
Pengamat Politik, Hendri Satrio, menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (22/10/2026) kemarin menjadi sinyal awal pulihnya kepercayaan publik dan investor terhadap jajaran pemerintah.
Meski demikian, pendiri lembaga survei KedaiKOPI yang akrab disapa Hensa tersebut mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru merasa puas atas momentum penguatan bursa saham domestik.
“Kabar baik ini, tanda kepercayaan ke pemerintah mulai kembali. Sederhananya, investor itu tadinya hanya bertanya satu hal, yaitu pemerintahnya bisa dipegang atau tidak. Hari ini jawabannya mulai mengarah ke ‘bisa’. Tapi baru mulai lagi loh ya, jadi ini memang positif tapi harus tetap kita pantau lagi,” ujar Hensa melalui keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).
Hensa mengapresiasi ketegasan Presiden Prabowo Subianto dalam merespons tekanan dari pihak eksternal seperti MSCI. Menurutnya, langkah tersebut mengirimkan pesan politik yang kuat bahwa pemerintah tetap tenang dan tidak panik.
Namun, ia mengkritik koordinasi internal kabinet yang dinilainya masih acap berjalan sendiri-sendiri dan baru bersikap tegas saat menghadapi situasi krusial.
“Sikap tegas itu bagus, dan publik menangkap pesannya bahwa pemerintah tidak panik. Yang jadi soal, ketegasan jangan cuma muncul pas kepepet. Kadang saya heran, tekanan dari luar bisa dihadapi dengan kepala tegak, tapi koordinasi di dalam kabinet sendiri masih sering jalan masing-masing,” terangnya.
Hensa menegaskan bahwa publik saat ini menilai kinerja pemerintah secara objektif berdasarkan keselarasan antara ucapan dan tindakan riil di lapangan. Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi stabilitas kepercayaan pasar dan publik justru berasal dari celoteh atau pernyataan pejabat yang tidak terkontrol.
“Publik sekarang tidak cukup dikasih kata-kata. Kalau ada menteri yang hobi bikin gaduh, sebaiknya puasa bicara dulu biar kepercayaan yang baru balik ini tidak kabur lagi. Yang dibutuhkan sekarang bukan tepuk tangan, tapi konsistensi,” pungkas Hensa.(H-2)
