Sistem Peringatan Dini Gempa Penting Lindungi Industri dan Infrastruktur Vital
Ilustrasi(researchgate.com)

SISTEM peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS) tidak hanya berfungsi memberi peringatan kepada masyarakat, tetapi juga berperan penting dalam melindungi industri dan infrastruktur vital dari dampak gempa.

Peneliti dari Asian Disaster Reduction Center (ADRC), Mizan Bisri, menjelaskan, Jepang telah memanfaatkan EEWS secara luas, mulai dari sektor transportasi, industri semikonduktor, pusat perbelanjaan, hingga perusahaan energi. Sistem tersebut bekerja dengan memanfaatkan jeda waktu antara gelombang awal gempa dan gelombang utama yang menyebabkan guncangan kuat.

“Tujuannya bukan hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga melindungi aset dan menjaga keberlangsungan operasional bisnis,” ujar Mizan, Senin (1/6). 

Menurut dia, pengembangan sistem peringatan dini gempa di Indonesia saat ini menjadi bagian dari kerja sama riset Indonesia-Jepang melalui program SATREPS 2025-2029. 

Program tersebut bertujuan membangun sistem peringatan dini gempa dan respons terpadu di wilayah Jawa bagian barat sebagai tahap awal menuju sistem nasional.

Mizan mengatakan, di Jepang terdapat mekanisme kerja sama antara lembaga pemerintah, penyedia layanan, dan perusahaan swasta dalam pengoperasian sistem tersebut. 

Data gempa yang diperoleh dari Japan Meteorological Agency (JMA) diteruskan melalui perusahaan perantara sebelum disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna.

“Setiap perusahaan memiliki kebutuhan perlindungan yang berbeda, sehingga sistemnya harus dikustomisasi sesuai jenis bisnis dan aset yang ingin dijaga,” katanya.

Salah satu contoh penerapan EEWS yang dinilai berhasil adalah pada layanan kereta cepat Shinkansen. Saat sensor mendeteksi gempa, sistem secara otomatis memutus aliran listrik dan mengaktifkan rem darurat sebelum guncangan kuat tiba.

Menurut Mizan, mekanisme tersebut terbukti mampu mengurangi risiko kecelakaan dan kerusakan saat gempa besar terjadi. Meskipun layanan kereta sempat dihentikan sementara untuk pemeriksaan, sistem berhasil menjaga kereta tetap berada di jalur dan mencegah kerusakan yang lebih parah.

Selain sektor transportasi, industri semikonduktor juga menjadi pengguna utama EEWS. Industri tersebut sangat sensitif terhadap getaran karena proses produksinya membutuhkan tingkat presisi tinggi.

Mizan menjelaskan, getaran gempa dapat merusak produk semikonduktor bernilai tinggi hanya dalam hitungan detik. Karena itu, banyak perusahaan di Jepang mengintegrasikan sistem peringatan dini gempa dengan mesin produksi agar dapat berhenti secara otomatis ketika gempa terdeteksi.

Beberapa perusahaan bahkan mengombinasikan sistem peringatan regional dari pemerintah dengan sensor lokal yang dimiliki perusahaan. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan akurasi sekaligus mengurangi risiko peringatan palsu.

“Sebagian besar industri besar di Jepang menggunakan kombinasi sistem regional dan sensor lokal mereka sendiri,” ujarnya.

Meski demikian, Mizan menegaskan bahwa sistem peringatan dini gempa bukan satu-satunya solusi dalam mitigasi bencana. Teknologi tersebut harus didukung bangunan tahan gempa, kesiapsiagaan masyarakat, prosedur kedaruratan, serta inspeksi pascagempa.

“Peringatan dini gempa hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan upaya pengurangan risiko bencana,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengatakan sistem peringatan dini yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu mengurangi dampak gempa bumi.

Menurut Adrin, BRIN bersama BMKG terus mendorong pengembangan sistem peringatan dini gempa yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat umum, tetapi juga dapat mendukung sektor industri dan transportasi di Indonesia.

“Pengalaman Jepang diharapkan dapat menjadi pembelajaran penting dalam membangun sistem mitigasi gempa yang lebih siap dan terintegrasi di masa mendatang,” ujarnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *