
SELAMA ini, kesepian sering kali dianggap sebagai masalah psikologis atau emosional semata. Namun, para ilmuwan neurosains kini sedang gencar memetakan landasan seluler (cellular substrate) dari kesepian. Mereka menemukan bahwa keinginan untuk berkumpul dengan orang lain sebenarnya adalah kebutuhan biologis yang mendasar, sama seperti rasa lapar atau haus.
Riset ini dipelopori oleh Kay Tye, seorang neurosaintis dari Salk Institute. Sejak tahun 2016, Tye berhasil menunjukkan bahwa sekelompok neuron di dalam batang otak, bagian terdalam dan tertua dari otak, menjadi sangat aktif ketika tikus jantan diisolasi selama sehari lalu dipertemukan kembali dengan sesamanya.
Ketika para ilmuwan menghambat fungsi neuron tersebut, tikus-tikus yang terisolasi menjadi lebih menyendiri. Sebaliknya, ketika neuron itu diaktifkan secara buatan, tikus-tikus tersebut menjadi sangat antusias mencari teman.
Pada 2019, Tye bersama rekan penelitinya, Gillian Matthews, mencetuskan teori bahwa neuron batang otak ini adalah bagian dari sistem “homeostasis sosial”. Layaknya sebuah termostat ruangan, otak makhluk hidup dapat mendeteksi berapa banyak kontak sosial yang telah mereka terima, lalu membandingkannya dengan kondisi ideal atau titik acuan (set point).
Bukti lain mengenai sistem “termostat sosial” ini ditemukan oleh Catherine Dulac, seorang neurosaintis dari Universitas Harvard dan Howard Hughes Medical Institute. Dulac meneliti bagian otak bernama hipotalamus, pusat kendali untuk rasa lapar dan haus.
Dulac menemukan dua kelompok neuron yang bekerja berlawanan: satu kelompok aktif saat hewan diisolasi, dan kelompok lainnya aktif saat mereka disatukan kembali. Mengaktifkan neuron isolasi ini secara buatan menggunakan teknik genetika cahaya (optogenetics) ternyata memberikan sensasi yang tidak menyenangkan pada tikus.
“Sangat tidak menyenangkan untuk sendirian, dengan cara yang sama seperti yang telah ditunjukkan bahwa tidak menyenangkan untuk lapar,” kata Dulac, yang turut menulis tinjauan interaksi sosial sebagai kebutuhan mendasar dalam Annual Review of Neuroscience.
Para ilmuwan meyakini bahwa sirkuit otak yang mengatur kesepian ini serupa antara manusia dan hewan pengerat. Sebab, wilayah otak dalam yang mengendalikan fungsi ini memiliki struktur yang hampir identik. Seperti halnya nafsu makan, mekanisme homeostasis sosial ini tersebar di berbagai bagian otak untuk mendeteksi interaksi, membandingkannya dengan kondisi ideal, dan mendorong perilaku kita untuk mencari atau menghindari keramaian. (Live Science/Z-2)
