
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu pagi (21/10). Sikap wait and see para investor terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) menjadi pemicu utama pergerakan sideways pasar saham domestik.
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.15 WIB, IHSG sempat dibuka di zona hijau sebelum akhirnya terkoreksi 34,79 poin atau 0,66% ke level 5.244,10. Penurunan ini juga diikuti oleh indeks saham-saham unggulan, LQ45, yang merosot 3,47 poin atau 0,65% menuju posisi 526,88.
“Volatilitas pergerakan saham diperkirakan masih akan tinggi dengan IHSG berpotensi menguji level 5.300-5.400,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Sentimen Domestik: Ekspektasi Kenaikan BI Rate
Fokus utama pelaku pasar keuangan dalam negeri saat ini tertuju pada pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia. Konsensus pasar memproyeksikan BI Rate bakal mengalami kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh level 6%.
Langkah antisipasi terhadap lonjakan inflasi, pelemahan nilai tukar Rupiah, serta persiapan menghadapi pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pekan depan disinyalir menjadi dorongan kuat di balik ekspektasi kenaikan suku bunga acuan tersebut. Selain itu, BI turut mewaspadai lonjakan inflasi sektor pangan yang telah menyentuh angka 5% secara tahunan (year on year/yoy) karena dikhawatirkan dapat menggerus daya beli masyarakat.
“Keputusan BI akan menjadi faktor penting bagi pergerakan Rupiah, pasar obligasi, dan IHSG,” kata Ratna. Ia menambahkan bahwa penyesuaian suku bunga berpotensi menstabilkan nilai tukar, meski berisiko memberikan tekanan tambahan pada pasar modal seiring meningkatnya perkiraan biaya pendanaan (cost of fund).
Sentimen Global dan Pergerakan Bursa Dunia
Dari panggung internasional, tensi geopolitik di Timur Tengah sedikit mereda seiring adanya upaya mediasi oleh Qatar dan Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran. Fokus mediasi mencakup pelonggaran akses aset serta inspeksi nuklir IAEA, yang berpotensi menekan harga minyak dunia dalam jangka pendek jika kesepakatan resmi tercapai.
Namun, Ratna memperingatkan, “Apabila konflik berlanjut, harga minyak berisiko bertahan tinggi dan memicu tekanan inflasi global, yang dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan.”
Sementara itu, pergerakan bursa global dan regional terpantau bervariasi:
| Wilayah / Bursa | Pergerakan |
|---|---|
| Bursa Wall Street AS (Selasa, 20/10) | S&P 500 (+0,28%), Dow Jones (+1,02%), Nasdaq (-0,02%) |
| Bursa Eropa (Selasa, 20/10) | Euro Stoxx 50 (-0,33%), FTSE 100 (-0,29%), DAX (-0,06%) |
| Bursa Asia (Rabu Pagi, 21/10) | Nikkei (+1,31%), Kospi (+4,38%), Hang Seng (+0,27%), Shanghai (-0,04%) |
Investor kini terus mencermati sinyal dari Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. (ANT/E-4)
