
ASAL-usul kelelawar sebagai satu-satunya mamalia yang bisa terbang selalu menjadi misteri besar bagi para ilmuwan. Selama puluhan tahun, banyak pihak menduga bahwa nenek moyang kelelawar berasal dari Afrika, Asia, atau Amerika Utara. Tapi, dugaan tersebut akhirnya terbantahkan. Sebuah penelitian genetik dan fosil skala besar yang dipublikasikan di jurnal Nature pada September 2026 membuktikan bahwa nenek moyang kelelawar modern sebenarnya pertama kali muncul dan berevolusi di Eropa sekitar 65 juta tahun lalu. Berikut beberapa temuan yang menjadi bukti dalam penelitian tersebut:
1. Sampel Genetik dan Fosil
Temuan penting ini berhasil diungkap oleh tim peneliti internasional yang tergabung dalam konsorsium Bat1K. Penelitian ini melibatkan 137 ahli dari 64 negara, termasuk peneliti dari Museum für Naturkunde Berlin, Senckenberg Research Institute, dan Max Planck Institute (MPI-CBG).
Para ilmuwan menggabungkan data genetik dari 103 spesies kelelawar yang hidup saat ini dengan 44 fosil kelelawar prasejarah. Penulis senior riset dari Stony Brook University, Prof. Liliana M. Dávalos, menjelaskan bahwa metode penggabungan data genetik dan fosil ini memungkinkan peneliti melacak lokasi awal serta waktu kemunculan kelelawar purba secara akurat.
2. Jalur Penyebaran dari Eropa ke Seluruh Dunia
Berdasarkan hasil pemetaan silsilah, kelelawar pertama kali berkembang di Eropa pada akhir periode Paleosen. Dari Eropa, kelompok kelelawar purba ini mulai berpindah dan menyebar ke benua Afrika.
Kawasan Eropa dan Afrika kemudian menjadi pusat penyebaran utama. Dari sanalah keturunan kelelawar terus berkembang dan meluas ke berbagai belahan dunia lainnya, termasuk ke benua Amerika, Asia, hingga Australia.
3. Kemampuan Terbang dan Radar Suara
Selain mengungkap asal-usul tempat, penelitian ini juga menjawab kapan kelelawar mulai bisa terbang dan menggunakan radar suara atau ekolokasi. Melalui analisis fosil kelelawar purba bernama Vielasia, peneliti menemukan bahwa kemampuan navigasi suara dan kemampuan terbang bertenaga sudah terbentuk sejak awal sejarah kelelawar.
Dua kemampuan khas ini berkembang bersamaan di awal masa evolusi. Kombinasi kemampuan terbang dan navigasi suara inilah yang membuat kelelawar berhasil bertahan hidup dan berkembang menjadi sangat banyak jenis hingga saat ini.
4. Mengakhiri Perdebatan Puluhan Tahun
Penulis utama studi dari University College Dublin, Prof. Emma Teeling, menyebutkan bahwa temuan ini berhasil mengakhiri perdebatan ilmiah yang sudah berlangsung berdekad-dekad.
Dengan perpaduan analisis sampel DNA dan fosil prasejarah, para ilmuwan kini memiliki peta pohon silsilah kelelawar yang sangat kuat. Peta ini menjelaskan secara jelas bagaimana mamalia terbang ini muncul di Eropa dan akhirnya menyebar ke seluruh penjuru bumi. (H-4)
