
PARA ilmuwan mulai mempertimbangkan kembali pengetahuan kita tentang “lilin standar” kosmos, objek luar angkasa yang menjadi kunci untuk mengukur jarak di alam semesta. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dan data dari Observatorium Vera C. Rubin, penelitian terbaru bertujuan memecahkan misteri terbesar kosmologi modern, Energi Gelap.
Objek yang dikenal sebagai supernova tipe 1a ini terjadi akibat ledakan bintang mati yang bertindak layaknya “kanibal”. Perannya sangat krusial untuk mengukur laju ekspansi alam semesta serta memahami bagaimana energi gelap mendorong kosmos menjauh ke segala arah.
Mengenal Supernova Tipe 1a dan Energi Gelap
Fenomena ini bermula dari katai putih, sisa bintang seukuran matahari yang telah mati. Jika bintang ini memiliki pasangan biner, ia akan bertindak seperti vampir kosmik dengan menyedot material dari bintang pendampingnya. Kanibalisme bintang ini berakhir dengan ledakan nuklir dahsyat yang menghancurkan katai putih tersebut sepenuhnya: itulah supernova tipe 1a.
Sejak 1998, para astronom menyadari alam semesta tidak hanya mengembang, tetapi juga bertransformasi semakin cepat. Kekuatan misterius di balik percepatan ini disebut energi gelap, yang mencakup sekitar 68% dari total materi dan energi di alam semesta.
Metode CIGaRS: Akurasi Tanpa Kompromi
Masalah utama selama 20 tahun terakhir adalah asumsi bahwa semua supernova tipe 1a identik. Faktanya, tingkat kecerahan mereka sedikit bergantung pada lingkungan galaksi tempat mereka meledak.
Untuk mengatasi hal ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Konstantin Karchev dan Raúl Jiménez dari Universitas Barcelona mengembangkan kerangka kerja bernama Combined Inference and Galaxy-related Standardization (CIGaRS). Berbeda dengan metode standar yang menganalisis tanda cahaya (spektroskopi), CIGaRS menggunakan analisis matematika dan gambar nyata.
“Cara ampuh untuk memodelkan alam semesta adalah dengan mensimulasikannya di komputer,” ujar Raúl Jiménez dalam sebuah pernyataan. “Ini memungkinkan kita untuk mengubah semua parameter yang mungkin secara bersamaan demi memprediksi alam semesta tempat kita tinggal.”
Menyambut Era Observatorium Rubin
Metode baru ini mampu memperkirakan jarak galaksi dengan sangat akurat hanya melalui gambar. Kemampuan ini akan menjadi sangat penting ketika survei Legacy Survey of Space and Time (LSST) di Observatorium Rubin, Cile, mulai mengirimkan data supernova dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Konstantin Karchev menegaskan pendekatan berbasis simulasi ini mampu mengekstraksi informasi kosmologis dan astrofisika secara penuh tanpa terjebak dalam bias pemodelan. Hasil penelitian ini telah resmi diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy pada Rabu (6/5/2026).
Melalui integrasi AI dan data observasi tercanggih, para ilmuwan kini memiliki peluang lebih besar untuk memahami “dorongan misterius” energi gelap yang selama ini menjadi teka-teki tak terpecahkan di ruang angkasa. (Space/Z-2)
