
HELIUM-3 kini menjadi salah satu komoditas paling berharga di dunia dengan harga mencapai kisaran US$2.000 atau sekitar Rp32,8 juta per liter. Isotop langka ini menjadi incaran karena perannya yang krusial dalam pengembangan komputer kuantum dan potensi pembangkitan energi bersih melalui fusi nuklir.
Secara teknis, Helium-3 adalah isotop helium yang ditentukan oleh jumlah neutron dalam inti atomnya. Berbeda dengan Helium-4 yang umum digunakan untuk balon udara, Helium-3 memiliki kemampuan unik untuk menciptakan suhu ekstrem rendah hingga kisaran milikelvin (-273 derajat Celsius). Kondisi ini sangat diperlukan untuk mendinginkan sirkuit pada komputer kuantum agar dapat beroperasi dengan stabil.
Selama ini, pasokan utama Helium-3 di Bumi sangat terbatas dan dikontrol ketat karena merupakan produk sampingan dari peluruhan tritium pada senjata nuklir. Namun, data dari sampel debu bulan (regolith) misi Apollo menunjukkan adanya konsentrasi Helium-3 yang jauh lebih tinggi di permukaan satelit alami Bumi tersebut.
Beberapa perusahaan rintisan kini tengah berlomba untuk merealisasikan penambangan di Bulan, di antaranya:
- Interlune: Perusahaan asal Seattle yang dipimpin mantan Presiden Blue Origin, Rob Meyerson, berencana mengirim peralatan ke Bulan pada musim gugur 2027. Mereka menargetkan penggunaan ekskavator otonom untuk memproses regolith.
- Astrotech Corporation: Berencana menggunakan roket SpaceX Starship untuk mengekstrak Helium-3 dengan metode pemanasan regolith.
Para ahli memperkirakan dibutuhkan pemrosesan ratusan ribu ton regolith hanya untuk mendapatkan satu kilogram Helium-3. Hal ini dikarenakan konsentrasinya yang sangat rendah, yakni hanya sekitar beberapa bagian per miliar (ppb).
Alternatif di Bumi
Meski Bulan menawarkan cadangan besar, pencarian di Bumi tetap berlanjut. Perusahaan Pulsar Helium saat ini tengah menyelidiki keberadaan Helium-3 di Minnesota, Amerika Serikat. Dengan konsentrasi sekitar 12 ppb, pengeboran di daratan Bumi dinilai jauh lebih ekonomis dan mudah diakses dibandingkan misi luar angkasa.
Permintaan terhadap gas ini diprediksi akan melonjak tajam. Sebuah perusahaan komputasi kuantum di Helsinki bahkan telah menandatangani kontrak senilai US$300 juta dengan Interlune untuk pasokan 10.000 liter Helium-3 per tahun mulai 2028 hingga 2037. Persaingan memperebutkan “bahan bakar masa depan” ini dipastikan akan semakin memanas dalam satu dekade ke depan. (Yahoo Tech/Z-10)
