Dampak Ekonomi dari Nobar Piala Dunia 2026 Sangat Terbatas
ilustrasi(Antara)

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai surat edaran Menteri Dalam Negeri yang mengimbau pemerintah daerah memfasilitasi nonton bareng selama 11 Juni hingga 19 Juli memiliki logika yang cukup jelas. Ketika masyarakat berkumpul di ruang publik, UMKM seperti kuliner, pedagang minuman, dan penjual atribut dapat menangkap perputaran uang yang muncul di sekitar kegiatan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa dorongan itu pada dasarnya hanya bersifat musiman dan tidak menyentuh persoalan struktural ekonomi.

“Estimasi dampak ekonomi sebesar Rp2,34 triliun yang disampaikan TVRI juga perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Angka tersebut dihitung dengan asumsi hampir 6.000 venue aktif selama sekitar 50 malam dan seluruh potensi transaksi berjalan optimal,” kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (18/6).

Dalam praktiknya, kata dia, tidak semua lokasi akan ramai setiap malam, tidak semua daerah memiliki kapasitas fiskal untuk menyelenggarakan kegiatan secara konsisten, dan tidak semua UMKM mampu memperoleh manfaat yang sama. “Karena itu, realisasi dampaknya kemungkinan berada jauh di bawah angka yang banyak dikutip,” ujarnya.

Masalah berikutnya, lanjut Yusuf, adalah pemerataan manfaat. Daerah dengan pendapatan asli daerah yang kuat cenderung lebih mampu menyediakan layar, fasilitas pendukung, serta pengamanan. Sebaliknya, banyak kabupaten masih menghadapi keterbatasan anggaran karena sebagian besar belanja terserap untuk kebutuhan rutin dan program wajib.

“Akibatnya, manfaat ekonomi dari kegiatan nonton bareng berpotensi lebih terkonsentrasi di wilayah yang memang sudah relatif lebih maju,” jelasnya.

Kemudian Yusuf menyoroti persoalan yang lebih mendasar yakni kondisi daya beli masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, pertumbuhan upah riil berjalan sangat lambat meskipun ekonomi tetap tumbuh. Pada saat yang sama, jumlah kelas menengah mengalami penyusutan sehingga banyak rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

“Dalam kondisi seperti ini, tambahan belanja saat nonton bareng sering kali bukan konsumsi baru, melainkan perpindahan pengeluaran dari tempat lain. Uang yang digunakan untuk membeli kopi atau makanan di lokasi acara kemungkinan adalah uang yang sebelumnya akan dibelanjakan di warung atau kafe lain,” paparnya.

Dalam ekonomi, jelasnya, fenomena tersebut dikenal sebagai efek substitusi, sehingga tambahan permintaan riil yang tercipta tidak sebesar yang terlihat di lapangan.

Karena itu, Yusuf melihat nonton bareng Piala Dunia tetap memiliki nilai positif sebagai hiburan publik dan sarana memperkuat interaksi sosial. Sejumlah UMKM, terutama pelaku usaha kuliner skala kecil, juga dapat menikmati peningkatan pendapatan selama acara berlangsung.

“Namun, dampaknya lebih tepat dipahami sebagai stimulus jangka pendek daripada penggerak ekonomi yang signifikan. Persoalan utama ekonomi domestik saat ini tetap berada pada kualitas lapangan kerja, pertumbuhan pendapatan, dan kekuatan daya beli masyarakat,” ungkapnya.

“Nonton bareng dapat menjadi pereda sesaat, tetapi tidak dapat menggantikan solusi terhadap persoalan ekonomi yang lebih mendasar,” pungkas Yusuf. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *