Denyut Kehidupan Iran di Tengah Blokade dan Ancaman Perang Lagi
Warga Iran.(Al Jazeera)

DIAPIT oleh puncak gunung yang tertutup salju, jalan panjang menuju Teheran berkelok melalui lembah pohon poplar Tabrizi yang indah dan ladang gandum yang mulai menghijau. Di sepanjang Sungai Qotur yang meluap karena pencairan salju musim semi, para gembala masih menggembalakan kawanan domba mereka di lereng bukit.

Dari kejauhan, jembatan kereta api yang megah dengan gelagar baja bercat putih membentang di lanskap yang berkilauan. Struktur ini tampak tidak tersentuh oleh serangan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam sebagian wilayah Iran awal tahun ini. Namun, di balik keindahan alam tersebut, tersimpan kecemasan mendalam yang menyelimuti negeri ini.

Suksesi di Bawah Bayang-Bayang Duka

Di pinggir jalan, di antara kios-kios yang menjual kacang pistachio dan teh, papan reklame hitam berkabung atas kematian Ayatollah Ali Khamenei. Pemimpin Tertinggi Iran tersebut tewas dalam serangan udara pada Februari lalu, tepat di hari pertama perang pecah.

Kini, putranya, Mojtaba Khamenei, dideklarasikan sebagai pembawa panji bangsa yang baru. Namun, Mojtaba–yang dilaporkan terluka dalam serangan yang sama–belum pernah terlihat atau terdengar suaranya di depan publik sejak memegang kekuasaan. Ketidakhadirannya menambah rasa ketidakpastian di tengah masyarakat Iran yang khawatir Donald Trump akan memulai kembali pengeboman sewaktu-waktu.

Situasi Strategis: Penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut dan negosiasi perdamaian yang mandek memicu kekhawatiran bahwa perang bisa berkobar kembali kapan saja.

Krisis Biaya Hidup dan Blokade Ekonomi

Perang yang disebut Trump sebagai ekskursi kecil ini telah memberikan dampak nyata bagi rakyat jelata. Di perbatasan Turki, terlihat kerumunan warga Iran membawa jeriken minyak goreng dengan tangan. Seorang pensiunan menjelaskan bahwa harga kebutuhan pokok kini enam kali lebih mahal di Iran dibandingkan di Turki.

Krisis biaya hidup ini, yang diperburuk oleh blokade angkatan laut AS, memicu tekanan ekonomi yang luar biasa. Meskipun inflasi melonjak tajam, fokus masyarakat kini beralih dari protes ke upaya bertahan hidup sehari-hari.

Harapan pada Mediasi Tiongkok

Saat Presiden AS Donald Trump memulai kunjungan kenegaraan ke Tiongkok, baik Washington maupun Teheran tampaknya melirik Beijing sebagai jalan keluar dari kebuntuan. Tiongkok memiliki kepentingan besar untuk membuka kembali aliran minyak dan gas di Teluk Persia yang terhambat.

Duta Besar Iran untuk Tiongkok telah mengisyaratkan bahwa Beijing dapat memainkan peran mediator yang kuat. Langkah diplomatik ini dianggap cerdik bagi Tiongkok untuk tampil sebagai penyelamat ekonomi global, kontras dengan kebijakan disrupsi Washington.

Resistensi yang Sunyi

Di suatu penginapan kuno dalam perjalanan menuju ibu kota, pemandangan menarik terlihat di ruang makan yang dipenuhi keluarga. Sebagian besar perempuan Iran tidak mengenakan hijab.

Meskipun tekanan militer dan ekonomi sangat berat, semangat masyarakat Iran tetap terlihat, meski kini lebih banyak tercurah untuk bertahan hidup. “Perang Trump telah membungkam orang-orang dan membuat pemerintah Iran menjadi lebih kuat, setidaknya untuk saat ini,” ujar Maddy, seorang ayah yang ditemui di sela perjalanannya menuju Teheran. (CNN/I-2)







Faktor Krisis Dampak Saat Ini
Kepemimpinan Mojtaba Khamenei belum tampil di publik pascasuksesi.
Ekonomi Harga pangan naik 6x lipat akibat blokade laut.
Geopolitik Selat Hormuz tetap tertutup; Tiongkok jadi mediator potensial.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *