
NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (23/10) sore berakhir di zona merah. Rupiah tercatat melemah 20 poin atau 0,11 persen ke level Rp18.080 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi pada penutupan sebelumnya di level Rp18.060 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa pelemahan ini didorong oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar. Data klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat hanya sebesar 194 ribu.
“Angka tersebut berada di bawah estimasi maupun angka periode sebelumnya yang sebesar 200 ribu. Ini sekaligus mencapai level terendah dalam hampir 57 tahun terakhir,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (23/10).
Sentimen Geopolitik dan Pasokan Energi
Selain faktor data ekonomi AS, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar mengkhawatirkan adanya gangguan pada pasokan energi global menyusul serangan kelompok Ansarullah (Houthi) dari Yaman terhadap fasilitas Arab Saudi.
Kondisi ini diperparah dengan instruksi evakuasi kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran pada Kamis (22/10). Lokasi tersebut berada di kawasan strategis Teluk dekat Bahrain, yang kini menjadi titik panas pertempuran antara eksportir minyak mentah terbesar dunia tersebut dengan kelompok Houthi.
“Bentrokan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi terus berkecamuk, terutama saat kelompok Houthi bergerak maju menuju Bab el-Mandeb. Ini adalah jalur pelayaran strategis di mulut Laut Merah,” tambah Ibrahim.
Data Kurs JISDOR:
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ini juga menunjukkan pelemahan. Kurs referensi tersebut berada di level Rp18.069 per dolar AS, turun dari posisi hari sebelumnya yang berada di angka Rp18.047 per dolar AS.
Kombinasi antara penguatan ekonomi AS yang membuka peluang kebijakan moneter ketat lebih lama serta risiko gangguan energi global menjadi faktor utama yang menekan mata uang regional, termasuk rupiah, pada akhir pekan ini. (Ant/H-4)
