
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump secara resmi memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yaitu G-2. Istilah Group of Two ia lontarkan usai melakukan pertemuan bilateral intensif dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pekan ini.
“Ini dua negara besar. Saya menyebutnya G-2. Inilah G-2,” ujar Trump dalam wawancara dengan Sean Hannity dari Fox News yang disiarkan pada Jumat (15/5/2026). Trump meyakini bahwa momen ini akan tercatat dalam sejarah sebagai titik balik penting dalam tatanan dunia.
Pengakuan Tiongkok sebagai Kekuatan Setara
Bagi para analis, penggunaan istilah G-2 oleh Trump merupakan kemenangan diplomatik besar bagi Xi Jinping. Selama puluhan tahun, para pemimpin Tiongkok berupaya agar AS mengakui posisi mereka sebagai rekan yang setara (undisputed peer). Melalui kemegahan upacara penyambutan dan gestur saling menghormati, Xi berhasil memproyeksikan citra dua kekuatan super yang mendominasi dunia.
Julian Gewirtz, mantan direktur Tiongkok di Dewan Keamanan Nasional AS, mencatat bahwa Xi menggunakan optik mewah kunjungan ini untuk memperjelas kepada dunia bahwa AS dan Tiongkok adalah dua kekuatan dominan yang seimbang. “Tidak ada jalan kembali,” tegasnya.
Ekonomi dan Teknologi: Kesepakatan di Balik G-2
Meskipun narasi G-2 mendominasi, rincian strategis mengenai beberapa isu krusial seperti perang Iran masih belum menghasilkan komitmen tegas. Namun, di sektor ekonomi, beberapa poin penting berhasil dicapai:
- Industri Penerbangan: Tiongkok sepakat untuk membeli 200 jet Boeing, meskipun pengumuman ini sempat membuat saham perusahaan tersebut turun karena ekspektasi investor yang lebih tinggi.
- Sektor Pertanian: Administrasi Trump mengharapkan kesepakatan pembelian produk pertanian AS senilai puluhan miliar dolar per tahun untuk tiga tahun ke depan.
- Kecerdasan Buatan (AI): Menteri Keuangan Scott Bessent mengungkapkan bahwa kedua kekuatan super AI ini akan mulai berdiskusi mengenai langkah-langkah bersama guna mencegah penyalahgunaan oleh aktor non-negara.
Catatan Sejarah: Konsep G-2 sebenarnya pertama kali muncul pada masa pemerintahan Barack Obama, tetapi saat itu gagal mendapatkan momentum. Trump kini menghidupkannya kembali sebagai strategi untuk menstabilkan hubungan bilateral.
Tantangan Multipolaritas
Menariknya, meskipun Trump antusias dengan istilah G-2, Beijing secara resmi masih menahan diri untuk tidak menggunakan istilah tersebut. Tiongkok lebih memilih narasi stabilitas dan dunia multipolar. Hal ini diduga untuk menghindari kecanggungan diplomatik, mengingat Xi Jinping dijadwalkan akan menjamu sekutu dekatnya, Presiden Rusia Vladimir Putin, akhir bulan ini.
Kunjungan itu ditutup dengan gestur simbolis yaitu Xi menjamu Trump untuk minum teh di Zhongnanhai, kompleks kepemimpinan rahasia Tiongkok. Sebagai balasan, Trump mengumumkan rencana kunjungan balasan Xi Jinping ke Amerika Serikat pada 24 September mendatang.
“Kita akan melakukannya secara terbuka. Anda akan pulang dengan kesan yang sangat luar biasa, seperti saya yang sangat terkesan dengan Tiongkok,” pungkas Trump sebelum bertolak dengan Air Force One. (The Washington Post/I-2)
