Kisah Robin Greenfield: Setahun hanya Makan dari Alam
Robin Greenfield.(The Washington Post)

SELAMA setahun terakhir, aktivis lingkungan Robin Greenfield menjalani kehidupan yang bagi banyak orang dianggap radikal. Ia hanya memakan segala yang bisa ia temukan atau tangkap sendiri di alam. Namun, bagi Greenfield, justru gaya hidup masyarakat modernlah yang sebenarnya pantas disebut ekstrem.

“Dibandingkan dengan status quo, saya memang menjalani hidup yang sangat ekstrem,” aku Greenfield. Menu hariannya terdiri dari beras liar, biji ek, kacang pecan liar, kenari hitam, hazelnut, plum, ikan, hingga daging rusa. “Namun, jika dibandingkan dengan perjalanan panjang sejarah kemanusiaan, saya akan mengatakan bahwa saya menjalani kehidupan yang cukup normal.”

Menantang Definisi Normal

Greenfield tidak mengharuskan semua orang untuk melakukan hal yang sama persis dengannya, seperti melepaskan paspor, akta kelahiran, hingga SIM. Ia pun tidak sepenuhnya keluar dari sistem modern. Ia masih menggunakan panci presto, menumpang kendaraan orang lain untuk pergi ke acara aktivisme, dan meminjam ponsel untuk berbicara dengan jurnalis.

Tujuannya mengajak orang mempertanyakan asumsi di balik kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, ia melakukan perjalanan 4.000 mil dari Panama ke AS hanya dengan pakaian di badan serta mengenakan seluruh sampah yang ia hasilkan selama 30 hari untuk menyoroti limbah rumah tangga di Amerika.

“Saya tidak punya pilihan lain selain menjadi ekstrem, karena kita hidup di masa yang ekstrem,” ujarnya. Ia merujuk pada kepunahan massal keenam dan kerusakan lingkungan yang didorong oleh aktivitas manusia sebagai bentuk ekstremitas yang sebenarnya.

Sumber Nutrisi dari Alam Liar

Dalam wawancara mengenai pengalamannya, Greenfield membagikan detail cara ia memenuhi kebutuhan nutrisinya tanpa ketergantungan pada toko kelontong:

  • Kalori Harian: Ia mengonsumsi antara 2.000 hingga 3.500 kalori per hari. Meski berat badannya sempat berfluktuasi sekitar 2,5 kg, ia merasa tubuhnya tetap sehat.
  • Karbohidrat Utama: Beras liar menjadi sumber utama. Ia memanen sekitar 34 kg beras liar di Wisconsin utara dan 20 kg biji ek.
  • Protein: Ia mendapatkan sekitar 45 kg daging dari rusa yang mati tertabrak mobil di Wisconsin, serta berbagai jenis ikan seperti trout dan sucker.
  • Waktu Kerja: Mengumpulkan dan memproses makanan membutuhkan waktu 20 hingga 80 jam per minggu, terutama saat musim panen raya seperti musim apel atau beras liar.

Koneksi yang Terputus

Banyak pihak mungkin skeptis dan menganggap metode Greenfield tidak mungkin diterapkan oleh miliaran orang di bumi. Namun, bagi pengikut lokakaryanya seperti Lauren Robinson, contoh yang diberikan Greenfield membantu orang untuk menilai kembali hidup mereka.

“Kita sebagai manusia sudah sangat terputus dari banyak hal, terutama makanan,” kata Robinson. “Saya masuk ke toko kelontong dan memasukkan barang ke keranjang. Terkadang saya bahkan tidak tahu seperti apa bentuk tanaman asalnya.”

Bagi Greenfield, foraging bukan sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang mengambil tanggung jawab pribadi. Ia percaya bahwa dengan membangun hubungan langsung dengan bumi dan sesama, manusia bisa berdiri di posisi yang lebih berdaya di hadapan sistem korporasi yang eksploitatif.

“Saya ingin menjalani hidup yang bahagia dan bermakna. Saya tidak bisa melakukannya jika saya tahu kebahagiaan saya dibayar dengan penderitaan orang lain atau kerusakan alam,” pungkasnya. (The Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *