Saatnya Belanda Menyembuhkan Luka
Hariyanto Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)

SEBAGAI pendukung setia timnas Belanda, hati saya tentu berbunga-bunga ketika mengetahui prediksi Joachim Klement. Berdasarkan olahan statistik dan angka, ekonom sekaligus ahli matematika asal Jerman itu meramalkan Belanda akan mendekap trofi Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Portugal di laga final.

Ramalan itu kian menggoda untuk dipercaya karena dalam tiga episode Piala Dunia sebelumnya terbukti tepat; Jerman pada 2014, Prancis pada 2018, dan Argentina pada 2022.

Mungkinkah 2026 menjadi tahunnya Belanda untuk menyembuhkan luka panjang mereka di panggung sepak bola dunia?

Nyatanya, sepak bola selalu punya cara mengingkari rumus ekonomi, juga matematika. Pada laga perdana Grup F, Senin (15/6), Belanda hanya mampu bermain imbang 2-2 saat melawan wakil Asia, Jepang. Hasil yang mulai menumbuhkan benih-benih kegelisahan. Itulah sebabnya, saya tetap mempersiapkan hati yang lapang untuk menerima kenyataan jika prakiraan sang matematikawan jauh dari harapan.

Matematika boleh menghitung peluang. Data boleh menyusun kemungkinan. Namun, sejarah sepak bola Belanda mengajarkan satu hal yang tak pernah diajarkan di ruang kuliah mana pun: Belanda memiliki bakat langka untuk kalah ketika logika para pecinta bola meyakinkan dunia bahwa mereka ialah pemenangnya.

Menjadi fan setia Belanda itu ibarat mengoleksi album kenangan yang setiap halamannya tidak ada foto-foto euforia perayaan juara. Setiap generasi memiliki kisahnya sendiri. Setiap era meninggalkan luka yang sama. Semua berawal dari tim yang pernah membuat dunia percaya bahwa bola bisa dimainkan dengan cara yang lebih indah dan menggoda.

Halaman pertama album itu dimulai pada Piala Dunia 1974 ketika dunia berdecak kagum melihat total football yang dimainkan Johan Cruyff dan kawan-kawan. Belanda bermain seperti masa depan yang lebih cepat daripada zamannya.

Namun, sejarah tidak ditulis mereka yang bermain paling memesona. Pada 7 Juli 1974 di Stadion Olimpiade Muenchen, bukan Belanda yang berdiri di podium tertinggi. Gol Gerd Mueller membawa Jerman Barat menang 2-1 dan total football harus puas menjadi legenda tanpa mahkota.

Empat tahun kemudian, Belanda kembali bersiap memahat sejarah. Setelah menembus final kedua kalinya, ‘Oranje’ datang ke Buenos Aires untuk menuntaskan kisah yang tertunda sejak 1974. Nyatanya, pada 25 Juni 1978 di Estadio Monumental, malah Argentina yang berpesta di hadapan mereka setelah menang 3-1 lewat perpanjangan waktu.

Kekalahan itu menyisakan luka yang sulit sembuh. Karena merasa mendapat perlakuan yang tidak adil sepanjang laga, para pemain Belanda menolak hadir dalam penyerahan medali dan jamuan pascapertandingan.

Setelah era Cruyff berlalu, lahirlah generasi baru yang membuat dunia kembali menoleh ke ‘Negeri Kincir Angin’ itu. Ruud Gullit dengan karismanya, Frank Rijkaard dengan kecerdasannya, dan Marco van Basten dengan sentuhan magisnya. Bersama mereka, Belanda kembali bermimpi menaklukkan dunia.

Pada 1988, trio hebat itu menjadi penguasa Eropa. Tendangan voli Van Basten ke gawang Uni Soviet hingga kini masih diingat sebagai gol yang melawan hukum fisika. Belanda menjadi juara Eropa dan jutaan orang percaya era kejayaan baru telah dimulai.

Dua tahun berselang, di Piala Dunia 1990, generasi emas itu justru gagal memenuhi ekspektasi. Laskar yang begitu perkasa di Eropa itu pulang tanpa meninggalkan kisah besar. Itulah anomali Belanda. Kerap disorot karena gaya permainan yang memikat dan pemain yang hebat. Namun, trofi yang diidamkan selalu saja salah alamat.

Puncaknya terjadi pada 11 Juli 2010 di Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan. Saat itu mimpi Wesley Sneijder, Arjen Robben, Robin van Persie, dan rekan-rekannya mendekati kenyataan. Sampai akhirnya pada menit ke-116 tendangan voli Andres Iniesta menjadi gol penentu kemenangan Spanyol. Gol yang membuat harapan membuncah runtuh seketika.

Bagi saya, Belanda ialah pencipta mahakarya yang senantiasa dikenang, tetapi tidak memiliki trofi untuk dipajang. Karena itulah, ketika Joachim Klement memprediksi Belanda menjadi juara Piala Dunia 2026, saya hanya tersenyum dan bertanya: apakah matematika juga menghitung kutukan?

Ketika matematikawan sibuk menghitung peluang, ‘Het Oranje Legioen’ justru bersiap menyembuhkan luka. Itu disebabkan Belanda terbiasa berhenti melangkah tepat di depan pintu sejarah.

Mencintai Belanda bukan sekadar soal menang atau kalah. Bukan pula tentang keberanian menyerang ketika lainnya memilih bertahan. Belanda ialah sepak bola indah yang mendatangkan kegembiraan meski berujung pada kegetiran.

Tentu saja dalam pesta bola kali ini saya ingin melihat Virgil van Dijk, Tijjani Reijnders, Memphis Depay, dan kawan-kawan akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia. Saya ingin merasakan seluruh luka puluhan tahun itu sirna. Saya juga ingin buku sejarah menulis Belanda dalam daftar juara Piala Dunia.

Lantas, bagaimana jika Belanda sebatas memainkan sepak bola yang memikat hati penonton, mendominasi penguasaan bola, lalu menemukan kembali cara baru gagal meraih trofi?

Kalau itu yang terjadi, saya tidak terkejut. Sedih, tentu. Kecewa, pasti. Namun, menjadi fan setia Belanda ialah seni merawat harapan di atas puing-puing kekecewaan. Ujian kesetiaan ialah tetap bertahan meski melewati banyak kegagalan. Tetap bahagia seolah tak pernah ada luka sebelumnya. Bismillah, semoga kali ini Belanda juara.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *