Keir Starmer Bertemu Wes Streeting di Tengah Ancaman Kudeta Anggota Parlemen
PM Inggris Sir Keir Starmer menghadapi krisis kepemimpinan besar setelah pengunduran diri massal menteri dan desakan 80 lebih anggota parlemen agar ia mundur.(PA Media)

PERDANA Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, dijadwalkan bertemu dengan Menteri Kesehatan Wes Streeting pada Rabu pagi waktu setempat. Pertemuan krusial di Downing Street Nomor 10 ini terjadi di tengah upaya pemberontakan para anggota parlemen Partai Buruh yang berusaha melengserkannya dari jabatan tertinggi.

Otoritas PM Starmer melemah secara signifikan menyusul hasil pemilihan umum yang buruk pekan lalu, yang kemudian memicu gelombang pengunduran diri di kabinetnya. Hingga saat ini, empat menteri telah meletakkan jabatan, termasuk Jess Phillips (Menteri Perlindungan) dan Zubir Ahmed, sekutu dekat Streeting.

Pemberontakan Internal dan Syarat Kudeta

Ketegangan memuncak setelah lebih dari 80 anggota parlemen Partai Buruh mendesak Starmer untuk mundur. Secara aturan, pemilihan kepemimpinan baru hanya bisa dipicu jika pemimpin mengundurkan diri atau jika 20% anggota parlemen (sekitar 81 orang) secara resmi mengajukan tantangan.

Meskipun lebih dari 100 anggota parlemen lainnya masih menyatakan dukungan kepada PM, posisi Starmer tetap di ujung tanduk. Wes Streeting, yang selama ini dikenal memiliki ambisi kepemimpinan dan dukungan kuat dari sayap tengah serta kanan partai, dianggap sebagai penantang potensial.

Namun, sekutu Starmer meyakini bahwa Streeting belum mampu mengumpulkan 81 nama pendukung yang diperlukan untuk memulai proses penggantian pemimpin secara formal.

Suara dari Mereka yang Mundur

Gelombang pengunduran diri menteri diwarnai dengan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Starmer. Jess Phillips dalam surat pengunduran dirinya memberikan pernyataan yang cukup emosional.

“Saya pikir Anda adalah orang yang pada dasarnya baik dan peduli pada hal-hal yang benar, namun saya telah melihat secara langsung bahwa itu saja tidak cukup,” tulis Phillips. “Keinginan untuk tidak berdebat berarti kita jarang membangun argumen, sehingga peluang untuk kemajuan terhenti dan tertunda.”

Senada dengan Phillips, Zubir Ahmed secara tegas menyatakan kepercayaan publik terhadap PM telah hilang.

“Publik telah kehilangan kepercayaan kepada Anda sebagai perdana menteri secara tidak terelakkan, dan melanjutkan jabatan ini sepenuhnya tidak dapat dipertahankan,” ungkap Ahmed dalam suratnya.

Agenda Negara di Tengah Kekacauan

Kekisruhan ini terjadi tepat saat pemerintah bersiap menyampaikan agenda legislatifnya dalam King’s Speech. Agenda tersebut mencakup lebih dari 35 rancangan undang-undang, termasuk reformasi NHS, kepolisian, imigrasi, hingga rencana nasionalisasi British Steel.

Meski Starmer menegaskan kepada kabinetnya bahwa negara “mengharapkan kita untuk terus memerintah,” masa depan kepemimpinannya kini menjadi tanda tanya besar di Westminster.

Wakil Perdana Menteri David Lammy terus menyerukan dukungan penuh bagi Starmer dan meminta rekan-rekannya yang memberontak untuk menarik diri.

“Tidak ada yang tampaknya memiliki nama (pendukung) untuk melawan Keir Starmer, dan bagi mereka yang menyarankan agar dia mundur, mereka harus mengatakan kandidat mana yang akan lebih baik,” tegas Lammy.

Di tengah ketidakpastian ini, publik menanti apakah Starmer akan mampu bertahan cukup lama untuk melaksanakan janji-janji legislatif yang segera diumumkan di hadapan Raja. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *