
PRESIDEN Suriah Ahmad Al Shara menyatakan kesiapannya untuk duduk bersama dan berdialog dengan kelompok Hizbullah. Langkah ini bersedia ia ambil demi melindungi kepentingan nasional Suriah dan stabilitas Libanon, meskipun ia menggambarkan peran kelompok milisi yang didukung Iran tersebut dalam perang saudara Suriah sebagai sebuah luka besar.
Dalam wawancara yang disiarkan oleh stasiun televisi Al Mashhad yang berbasis di Dubai pada Minggu (21/6), Al Shara menekankan bahwa dialog harus tetap berjalan bahkan di tengah konflik. Ia menegaskan bahwa Damaskus ingin menyelesaikan persoalan Hizbullah tanpa menyeret Libanon ke dalam kehancuran serupa yang dialami Suriah selama lebih dari satu dekade perang.
“Kami tidak ingin Libanon jatuh ke dalam apa yang dialami Suriah di masa lalu, karena dampak dari perang dan konflik sangatlah berdarah,” ujar Al Shara. “Sudah waktunya bagi kawasan ini untuk mengakhiri perang dan bergerak menuju pembangunan serta rekonstruksi.”
Luka Masa Lalu dan Realitas Politik
Pernyataan Al Shara ini menjadi signifikan mengingat sejarah panjang keterlibatan Hizbullah di Suriah. Kelompok tersebut sebelumnya bertempur di pihak rezim Bashar Al Assad untuk melawan kelompok-kelompok pemberontak, termasuk Hayat Tahrir Al Sham yang dipimpin oleh Al Shara.
“Kami memiliki luka yang besar,” katanya merujuk pada tindakan Hizbullah di Suriah. “Kami masih mencari tulang-belulang anak-anak kami di jalanan dan di kuburan massal. Hizbullah terlibat dalam kejahatan besar yang terjadi di Suriah.”
Meski memiliki masalah mendalam, Al Shara menegaskan bahwa prioritasnya saat ini ialah mencegah kehancuran total Libanon. “Kami ingin menyelesaikan masalah Hizbullah sambil menjaga Libanon tetap hidup,” tambahnya.
Menepis Isu Intervensi Militer
Terkait saran Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Suriah bisa terlibat secara militer untuk menangani Hizbullah, Al Shara memberikan bantahan tegas. Ia menyatakan bahwa Suriah tidak mencari intervensi militer, melainkan jalur ekonomi dan diplomatik.
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Fox News menyatakan kekecewaannya terhadap ketidakmampuan Israel untuk menyingkirkan Hizbullah tanpa menghancurkan banyak bangunan. Trump sempat melontarkan ide agar Suriah mengambil alih tugas tersebut.
Namun, Al Shara menegaskan bahwa peran Suriah di masa depan tidak akan mengulangi pola perwalian atau pendudukan militer seperti yang terjadi antara tahun 1976 hingga 2005. Sebaliknya, ia menawarkan dukungan untuk memperkuat institusi negara Libanon dan mencari saluran komunikasi antarpartai politik di sana.
Baca juga: Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa Tolak Intervensi Militer di Libanon
Respons Libanon: Perdana Menteri Libanon Nawaf Salam menyambut baik sikap Al Shara. Dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al Shibani, Salam memuji sikap tersebut sebagai langkah persaudaraan dan jujur yang mengakhiri spekulasi mengenai niat Suriah terhadap kedaulatan Libanon.
Situasi di Libanon saat ini tetap kritis akibat konflik yang terus berlanjut antara Israel dan Hizbullah. Al Shara meyakini bahwa solusi kolektif diperlukan, dan Suriah siap menawarkan alat untuk memberikan dampak positif bagi stabilitas kawasan melalui kerja sama yang didasarkan pada kepentingan bersama dan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara. (The National News/I-2)
