Dari Layar Bioskop ke Ruang Seni, Joko Anwar Hadirkan Macabre Art Installation Ghost in The Cell
Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA)

FILM Ghost in The Cell karya sutradara Joko Anwar tengah jadi salah satu film paling banyak ditonton dalam beberapa pekan terakhir, hal ini terbukti dengan jumlah jam tayang film itu yang masih di angka lebih dari 1.000 di sekitar 300 layar lebar di Indonesia. Dirilis pada 16 April lalu, Ghost in The Cell sejauh ini telah meraup sekitar 3,2 juta penonton.

Sebulan setelah penayangan perdana, Joko Anwar melalui rumah produksi miliknya Come and See Pictures kini menghadirkan pameran Macabre Art Installation Ghost in The Cell, pameran seni ini menampilkan 6 karya seni Macabre Art yang tampil dalam film. Sebuah interpretasi visual mengenai kematian dan siksaan yang diangkat langsung dari film tersebut.

”Memang salah satu keinginan aku ketika bikin film ini adalah menjadikan film menjadi showcase buat lintas profesi, lintas seniman, lintas medium. Salah satunya dari teman-teman ilustrator dan pada Macabre Art ini ada Enam orang ilustrator yang kami approach dan akhirnya aku assign satu orang satu ilustrasi untuk Macabre Art,” kata Joko Anwar ditemui dalam pameran Macabre Art Installation Ghost in The Cell, di Jakarta, Sabtu (16/5).

Keenam Macabre Art itu diantaranya The Fan, Shower Head, The Stove, The Dancer, Flood Light dan Lady Justice, dan merupakan karya dari ilustrator Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin dan Rudy Ao. Bukan sekadar sebuah pemanis dalam film, Joko menerangkan bahwa masing-masing Macabre Art itu memiliki makna tersendiri dan sangat dekat dengan isu sosial di Indonesia saat ini.

Pada instalasi The Fan misalnya, karya yang menampilkan tubuh manusia berlumuran darah yang menggantung di atas kipas, jadi bentuk representasi siklus kekerasan sosial seperti korupsi, eksploitasi hingga penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia yang terus berulang dan dinormalisasikan.

”Kemudian untuk yang Lady Justice, itu kan berangkat dari sesuatu yang sudah ada. Macabre Art ini tetap menunjukkan prinsip yang sama dengan patung Lady Justice atau Themis yang diketahui yakni soal isu hukum. Tapi kami bikin beda di sini dengan kepala yang terinjak di bagian bawah, kalau ngomong kepala itukan hubungannya sama kehormatan atau juga harga diri, dan ketika harga diri ditaruh di bawah, kan jadinya harga diri yang terinjak oleh diri sendiri,” terang Joko Anwar.

Melalui pengalaman ruang, suara, tekstur, cahaya, dan skala fisik instalasi, pameran ini mengajak pengunjung memasuki atmosfer yang sebelumnya hanya dapat dilihat melalui medium sinema. Pameran ini tidak hanya memperluas dunia Ghost in the Cell, tetapi juga membuka ruang dialog tentang tubuh, kekerasan, konsumsi, kekuasaan, dan bagaimana manusia dapat berubah menjadi objek dalam sistem sosial yang brutal. 

Selain menjadi perluasan artistik dari film, Macabre Art Installation Ghost in The Cell, juga merupakan bagian dari upaya rumah produksi Come and See Pictures untuk memperkenalkan seni instalasi dan seni kontemporer kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan mereka: film dan budaya populer. ”Film membuat penonton melihat. Ruang pamer membuat pengunjung berhadapan langsung dengan isu di dalam film,” tukas Joko Anwar.

Pameran Macabre Art Installation Ghost in The Cel bisa dinikmati secara gratis di Nirmana Falatehan, Jakarta Selatan dan akan berlangsung tanggal 16 – 22 Mei 2026 dan terbuka untuk umum mulai pukul 10.00 sampai 20.00 WIB setiap harinya.  (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *