
MALAM pengujung bulan Mei 2026, Gedung Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, seakan berubah menjadi ruang ingatan bangsa. Lampu-lampu temaram jatuh perlahan di wajah ratusan penonton yang duduk khidmat, nyaris tanpa suara.
Dari panggung, suara Dede Pramayoza mengalun pelan, lalu menghujam, menghidupkan kembali pidato Buya Ahmad Syafii Maarif yang pernah disampaikan di kampus itu, 11 tahun silam, 16 Maret 2015. Bukan sekadar membaca ulang, melainkan membangkitkan kembali warisan intelektual seorang guru bangsa yang terasa kian mendesak di tengah zaman yang gaduh, bising, dan kehilangan arah moral.
Dede yang sehari-hari merupakan dosen, membingkai kembali cuplikan pidato Buya di kampus ISI pada tahun 2015 silam. Bagi Buya Syafii Maarif, beber Dede, seorang sarjana tidak cukup hanya mengantongi gelar. Ia harus terus merenung, membaca, dan menulis agar tidak terjebak dalam kemalasan intelektual yang dapat ‘menggali kuburan masa depannya’ sendiri. Pikiran, kata Buya, harus dilempar ke ruang publik untuk diuji, dikritik, bahkan ditolak.
Buya juga menempatkan seni sebagai kekuatan moral. Talempong dan canang unggan menjadi simbol bahwa keindahan mampu melahirkan harmoni, bahkan menjadi alat untuk ‘menjinakkan’ politik kekuasaan yang liar dan kehilangan visi kemanusiaan. Seni, baginya, bukan sekadar hiburan, melainkan jalan memperhalus batin dan mempertajam spiritualitas.
Kegelisahan pada Dunia Pendidikan
Kegelisahan terbesar Buya tertuju pada dunia pendidikan Indonesia yang dinilainya kering dari nilai luhur dan keindahan. Akibatnya, ruang pendidikan kehilangan adab, melahirkan kekerasan dan krisis kemanusiaan.
Kritiknya tajam: sila Kemanusiaan yang adil dan beradab perlahan berubah menjadi praktik ‘kemanusiaan yang zalim dan biadab’. Pagelaran naratif-musikal bertajuk Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau”, Minggu malam, 31 Mei 2026, ditaja oleh Komunitas Seni Talago Buni & Maarif Institute.
Pramayoza dan para seniman malam itu, gagasan-gagasan besar Buya Syafii yang selama ini tersimpan dalam ruang akademik dan lembar pidato, menjelma tuturan budaya yang hangat, menggugah, dan dapat dinikmati siapa saja. Penonton tak sekadar menyaksikan pertunjukan, tetapi seperti diajak bercermin tentang Indonesia yang sedang kehilangan kedalaman berpikir, kehilangan kehalusan rasa, dan perlahan menjauh dari nilai-nilai kebangsaan yang pernah diperjuangkan Buya Syafii Maarif sepanjang hidupnya.
Mengenang sang Cendikiawan
Pagelaran yang digelar Ma’arif Institute bekerja sama dengan Komunitas Talago Buni dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang itu menjadi bagian dari peringatan bulan lahir sekaligus mengenang empat tahun wafatnya Buya Syafi’i Ma’arif, tokoh cendekiawan muslim Indonesia asal Minangkabau.
Buya Syafi’i Ma’arif lahir di Nagari Sumpur Kudus, Sumatra Barat, pada 31 Mei 1935 dan wafat di Yogyakarta pada 27 Mei 2022. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai intelektual muslim progresif yang konsisten menyuarakan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan universal. Ia juga pernah memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005 dan aktif di berbagai forum internasional.
Dalam pagelaran di Padang Panjang, Komunitas Talago Buni menghadirkan pertunjukan multimedia yang memadukan pembacaan narasi, audio visual, musik kontemporer, dan idiom budaya Minangkabau. Narasi-narasi mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan sikap kebangsaan Buya Syafi’i dibacakan ulang melalui pendekatan artistik yang menyentuh.
Narasi yang akan didendangkan dikutip dari buku Memoar Seorang Anak Kampung, serta berbagai gagasan dan pemikiran Buya ASM yang berserakan dimana-mana. Narasi-narasi yang dikutip adalah bagian-bagian yang menarik dari cara pandang Buya ASM, yang kemudian distrukturkan dalam beberapa bagian dari pertunjukan.
Mengangkat Budaya Minang
Ada bagian yang disusun atau dikembangkan dalam bentuk pantun dalam bahasa Minangkabau, dan diolah menjadi dendang irama bakaba. Bakaba adalah tradisi bertutur Minangkabau yang paling awal dan paling penting, yakni sebuah tradisi lisan dalam bentuk prosa liris yang berbasiskan pada musik vokal, mirip dengan play reading. Pantun-pantun akan ditulis dalam bahasa Minangkabau, namun pantun-pantun tersebut juga akan disampaikan sebagai narasi oleh pembaca puisi dan prosa dalam bahasa Indonesia.
Berbagai elemen inilah yakni visual background, dendang dan bakaba, narasi yang dibacakan narator serta musik yang akan membentuk atau menopang pertunjukan Bertutur tentang Guru Bangsa. Berbagai elemen ini akan diberikan ruang-ruang tersendiri tergantung dari pesan atau makna yang akan disampaikan
Selain Dede, akademisi dari Universitas Negeri Padang (UNP) Andria C. Tamsin juga bertindak sebagai narator dalam pagelaran itu. Ia menuturkan kembali cuplikan perjalanan Buya Syafii Maarif yang dikutip dari buku Memoar Seorang Anak Kampung, dan juga testimoni tokoh-tokoh saat hadir dalam takziah virtual selang beberapa waktu setelah seperti berpulangnya Buya. Antara lain testimoni tokoh NU, K.H. Ahmad Mustofa Bisri.
Dituturkan kembali Andria, bagi Mustofa Bisri, Buya Syafii istiqomah dalam menjadi guru bangsa, istiqomah untuk menjadi teladan dalam akhlakul karimah.
“Istiqomah ini yang menyebabkan saya yakin, saudara saya Buya Syafii sebagai milik bangsa Indonesia adalah waliyyun min auliya illah. Buya Syafii tidak pernah tertundukan oleh rasa takut, tidak pernah ditundukkan oleh kesedihan. Kenapa? Karena beliau adalah Wali Allah, Kekasih Allah. Tandatanda kewalian itu menurut Al-Qur’an, tidak takut, tidak ditundukan oleh rasa takut. Beliau tidak takut melarat. Tidak takut dihina orang,” demikian penggalan testimoni Mustofa Bisri.
Lalu Andria yang tampil di depan podium di atas panggung, juga menghentakkan kembali testimoni Uskup Agung Jakarta Iqnatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo soal Buya.
“Buya Syafii adalah pribadi sederhana. Beliau adalah seorang yang beriman, pemeluk agama yang taat, saleh. Seluruh hidupnya terarah kepada Tuhan. Dan dari situlah muncul pribadi dengan berbagai keutamaan,” beber Andria mengulang kembali apa yang dikatakan Kardinal Suharyo.
Lalu tak kalah penting, Andria mengingatkan kembali hadirin bahwa Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar bin Dato’ Ibrahim juga punya kesan mendalam pada Buya. Ia sewaktu takziah virtual menyampaikan, dalam sebuah acara di Batu, Jawa Timur, yang ia hadiri, Buya Syafii bicara langsung bahwa sedang merumuskan pandangan tentang politik dan pendekatan Islam yang sederhana, dengan menempatkan budaya dan masyarakat yang bukan hanya mewakili Indonesia, melainkan dunia alam melayu keseluruhan.
“Islam yang universal dan rahmatan lil alamin, Islam yang bertapak kepada tuntutan zaman dan budaya tempatan. Jadi kupasan beliau sangat kaya dengan ilmu dan pengetahuan tentang masyarakat Indonesia dan Islam. Tentang Islam dan Kebingkaian Indonesia itu yang diolah dengan begitu baik,” tukasnya.
Pagelaran ini juga mengangkat pandangan Profesor M. Amin Abdullah dari Universitas Gadjah Mada yang menyebut Buya Syafi’i sebagai sosok muslim progresif, figur yang mampu menyatukan nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal dalam satu tarikan napas.
Pagelaran selama lebih kurang 1,5 jam itu dimainkan oleh Komunitas Talago Buni. Kelompok seni yang dipimpin oleh Edy Utama, dikenal sebagai kelompok musik kontemporer berbasis budaya Minangkabau yang telah tampil di berbagai festival seni di dalam maupun luar negeri.
Medium Baru
Direktur Artistik Pertunjukan, Edy Utama, menyalakan kembali api gagasan dan pemikiran Buya Syafii Maarif dengan pendekatan multimedia, agar pemikiran Buya Syafi’i dapat lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Kami ingin gagasan-gagasan Buya tidak hanya hadir dalam buku dan ruang akademik, tetapi juga hidup melalui seni pertunjukan yang dekat dengan publik,” ujarnya.
Tak pelak, pagelaran ini riuh dengan kehadiran pelajar. Mereka pun mengaku, pendekatan seni pertunjukan yang ditunjang audio-visual membuat mereka jadi lebih kenal dengan sosok Buya Syafii Maarif. Edy Utama menegaskan bunyi dan musik pada dasarnya bersifat universal. Karena itu, pertunjukan Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau sengaja dirancang sebagai medium untuk menghadirkan kembali gagasan-gagasan Buya Syafii Maarif ke ruang publik.
“Semua orang bebas menafsirkan musik. Karena itu kami ingin mengintervensi ruang publik melalui gagasan-gagasan Buya yang kami anggap penting bagi kehidupan bersama hari ini,” kata Edy.
Menurutnya, pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi ruang artistik, tetapi juga upaya membangun harapan baru di tengah situasi sosial yang dinilai kian kehilangan arah moral. Bagi Edy, Buya Syafii merupakan ‘provokator gagasan’ yang konsisten melawan kezaliman melalui kekuatan pikiran.
“Buya selalu mendorong orang untuk tidak diam terhadap ketidakadilan. Tapi perlawanannya bukan dengan kekuatan fisik, melainkan melalui pemikiran-pemikiran yang kritis dan bermartabat,” ujarnya.
Edy menilai, pemikiran Buya tidak berhenti pada kritik, tetapi juga menawarkan solusi atas persoalan bangsa. Tema-tema seperti Pancasila, demokrasi, dan kemanusiaan terus diperjuangkan Buya, bahkan dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-harinya.
“Di situlah kelebihan Buya. Apa yang beliau katakan, juga beliau jalankan dalam hidupnya sendiri,” katanya.
Dalam pertunjukan tersebut, komposisi musik diolah dari lagu-lagu yang terasa akrab bagi penonton, namun dibangun dengan pendekatan baru. Meski proses kreatif berlangsung singkat dan penuh keterbatasan, Edy mengatakan seluruh tim bekerja dengan semangat idealisme untuk menghadirkan sosok Buya secara lebih komprehensif.
“Kami hanya punya sekitar sepuluh kali latihan intensif. Tapi kami merasa ruh musik-musik yang ditampilkan punya hubungan dengan semangat pemberontakan kultural yang selama ini diperjuangkan Buya,” ujarnya.
Menurut Edy, selama ini Buya Syafii lebih banyak diperkenalkan melalui buku, tulisan, dan forum-forum diskusi. Karena itu, pendekatan seni dipilih sebagai cara baru untuk memperkenalkan gagasan Buya kepada generasi muda.
“Saya senang melihat anak-anak muda menikmati gagasan-gagasan berat itu dengan lebih nyaman dan ringan melalui medium seni,” katanya.
Ia menilai model pertunjukan semacam ini dapat menjadi medium baru untuk mempopulerkan pemikiran tokoh bangsa lain, seperti Mohammad Hatta atau Tan Malaka. Dalam pertunjukan itu, pidato-pidato Buya direkonstruksi ulang melalui narasi, pantun, kaba, dan elemen tutur lokal Minangkabau.
Selain itu, tim artistik juga memasukkan berbagai pernyataan tokoh tentang Buya, mulai dari Anwar Ibrahim, Goenawan Mohamad, hingga Haidar Nashir. Seluruh materi disusun melalui pelacakan arsip dan video yang cukup panjang, lalu diolah kembali dengan sentuhan artistik.
“Kalau hanya memutar ulang video Youtube tentu akan berbeda. Kami mencoba memberi sentuhan artistik terhadap pikiran-pikiran Buya agar lebih mudah diterima publik,” ujar Edy.
Direktur Eksekutif Ma’arif Institute, Andar Nubowo, menilai pertunjukan Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau berhasil menghadirkan kembali gagasan dan keteladanan Buya Syafii Maarif melalui pendekatan seni yang dekat dengan akar budaya lokal.
“Yang paling menarik dari pertunjukan ini adalah bagaimana gagasan dan keteladanan Buya diterjemahkan melalui pendekatan seni yang sangat dekat dengan lokalitas. Menurut saya, pendekatan seperti ini sangat relevan dengan situasi sekarang,” kata Andar.
Menurutnya, Buya Syafii bukan hanya dikenal sebagai pemikir dan intelektual, melainkan juga seorang budayawan yang menempatkan kebudayaan sebagai jalan transformasi sosial. Karena itu, perhatian Buya terhadap isu kebudayaan sangat besar.
“Buya percaya perubahan sosial, politik, dan ekonomi bisa dicapai melalui kebudayaan. Itu sebabnya beliau mendirikan Ma’arif Institute for Culture and Humanity. Dalam pandangan Buya, kebudayaan dan kemanusiaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Andar menilai, pendekatan seni menjadi penting di tengah menurunnya efektivitas penyampaian pesan-pesan kebangsaan dan keagamaan secara konvensional. Menurut dia, publik membutuhkan medium baru yang lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.
“Kita perlu mencari cara baru untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dan kemanusiaan, salah satunya melalui seni,” katanya.
Ia mengaku terkesan dengan kekuatan narasi dan musikalitas dalam pertunjukan yang membuat sosok Buya seolah hadir langsung di hadapan penonton. Menurutnya, narator mampu menyampaikan gagasan-gagasan Buya secara jernih dan emosional.
“Pertunjukan ini membuat kita merasa Buya hadir kembali di depan mata dan menyampaikan langsung pesan-pesannya,” ujar Andar.
Ia menilai gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif semakin relevan dihidupkan di tengah krisis kemanusiaan dan persoalan multidimensional yang dihadapi Indonesia saat ini.
Menurut Andar, Buya tidak hanya meninggalkan warisan pemikiran tentang kebangsaan, tetapi juga teladan bagaimana merawat Indonesia yang majemuk, plural, dan mampu hidup berdampingan dalam perbedaan.
“Kita perlu menjabarkan pikiran dan aksi nyata bagi Indonesia yang majemuk dan plural, agar bisa hidup berdampingan dalam perbedaan,” kata Andar.
Andar menilai fragmen-fragmen pemikiran Buya penting terus dihadirkan di ruang publik, terutama ketika Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi, moral, kebudayaan, hingga krisis sosial yang membuat masyarakat mudah terpecah dalam identitas kebangsaan.
“Gagasan Buya adalah suluh kebangsaan. Ia penting sebagai cermin untuk menjaga optimisme kita sebagai bangsa,” katanya.
Selain narasi, pertunjukan juga diperkuat dengan visual perjalanan hidup Buya, mulai dari masa kecilnya di kampung terpencil hingga menjadi tokoh bangsa yang dikenal luas karena perjuangannya terhadap kemajemukan dan persatuan Indonesia.
“Kalau kita membaca memoar Buya lalu melihat visualisasi malam ini, kita menemukan sosok yang tidak pernah lelah menjaga optimisme,” katanya.
Andar menyebut perjalanan hidup Buya yang penuh perjuangan membentuknya menjadi sosok arif dan bijaksana. Baginya, Buya bukan sekadar akademisi, melainkan seorang filosof dan guru bangsa.
“Yang paling penting, tidak ada jarak antara kata dan perbuatan Buya. Apa yang beliau sampaikan, itulah yang beliau jalankan,” ujarnya.
Menurut Andar, kesederhanaan hidup Buya dan sikapnya yang tidak tergoda jabatan maupun kekuasaan menjadi teladan penting bagi bangsa saat ini. Bahkan, kata dia, Buya pernah menolak sejumlah tawaran jabatan politik karena merasa ada sosok lain yang lebih tepat.
Kemanusiaan yang Universal
Ia juga menyoroti pandangan kemanusiaan universal yang diperjuangkan Buya sepanjang hidupnya. Bagi Andar, Buya merupakan humanis muslim sejati yang mengajarkan pentingnya menjaga solidaritas kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan.
“Bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan, Buya tetap menekankan bahwa mereka adalah manusia yang harus dihormati dan tidak boleh dipersekusi,” katanya.
Terkait Ma’arif Institute, Andar menjelaskan lembaga tersebut didirikan Buya bersama murid-murid ideologisnya pada 2003 untuk membangun Islam yang progresif, terbuka, toleran, dan tumbuh dalam konteks keindonesiaan yang plural.
“Semua gagasan Buya bermuara pada satu hal, yaitu kemanusiaan universal,” ujarnya.
Andar menilai Buya Syafii sesungguhnya telah menjadi pahlawan bangsa, meski hingga kini belum memperoleh gelar pahlawan nasional secara resmi. Namun, menurut dia, penghormatan paling penting bukan sekadar gelar, melainkan bagaimana masyarakat terus menghidupkan pemikiran dan keteladanan Buya dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang terpenting adalah bagaimana pikiran dan keteladanan Buya terus menjadi inspirasi untuk menjaga kewarasan bangsa, merawat kemanusiaan, dan menjaga Indonesia tetap utuh,” kata Andar.
Andar menambahkan peringatan ini menjadi upaya merawat sekaligus memperkenalkan kembali gagasan dan nilai-nilai Buya Syafi’i kepada generasi muda di tengah kehidupan bangsa yang majemuk.
“Tema besar kegiatan tahun ini adalah Merawat Suluh, Menjaga Hati Nurani Bangsa. Kami ingin pemikiran Buya Syafi’i tetap hidup sebagai cahaya moral dan kebangsaan,” kata Andar.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan digelar di tiga kota, yakni Yogyakarta, Sumatra Barat, dan Jakarta. Di Yogyakarta, M’arif Institute bersama Kiniko Art telah membuka pameran seni rupa bertema Suluh sejak 23 Mei lalu, yang menghadirkan karya sejumlah seniman Indonesia terinspirasi dari pemikiran Buya Syafi’i. Pameran tersebut berlangsung hingga 7 Juli 2026.
Sementara itu, di Jakarta pada 18 Juni mendatang akan digelar Pidato Kebudayaan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Museum Nasional, yang juga dirangkai dengan pementasan ulang pertunjukan Bertutur tentang Guru Bangsa.
Sementara itu, Rektor ISI Padang Panjang, Febri Yulika yang membuka langsung pagelaran, menyebut pertunjukan naratif-musikal Bertutur Tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau menjadi upaya membuka kembali ingatan kolektif tentang perjalanan hidup Buya Syafii Maarif.
“Malam ini kita sedang membuka lembar-lembar memori ingatan, menyusuri jejak anak kampung dari Sumpur Kudus yang gerak pikirnya menerabas batas, bukan hanya Indonesia, melainkan juga dunia,” ujar Febri.
Menurutnya, melalui pendekatan seni, publik diajak kembali melihat Buya sebagai guru bangsa yang mengajarkan cinta kebangsaan melalui kemanusiaan, keislaman, dan keteladanan hidup.
“Buya mengajarkan bagaimana mencintai kebangsaan melalui kemanusiaan dan nilai-nilai Islam. Kita berharap generasi muda melihat Buya sebagai cahaya bangsa,” katanya.
Febri mengatakan, bagi Buya, keyakinan tidak berhenti pada diskusi, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Bagi Buya, keyakinan bukan untuk diperdebatkan semata, tetapi dilaksanakan. Dan Buya memberi contoh itu dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menilai, pemikiran tokoh besar seperti Buya tidak cukup hanya dikenang melalui kata-kata atau buku, tetapi juga perlu diterjemahkan melalui medium seni yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
“Malam ini, pikiran-pikiran Buya tidak hanya didialogkan, tetapi ditransformasikan melalui seni. Tokoh besar tidak cukup dikenang lewat kata-kata, tetapi juga melalui medium yang hidup di tengah masyarakat,” bilangnya.
Menurut Febri, warisan terbesar Buya bukan jabatan ataupun penghargaan, melainkan keberanian moral untuk menyampaikan kebenaran, meski sering tidak populer.
“Buya punya keberanian untuk mengatakan kenyataan, meskipun itu tidak populer. Ia berani berdiri di tengah pertengkaran dan memeluk Indonesia dalam segala keberagamannya,” ujar Febri.
Ia berharap transformasi pemikiran Buya melalui narasi musikal tersebut menjadi bagian dari ikhtiar merawat warisan intelektual dan moral salah satu tokoh besar bangsa.
“Semoga kebersamaan malam ini menjadi bagian dari ikhtiar menyalakan kembali api pemikiran Buya demi Indonesia yang lebih berperadaban,” tandasnya.
Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam setengah itu ditutup dengan sajian musik talempong-modifikasi yang memukau ratusan penonton di Gedung Hoerijah Adam, ISI Padang Panjang. (YH/E-4)
