Panduan Meninggalkan Anak Sendiri di Rumah dari Psikolog
Ilustrasi(Magnific)

MASALAH pengawasan anak kembali menjadi perhatian publik setelah munculnya laporan kasus kecelakaan fatal di Kalimantan Timur serta viralnya video seorang anak yang menangis karena ditinggal orang tuanya di dalam tenda di kawasan Gunung Prau, Jawa Tengah. Insiden-insiden ini menjadi pengingat penting bagi orang tua mengenai risiko dan tanggung jawab dalam menjaga keamanan buah hati.

Memutuskan kapan seorang anak boleh ditinggal sendirian bukanlah perkara mudah. Terdapat berbagai faktor psikologis dan situasional yang harus dievaluasi secara mendalam agar keselamatan anak tetap terjaga.

Batasan Usia dan Kesiapan Mental

Psikolog klinis anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, menegaskan bahwa kelompok usia tertentu mutlak memerlukan pengawasan orang dewasa. Menurutnya, bayi, balita, hingga anak usia prasekolah belum memiliki kesiapan untuk ditinggal sendirian dalam kondisi apa pun.

Bahkan, Vera mengingatkan agar orang tua tidak meninggalkan mereka tanpa pengawasan meskipun anak sedang dalam keadaan tidur. “Anak yang sudah bisa berbicara atau bermain sendiri juga belum tentu mampu mengenali bahaya dan mencari pertolongan,” jelas Vera.

Secara umum, orang tua baru bisa mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan anak sendirian di rumah ketika anak sudah menginjak usia remaja, yakni sekitar 12 tahun ke atas. Namun, angka usia ini bukan satu-satunya tolok ukur, karena kematangan setiap anak berbeda-beda.

Pertimbangan Orang Tua

Psikolog anak dan keluarga sekaligus Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Sani Budiantini Hermawan, S.Psi, menambahkan bahwa keputusan meninggalkan anak harus didasarkan pada tiga pilar utama:

  • Kemampuan Kognitif: Apakah anak sudah memiliki kemampuan memahami situasi dan menjaga diri?
  • Penyelesaian Masalah: Apakah anak mampu menyelesaikan masalah sederhana atau tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?
  • Kondisi Lingkungan: Apakah lingkungan sekitar dinilai aman dan minim risiko?

Sani menekankan bahwa jika kognisi anak masih bingung atau belum matang, risiko bahaya akan meningkat drastis jika mereka ditinggal tanpa pengawasan orang dewasa.

Keamanan Lingkungan: Rumah vs Tempat Asing

Satu hal yang sering luput dari perhatian orang tua adalah perbedaan tingkat kenyamanan anak terhadap lokasi. Vera Itabiliana mengingatkan bahwa kesiapan anak untuk tinggal sendiri di rumah yang sudah familier tidak bisa disamakan dengan situasi di tempat baru.

“Kesiapan berada sendiri di rumah yang familier tidak otomatis berlaku di hotel, kawasan pegunungan, atau lingkungan asing lainnya,” kata Vera. Lingkungan yang asing dapat memicu kepanikan pada anak, yang pada gilirannya menghambat kemampuan mereka untuk bertindak logis saat menghadapi masalah.

Catatan Penting: Meskipun anak dinilai sudah mampu menjaga diri, orang tua disarankan tetap tidak meninggalkan mereka sendirian jika kondisi lingkungan sekitar dianggap berisiko tinggi.

Langkah Persiapan bagi Orang Tua

Jika orang tua merasa anak sudah cukup matang (usia 12 tahun ke atas) dan lingkungan mendukung, proses kemandirian ini harus dilakukan secara bertahap. Berikut adalah beberapa langkah yang disarankan:

  1. Mulai Secara Bertahap: Cobalah meninggalkan anak dalam durasi yang singkat terlebih dahulu sebelum menambah durasi waktu.
  2. Edukasi Keadaan Darurat: Pastikan anak tahu cara menghubungi orang tua dan tahu tindakan apa yang harus diambil dalam situasi darurat (seperti kebakaran atau gangguan orang asing).
  3. Aturan yang Jelas: Berikan instruksi dan aturan yang tegas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama orang tua tidak ada.
  4. Pastikan Kenyamanan: Pastikan anak merasa aman dan nyaman secara psikologis untuk ditinggal sendirian. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *