
BURSA Efek Indonesia (BEI) memilih untuk tidak mengungkapkan detail pembahasan maupun kesimpulan dari pertemuan daring dengan penyedia indeks global, MSCI, yang berlangsung pada Senin (19/10). Pertemuan ini digelar di tengah tekanan pasar menyusul rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk tidak memublikasikan hasil pertemuan tersebut. “Kami telah bertemu secara daring dengan MSCI. Namun, kami tidak dapat mengungkap detail maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut karena adanya kesepakatan bersama,” ujar Jeffrey pada Senin (19/10).
Meski hasil pertemuan dirahasiakan, BEI menegaskan komitmennya untuk melanjutkan reformasi pasar modal guna meningkatkan transparansi dan integritas. Sebagai langkah konkret, BEI menyiapkan dua inisiatif baru yang akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat.
Inisiatif pertama berkaitan dengan keterbukaan informasi pemegang saham. BEI akan menambahkan keterangan status afiliasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1%. Dengan kebijakan ini, publik dapat mengetahui apakah pemegang saham tersebut terafiliasi atau tidak dengan emiten terkait.
Langkah kedua adalah mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jeffrey menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan meningkatkan kredibilitas indeks acuan tanpa menghapus saham tersebut dari pencatatan bursa.
“Bukan delisting, tetapi tidak diperhitungkan dalam penghitungan IHSG. Saham-saham tersebut tetap tercatat dan dapat diperdagangkan,” tegas Jeffrey. Sebelumnya, kebijakan serupa telah diterapkan pada indeks utama lainnya seperti IDX30, LQ45, dan IDX80.
Tekanan terhadap pasar modal Indonesia meningkat setelah MSCI mengumumkan pembukaan konsultasi usulan perubahan klasifikasi pasar pada 15 Oktober 2026. Pengumuman tersebut sempat memicu kepanikan pasar yang menyebabkan IHSG anjlok hingga 11,6% pada perdagangan Jumat (16/10) lalu.
BEI berharap inisiatif transparansi ini dapat memperkuat integritas data pasar dan memberikan kepastian lebih bagi investor global maupun domestik. Informasi mengenai waktu pemberlakuan kebijakan baru ini akan disampaikan BEI dalam keterangan terpisah. (Z-10)
