
LIRIH kalimat talbiyah, Labbaika Allahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, terus mengalir dari bibir Tsamrotul Fuadah, 53. Di atas kursi roda yang melintas menuju Masjidil Haram, suara guru sekolah dasar asal Tangerang Selatan itu bergetar. Ada rasa syukur yang membuncah di tengah keterbatasan fisik yang nyaris memupus asanya ke Tanah Suci.
Perjalanan ibadah Fuadah tahun ini adalah sebuah anomali sekaligus mukjizat kecil. Hanya sehari sebelum keberangkatan pada Rabu (22/4), ia terjatuh dari tangga seusai acara pelepasan jemaah haji di Tangerang Selatan. Vonis medis di RUD Kota Tangerang menyatakan otot kakinya robek. Meski tanpa patah tulang, pelindung khusus kini harus mendekap kaki kirinya erat-erat.
“Saya kira ini adalah panggilan Allah. Jika saat itu dokter menyatakan saya tidak memenuhi syarat istitaah, dengan legowo saya akan menerima. Tapi Allah berkata lain,” tutur Fuadah saat ditemui di Hotel Al-Hidayah, kawasan Aziziah, Mekah, Minggu (3/5).
Penantian 15 Tahun
Bagi Fuadah, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan penuntasan janji selama 15 tahun menunggu panggilan ke Tanah Suci. Di sisinya, Muhammad Amri Lubab, 24, setia mendampingi. Amri hadir menggantikan sang ayah yang wafat 1,5 tahun lalu melalui mekanisme pelimpahan porsi haji.
Puncak emosi itu pecah saat keduanya tiba di depan Ka’bah pada Sabtu (2/5) sore untuk melaksanakan umrah wajib. Di bawah langit Mekah, Amri menolak menggunakan jasa pendorong kursi roda profesional. Ia memilih mendorong sendiri sang ibu, menuntaskan tujuh putaran tawaf dan lintasan sa’i dengan tangannya sendiri.
“Saya sudah bilang pakai jasa pendorong saja, tapi dia tidak mau. Dia ingin membuktikan baktinya kepada orangtua,” kenang Fuadah dengan mata berkaca-kaca.
Usai menjali tawaf dan sa’i, Fuadah tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk erat putra keduanya itu, pemuda yang akan merayakan ulang tahun tepat saat puncak haji pada 25 Mei mendatang.
Kesigapan Petugas
Kelancaran ibadah Fuadah tak lepas dari peran Tim Lansia dan Disabilitas (Landis) serta Tim Kesehatan PPIH Arab Saudi. Sejak di Madinah hingga tiba di Mekah, Fuadah mendapatkan perawatan intensif.
Sugita Esadora, petugas Landis Daerah Kerja Mekah, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pendampingan total. “Kami membantu kebutuhan harian di hotel, mulai dari mandi hingga penggantian popok. Tim kesehatan juga melakukan visitasi tiga kali sehari untuk memastikan kondisi fisiknya stabil,” jelasnya.
Solidaritas sesama jemaah pun menjadi penguat. Teman sekamar Fuadah tak henti memberikan bantuan moral dan fisik, yang membuat keterbatasannya tak lagi menjadi penghalang berarti.
Kini, Fuadah tinggal menunggu puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Baginya, kesempatan untuk bersimpuh dan menyebut asma Allah di Tanah Suci adalah kemewahan yang tak ternilai.
“Alhamdulillah, dengan kondisi keterbatasan ini, saya tetap diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya,” pungkasnya. (Z-10)
