
DI tengah gempuran tren hiburan global yang serba cepat, dunia tari tradisional Indonesia perlu segera beradaptasi agar tidak tergerus zaman. Melihat tantangan tersebut, penari muda sekaligus penggerak Swargaloka, Bathara Saverigadi, menemukan sebuah peluang agar seni tari tradisional tetap relevan dan mampu bertahan.
Tradi-Pop hadir sebagai sebuah konsep baru yang diyakini oleh Bathara dapat menjadi gerbang pembuka bagi seni tari tradisional untuk merangkul audiens yang lebih luas, terutama anak muda Indonesia. Singkatnya, konsep ini mengawinkan tari tradisional dengan industri hiburan modern sebagai upaya memangkas jarak antara kesenian tradisional dan Generasi Z (Gen Z).
“Ada satu istilah yang kami sedang kembangkan tahun ini, itu namanya Tradi-Pop. Tradi-Pop itu sebenarnya adalah cara baru kami, sebagai gerbang pembuka bagi orang-orang awam untuk melihat kekayaan seni tradisi dengan cara yang dinamis, atraktif, dan juga dengan sesuatu yang fresh gitu,” kata Bathara di Jakarta, Kamis (18/6).
Lebih lanjut, Bathara menjelaskan bahwa konsep ini bukan bertujuan untuk merusak pakem, melainkan mengemas nilai-nilai tradisi dengan cara yang dinamis, atraktif, dan fresh agar bisa masuk ke ranah industri populer. Bagi penari kelahiran 1997 ini, setiap zaman memiliki ‘napas pop-nya’ sendiri. Dengan mengawinkan tradisi ke dalam estetika industri modern, keindahan budaya Nusantara diharapkan tidak lagi terasa berjarak dengan orang-orang awam, khususnya anak-anak muda.
“Pada prinsipnya, kehadiran kita sebagai seniman sebenarnya penting untuk membaca atau mempertanyakan kembali tradisi tersebut, apa kaitannya dengan sekarang dan apa yang masih relevan. Ini adalah saatnya kita untuk membawa tren-tren baru dan melihat tradisi itu bukan sebagai benda mati, tapi dia adalah sesuatu yang hidup bersama kita di setiap zaman,” jelasnya.
Hadirkan Ksatria Fest
Langkah nyata menerapkan Tradi-Pop pun diterapkan Bathara dalam penyelenggaraan Ksatria Fest 3.0, sebuah ajang kompetisi tari tradipop tingkat nasional yang mengedepankan sinergi antara nilai tradisi dan pendekatan populer dalam seni pertunjukan. Program ini diinisiasi oleh Kelompok Tari Ksatria, yang dikenal sebagai Juara 1 Indonesia Mencari Bakat tahun 2021.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Ksatria Fest menunjukkan konsistensinya sebagai ruang lahirnya talenta-talenta unggulan di bidang tari. Pada edisi sebelumnya, ajang ini berhasil melahirkan kelompok Silak dari Yogyakarta sebagai pemenang tahun 2022, serta Eyes On Us (EOU) dari Kalimantan Barat sebagai pemenang tahun 2023.
“Kegiatan Kesatria Fest ini sebagai wadah memunculkan idola baru terutama di bidang tari, seorang penari yang bisa membawa tren baru dan bisa diikuti oleh banyak orang,” jelas Bathara yang merupakan inisiator Ksatria Fest.
Peraih Gold Medal PON pada cabang Traditional Dance Sport itu menambahkan, bahwa Ksatria Fest tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi juga membangun identitas dan tanggung jawab bagi para pemenangnya.
“Para pemenang Ksatria Fest akan mendapatkan gelar kehormatan, yaitu Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk duet, dan Wira Ksatria Tari Indonesia untuk solo. Gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam perkembangan industri tari serta menginspirasi generasi berikutnya,” jelasnya.
Ksatria Fest 3.0 akan berlangsung pada 17 Juni – 4 Juli 2026 dengan 15 finalis dari berbagai daerah di Indonesia bersiap memperebutkan gelar juara. Ajang ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru penari yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki daya jual dan relevansi budaya di tengah perubahan zaman yang cepat. (Rif)
