
SULTAN Deli XIV Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Sumatra Utara menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Selain memanjatkan doa bersama, mereka mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap para pelaku pembakaran.
Seruan moral tersebut disampaikan bersama KH Amirudin (pendiri Pondok Pesantren Tasawudh dan Tahfizul Quran), Ruslan (Ketua Umum PB Pendawa Indonesia), KH Yudhikar Hadiyatuzi, serta Biku Utara Nanda (tokoh Buddha Tamil).
Mereka menekankan pentingnya penanganan karhutla yang komprehensif, mulai dari pencegahan, perlindungan warga terdampak, hingga penegakan hukum.
Sultan Deli XIV Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam mendoakan agar pemerintah Republik Indonesia dapat segera mengatasi bencana ini demi meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Saya mendoakan agar karhutla yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa selesai dengan cepat dan dapat teratasi oleh pemerintah Republik Indonesia,” ujarnya di Medan, Sumatra Utara, seperti dikutip, Sabtu (23/10).
Mahmud menyampaikan simpati dan doa bagi masyarakat terdampak agar diberikan ketabahan serta kekuatan. Ia menegaskan, warga di wilayah terdampak membutuhkan perlindungan dan dukungan penuh selama masa kritis kabut asap.
Lebih lanjut, Mahmud menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah untuk menindak tegas perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terbukti memicu karhutla.
“Saya juga mendukung penuh pemerintah Republik Indonesia untuk menindak tegas perusahaan-perusahaan sawit yang menyebabkan karhutla,” katanya.
Ia berharap proses hukum berjalan transparan sehingga pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan berlaku.
Dukungan serupa diutarakan Ruslan, Ketua Umum Pengurus Besar Pendawa Indonesia. Ia mendesak kepolisian mengambil tindakan hukum mendasar terhadap individu maupun korporasi yang sengaja membakar lahan agar memberikan efek jera.
Meski demikian, Ruslan menggarisbawahi bahwa penindakan harus didasarkan pada penyelidikan objektif dan pembuktian hukum, bukan sekadar prasangka semata.
Dari kalangan ulama, KH Amirudin bersama para santri memanjatkan doa agar bencana karhutla segera mereda dan pemerintah diberikan kelancaran dalam mengambil kebijakan penanganan kabut asap secara efektif.
Sementara itu, KH Yudhikar Hadiyatuzi menyoroti ancaman kabut asap lintas batas negara serta dampaknya terhadap satwa dan ekosistem hutan. Ia mengajak sinergi kuat antara ulama dan umara (pemerintah).
“Apabila ulama dan umara ini bersatu, insya Allah akan baik negaranya,” ujar Yudhikar.
Dari perwakilan Buddha Tamil, Biku Utara Nanda menyampaikan harapan agar karhutla segera berakhir demi keselamatan generasi mendatang dan keberlanjutan lingkungan hidup.
“Semoga kebakaran hutan di negara kita segera berakhir, demi berlangsungnya generasi masa depan dan lingkungan hidup yang baik,” ujarnya. (P-2)
