
KELELAHAN akibat pekerjaan atau burnout menjadi ancaman nyata bagi para pekerja di tengah budaya kerja yang menuntut performa tinggi. Dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), Adhitya S Ramadianto, mengingatkan pentingnya meluangkan waktu untuk diri sendiri atau me time sebagai langkah preventif utama masalah kesehatan mental tersebut.
Menurut dr. Adhitya, tanda burnout pada pekerja mulai muncul ketika seseorang merasa kehilangan motivasi dan mengalami kelelahan yang tidak proporsional dengan beban kerjanya. Kondisi ini sering kali membuat pekerja tidak lagi menghayati pekerjaannya dan kehilangan rasa pencapaian atas apa yang mereka kerjakan.
Fenomena ini bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan hasil dari ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kemampuan individu. Beberapa faktor yang mempercepat kondisi ini antara lain:
- Budaya kerja hustle yang menekan secara terus-menerus.
- Target performa yang tinggi tanpa apresiasi atau reward yang cukup.
- Kurangnya dukungan keterampilan untuk menyelesaikan tugas.
“Selama kita masih manusia, waktu, energi, dan tenaga kita pasti terbatas. Sangat manusiawi untuk membutuhkan istirahat,” ujar dr. Adhitya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Langkah Mengatasi Burnout
Untuk menghindari dampak yang lebih buruk, dr. Adhitya menyarankan beberapa langkah praktis bagi para pekerja:
1. Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri
Kembali ke lingkup terkecil, yaitu diri sendiri. Cari aktivitas yang bisa membuat tubuh lebih rileks dan membangkitkan semangat kembali.
2. Menjangkau Orang Terdekat (Reach Out)
Jangan memendam beban sendirian. Bercerita atau curhat kepada orang terdekat dapat membantu melepaskan emosi yang menyesakkan pikiran.
3. Diskusi dengan Rekan Kerja
Secara teknis, berdiskusi dengan rekan kerja dapat memberikan perspektif baru atau solusi praktis dalam menghadapi beban pekerjaan yang menumpuk.
Kapan Harus ke Profesional?
Jika upaya mandiri dan dukungan sosial belum cukup membantu, dr. Adhitya menyarankan pekerja untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa, seperti psikiater atau psikolog. Bantuan profesional ini bersifat ganda: memberikan dukungan emosional untuk menumpahkan isi hati, sekaligus memberikan solusi praktikal untuk menyelesaikan masalah di tempat kerja.
Menjaga kesehatan mental di lingkungan kerja bukan hanya tanggung jawab individu, namun mengenali batasan diri adalah langkah awal yang paling krusial untuk tetap produktif dalam jangka panjang. (Ant/H-3)
