Menhut Sebut Tren Karhutla saat El Nino Menurun, Namun Harus Tetap Waspada
Rakorsus Pengendalian Karhutla(dok.istimewa)

MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan kemampuan Indonesia mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa siklus El Nino terakhir. Meski demikian, pemerintah tidak boleh lengah karena ancaman karhutla pada periode El Nino 2026-2027 masih cukup besar.

Hal ini disampaikan Menhut Raja Antoni dalam Rapat Koordinasi Khusus Pengendalian Karhutla Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (18/6/2026). Rakoor turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, dan Wakil Menteri Kehutanan Rokhmad Marzuki.

Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, menegaskan bahwa penanganan dan penganggulangan karhutla merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Tidak hanya itu, setiap pejabat baik Kapolda, Kapolres hingga Panglima Kodam dapat digeser atau mempertaruhkan jabatannya dalam penanganan karhutla.

“Tetap berlaku (pemindahan jabatan), bukan hanya Kapolda, Kapolres, sampai panglima Kodam juga, danrem, tetap itu mempertaruhkan jabatannya tadi saya ingatkan,” ujar Djamari Chaniago.

Pada kesempatan yang sama, Menhut Raja Antoni menjelaskan bahwa luas karhutla saat El Nino terus menunjukkan tren penurunan. Pada El Nino 2015, luas karhutla tercatat sekitar 2,61 juta hektare, turun menjadi 1,64 juta hektare pada 2019, dan kembali menurun menjadi sekitar 1,16 juta hektare pada 2023.

“Jika kita melihat perjalanan penanganan kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa siklus El Nino terakhir, ada satu hal yang patut kita syukuri, kemampuan kita dalam mengendalikan karhutla terus menunjukkan perbaikan,” kata Raja Juli Antoni.

Dalam dua siklus El Nino terakhir, luas karhutla berhasil ditekan hingga 55,6% dibandingkan kondisi tahun 2015. Menurut Menhut Raja Antoni, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak, mulai dari BMKG, BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga seluruh masyarakat.

“Karhutla bukan semata persoalan kehutanan, bukan semata persoalan lingkungan hidup, dan bukan hanya persoalan daerah tertentu. Karhutla adalah masalah bersama yang dampaknya dirasakan oleh seluruh bangsa,” ujar Raja Antoni.

Meski grafik karhutla pada siklus El Nino menunjukkan tren menurun, Menhut Raja Antoni mengingatkan bahwa kewaspadaan harus tetap ditingkatkan. Hingga Mei 2026, luas karhutla tercatat sekitar 81.000 hektare atau meningkat dibandingkan periode yang sama saat El Nino 2019 maupun 2023. Selain itu, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dengan puncak kemarau pada Juli hingga September.

“Pak Menko sudah mengatakan tadi, kita melakukan antisipasi yang dilakukan dengan kepala daerah melalukuan OMC dan membuat sekat kanal, kalau semua stake holder masih bekerja dengan baik juga dengan peran TNI Polri serta partisipasi masyarakat tentunya kita akan bisa memenangkan pertarungan melawan karhutla ini,” ujar Menhut Raja Antoni. (Ant/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *