagu tersebut menjadi hits global terbesar Houston.
Tak hanya mengorbitkan bakat baru, Davis juga ahli dalam membangkitkan karier musisi veteran. Pada 1999, ia membantu Carlos Santana merilis album Supernatural yang memadukan gitaris legendaris tersebut dengan vokalis kontemporer. Hasilnya, album tersebut terjual lebih dari 15 juta kopi dan memenangkan Grammy untuk Album of the Year.
Warisan yang tak Tergantikan
Meski sempat diterpa kontroversi terkait tuduhan penyalahgunaan dana perusahaan di Columbia yang membuatnya hengkang, Davis membuktikan ketangguhannya dengan mendirikan Arista Records dan J Records. Sepanjang 60 tahun kariernya, ia telah memenangkan lima Grammy Awards dan masuk dalam Rock and Roll Hall of Fame pada tahun 2000.
Patti Smith, salah satu artis yang ia dukung sejak awal, memberikan penghormatan emosional melalui media sosial. “Terima kasih Clive Davis karena telah mengubah musik, dan secara pribadi, karena telah percaya padaku dan memberikan dukungan selama setengah abad,” tulisnya.
Hingga akhir hayatnya, Davis tetap percaya bahwa musik adalah elemen dasar yang esensial bagi kehidupan manusia. Baginya, teknologi boleh berubah, namun kebutuhan manusia akan musik yang berkualitas akan selalu abadi. (bbc/Z-1)
