
KETEGANGAN di wilayah pendudukan Tepi Barat, Palestina, kembali memuncak setelah kelompok pemukim Israel dilaporkan membakar sejumlah kendaraan dan mencoba membakar masjid pada Minggu (14/6) waktu setempat. Aksi kekerasan ini memicu pengerahan pasukan militer Israel untuk meredam peristiwa yang mereka sebut sebagai kerusuhan oleh warga sipil Israel.
Berdasarkan laporan kantor berita resmi Palestina, Wafa, serangan tersebut terjadi di dua lokasi berbeda pada Minggu malam. Di desa Burqa, sebelah timur Ramallah, sekelompok pemukim membakar mobil, mendobrak pintu masjid, dan menyulut api di pintu masuk sebelum akhirnya melarikan diri.
Saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa warga setempat berhasil memadamkan api sebelum merambat ke seluruh bangunan masjid. Sementara itu, dalam insiden terpisah di desa tetangga, Deir Dibwan, para pemukim dilaporkan membakar dua kendaraan milik warga Palestina.
Respons Militer Israel
Militer Israel mengonfirmasi telah mengirimkan pasukan ke beberapa lokasi di Tepi Barat menyusul laporan pembakaran dan kerusuhan tersebut.
“Beberapa waktu lalu, pasukan keamanan dikerahkan ke beberapa lokasi di wilayah tanggung jawab Brigade Binyamin menyusul laporan pembakaran dan kerusuhan disertai kekerasan yang dilakukan oleh warga sipil Israel,” ungkap militer dalam suatu pernyataan resmi.
Pihak militer menambahkan bahwa pasukan sedang beroperasi untuk membubarkan kerusuhan, memadamkan api, dan mencegah gesekan lebih lanjut. “Pasukan keamanan mengecam keras semua tindakan kekerasan dan akan terus beroperasi untuk menjaga hukum dan ketertiban di Yudea dan Samaria,” lanjut pernyataan tersebut, menggunakan istilah alkitabiah untuk wilayah Tepi Barat.
Rekor Kekerasan Pemukim
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan bahwa kekerasan pemukim di Tepi Barat mencapai tingkat rekor. PBB mencatat rata-rata terjadi enam serangan setiap hari yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa atau kerusakan properti.
Data PBB menunjukkan lebih dari 2.200 warga Palestina mengungsi tahun ini akibat kekerasan pemukim atau pembatasan akses. Selain itu, ratusan orang lain kehilangan tempat tinggal akibat pembongkaran rumah oleh otoritas Israel.
Saat ini, lebih dari 500.000 warga Israel tinggal di permukiman Tepi Barat–tidak termasuk Yerusalem Timur yang dianeksasi–yang dianggap ilegal oleh PBB berdasarkan hukum internasional. Di wilayah yang sama, terdapat sekitar tiga juta warga Palestina yang tinggal di bawah pendudukan Israel sejak 1967. (I-2)
