
BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) secara resmi menutup misi bersejarah OSIRIS-REx pada 30 September. Misi ini mencatatkan sejarah sebagai program penerbangan antariksa pertama Amerika Serikat yang berhasil mengambil sampel murni dari asteroid dan membawanya pulang ke Bumi.
Wahana antariksa berukuran sebesar mobil van tersebut diluncurkan untuk mengunjungi serta mengambil sampel dari Bennu, sebuah batuan luar angkasa purba berdiameter 490 meter. Bennu menyimpan material purba dari masa awal pembentukan tata surya lebih dari 4,5 miliar tahun lalu, termasuk bahan organik mentah yang diduga menjadi cikal bakal kehidupan di Bumi.
Peneliti Utama OSIRIS-REx dari University of Arizona, Dante Lauretta, mengungkapkan perasaannya atas penutupan resmi misi tersebut melalui unggahan di LinkedIn.
“Saya telah mengetahui hari ini akan datang untuk waktu yang lama, tetapi masih terasa sulit untuk melihatnya tiba,” ungkap Dante Lauretta.
“Saya merasakan kebanggaan yang sangat besar atas apa yang kami capai bersama, dan kesedihan nyata bahwa perjalanan ini telah berakhir,” lanjut Lauretta.
Perjalanan misi senilai US$1 miliar di bawah Program New Frontiers ini penuh dengan tantangan. Sebelum diluncurkan pada 8 September 2016, proposal proyek ini sempat mengalami dua kali penolakan dari NASA sebelum akhirnya disetujui pada 2011.
Saat tiba di Bennu pada akhir 2018, tim peneliti menemukan bahwa permukaan asteroid tersebut ternyata terdiri dari tumpukan bebatuan tajam yang tidak padat. Ketika wahana melakukan pendaratan di kawah Nightingale, permukaan Bennu merespons lebih menyerupai cairan ketimbang batuan keras. Kepala pengambil sampel sempat amblas sedalam 51 sentimeter sebelum pendorong roket diaktifkan untuk menarik wahana menjauh.
Proses penampungan sampel sempat diwarnai kepanikan ketika penutup wadah tersumbat batuan yang terlalu banyak, menyebabkan sebagian material terlepas. Tim merespons cepat dengan memasukkan kepala pengambil sampel langsung ke dalam kapsul kembali. Kapsul sampel tersebut akhirnya mendarat di gurun Utah pada 24 September 2023.
Lauretta menegaskan keberhasilan misi ini terletak pada adaptabilitas tim terhadap situasi tak terduga.
“Misi eksplorasi yang sukses bukanlah misi yang menghindari kejutan; melainkan misi yang dirancang secara sengaja untuk beradaptasi dengannya,” tutur Lauretta saat mengutip laporan akhir misi ke NASA.
“Hal itu tentu menggambarkan OSIRIS-REx. Berulang kali, misi ini menyajikan situasi yang tidak kami duga, dan berulang kali pula tim ini menemukan jalan ke depan,” tambahnya.
Misi OSIRIS-REx berhasil membawa pulang sampel seberat 121,6 gram, melampaui target awal yang ditetapkan. Hasil analisis terhadap sampel Bennu menyingkap keberadaan asam amino dan gula yang penting bagi kehidupan, serta bukti paparan air cair di masa lalu. Lebih dari 200 makalah ilmiah telah dipublikasikan dari penelitian sampel ini, sementara sebagian besar sisa sampel disimpan untuk penemuan penelitian generasi mendatang.
Meski babak OSIRIS-REx telah berakhir, wahana antariksa tersebut kini berganti nama menjadi OSIRIS-APEX (OSIRIS-APophis EXplorer). Wahana tersebut memanfaatkan sisa bahan bakarnya untuk meluncur menuju asteroid Apophis dan dijadwalkan tiba pada tahun 2029. (Space/Z-2)
