
PARA pengemudi di Amerika Serikat mulai merasakan sedikit kelegaan setelah dihantam lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tinggi. Dalam dua pekan terakhir, harga bensin mengalami penurunan meskipun dampak perang Iran terus menekan pasokan minyak global.
Berdasarkan data terbaru pada Rabu (3/6/2026), harga rata-rata nasional untuk satu galon bensin berada di angka US$4,26 atau sekitar Rp77 ribu. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 30 sen atau sekitar 6,5% sejak mencapai puncaknya pada 21 Mei lalu.
Meski begitu, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelum guncangan minyak bersejarah akibat perang dimulai. Pada akhir Februari harga bensin masih di bawah US$3 per galon.
Penyebab Penurunan Harga
Penurunan harga bensin ini dipicu oleh merosotnya biaya minyak mentah pada akhir bulan lalu yang bertepatan dengan penurunan permintaan pascalibur Memorial Day. Selain itu, optimisme pasar meningkat seiring ada indikasi bahwa Amerika Serikat dan Iran mungkin akan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan maritim vital yang memfasilitasi transportasi sekitar seperlima dari pasokan minyak mentah global. Penutupannya oleh Iran di awal konflik sempat memicu lonjakan harga yang drastis. Namun, pada Jumat pekan lalu, harga minyak AS turun hingga ke level US$86 per barel, mencatatkan penurunan sekitar 20% dalam rentang waktu 10 hari.
Variasi Harga Antarnegara Bagian
Data dari AAA menunjukkan perbedaan harga yang mencolok di berbagai wilayah:
- Georgia: Menjadi negara bagian dengan harga terendah, yakni sekitar US$3,79 per galon.
- California: Tetap menjadi yang tertinggi dengan harga $5,99 per galon, meskipun telah turun sekitar 10 sen dalam sepekan terakhir.
- Secara keseluruhan, terdapat enam negara bagian yang saat ini menjual bensin di bawah rata-rata US$4 per galon.
Ancaman Lonjakan di Masa Depan
Meski saat ini harga cenderung stabil di bawah angka US$100 per barel, para analis memperingatkan bahwa situasi ini sangat volatil. Jika perang terus berlanjut tanpa resolusi segera, harga bensin diprediksi bisa melampaui US$5 per galon pada bulan depan.
Patrick De Haan, analis perminyakan dari GasBuddy, memperingatkan bahwa kenaikan tajam bisa terjadi dalam waktu singkat jika Selat Hormuz tidak segera dibuka secara permanen. “Masih ada kemungkinan pada musim panas ini, bahkan sebelum 4 Juli, kita bisa melihat rata-rata nasional melewati US$5 per galon,” ungkapnya.
Di sisi lain, Denton Cinquegrana, kepala analis minyak di Dow Jones Energy, melihat ada ruang bagi penjual bensin untuk menurunkan harga ritel karena margin keuntungan saat ini masih cukup besar, yakni sekitar 50 sen per galon dibandingkan rata-rata dua tahun terakhir yang hanya 34 sen. (ABC/I-2)
