
ARUS lalu lintas di Interstate 495 dekat Washington, DC, mendadak berhenti mencekam. Seorang pria melakukan aksi penikaman membabi buta di tengah jalan tol yang mengakibatkan seorang perempuan dan seekor anjing tewas di tempat.
Peristiwa mengerikan ini terjadi di Fairfax County pada 1 Maret lalu tak lama setelah pukul 13.00 waktu setempat. Pihak Kepolisian Negara Bagian Virginia awalnya merespons panggilan terkait insiden amukan di jalan (road rage) setelah sebuah kecelakaan mobil. Di lokasi kejadian, petugas berhadapan dengan tersangka pria yang membawa pisau, hingga terpaksa menembaknya demi membela diri.
“Seorang petugas keluar dan langsung menembaknya, dari apa yang saya lihat, setidaknya dua hingga tiga kali,” ujar seorang saksi mata perempuan yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada CNN. “Pada titik itu, saya menjerit dan langsung mematikan telepon dengan sepupu saya. Saya menelepon 911 sembari mencerna apa yang sedang saya lihat.”
Kejadian tragis ini meninggalkan trauma mendalam bagi sang saksi mata yang merupakan ibu dua anak. “Saya ketakutan jika ada orang lain yang terlibat, atau jika ini adalah operasi yang lebih besar daripada sekadar aksi orang gila,” ungkapnya.
Menghadapi peristiwa traumatis seperti ini dapat berdampak buruk pada psikologis seseorang. Pakar terapi trauma asal Philadelphia, Shari Botwin, menyarankan agar korban atau saksi mata segera berbicara atau menulis tentang pengalaman tersebut sesaat setelah kejadian untuk memulai proses pemulihan.
Saksi mata tersebut kini menjalani terapi dan mendapatkan cuti berbayar selama delapan minggu dari perusahaannya. “Saya sedang menjalani terapi, tetapi saya masih mengalami momen-momen yang bagi warga sipil biasa tampak sederhana namun membuat saya tersentak, dan saya harus memberikan belas kasihan pada diri sendiri,” tuturnya. Ia mengaku kerap mengalami kilas balik setiap kali melihat mobil polisi, ambulans, atau mendengar sirene.
Psikolog klinis Ricky Greenwald merekomendasikan terapi EMDR (eye movement desensitization and reprocessing) sebagai salah satu metode pemulihan trauma paling efektif sejak akhir 1980-an. Metode ini membantu otak menyimpan memori trauma secara berbeda guna mengurangi gejala kecemasan.
“Ketika Anda memproses, berbicara, dan menamai pengalaman tersebut, Anda cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kilas balik atau menjadi terlalu waspada, atau masuk ke dalam mode lawan-atau-lari (fight-or-flight),” jelas Botwin.
Botwin menekankan pentingnya menghadapi trauma, menghindari pelarian yang merusak diri sendiri, dan bersikap ramah pada diri sendiri selama proses penyembuhan. “Kita memiliki kecenderungan sebagai manusia untuk meremehkan trauma… Namun realitasnya adalah, tidak ada yang bisa mengendalikan bagaimana mereka menghadapi trauma,” pungkas Botwin. (CNN/Z-2)
