
PENELITIAN terhadap lebih dari 461.000 orang dewasa menemukan bahwa konsumsi sejumlah produk makanan ultra-olahan, seperti yogurt berperisa dan sereal sarapan, berkaitan dengan risiko kanker usus yang lebih rendah. Namun, temuan ini tidak membuktikan bahwa makanan tersebut secara langsung mencegah kanker.
Selama ini, makanan ultra-olahan atau ultra-processed food (UPF) kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine menunjukkan bahwa hubungan antara makanan ultra-olahan dan risiko kanker usus dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi.
Dalam penelitian tersebut, konsumsi makanan ultra-olahan secara keseluruhan tidak ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker usus. Ketika peneliti mengelompokkan makanan berdasarkan jenisnya, sejumlah produk justru dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah.
Produk tersebut antara lain yogurt berperisa, sereal sarapan, roti gandum utuh, dan kacang panggang. Sebaliknya, konsumsi daging olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus.
Produk Susu Dikaitkan dengan Risiko Lebih Rendah
Salah satu temuan penelitian adalah hubungan antara konsumsi produk susu ultra-olahan dan risiko kanker usus.
Setiap tambahan satu porsi produk susu ultra-olahan per hari, seperti yogurt berperisa atau milkshake manis, dikaitkan dengan risiko kanker usus 25% lebih rendah. Sebagai perbandingan, konsumsi produk susu yang tidak tergolong ultra-olahan dikaitkan dengan penurunan risiko sebesar 10%.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa makanan dalam kategori ultra-olahan tidak selalu memiliki hubungan yang sama dengan risiko penyakit. Kandungan nutrisi di dalamnya kemungkinan turut berperan.
Meski demikian, hasil penelitian ini tidak membuktikan bahwa yogurt berperisa secara langsung mencegah kanker usus. Konsumen tetap perlu memperhatikan kandungan gula dan komposisi produk sebelum menjadikannya bagian dari pola makan sehari-hari.
Serat dari Gandum dan Kacang juga Menjadi Perhatian
Selain produk susu, sejumlah makanan berbahan gandum dan makanan berserat menunjukkan hubungan dengan risiko kanker usus yang lebih rendah.
Konsumsi tambahan satu porsi roti gandum utuh dari supermarket setiap hari dikaitkan dengan risiko kanker usus 13% lebih rendah. Sementara itu, tambahan 10 gram serat per hari dari makanan berserat yang telah diolah, seperti kacang panggang, dikaitkan dengan penurunan risiko hingga 28%.
Sereal sarapan, roti gandum utuh, dan kacang panggang dapat menyediakan nutrisi penting, termasuk serat. Serat membantu menjaga keteraturan buang air besar dan mendukung fungsi sistem pencernaan.
Namun, kandungan nutrisi setiap produk berbeda. Sereal dengan kadar gula tinggi, misalnya, tidak serta-merta memiliki manfaat yang sama dengan sereal berbahan gandum utuh yang kaya serat. Karena itu, konsumen perlu memperhatikan komposisi dan informasi nilai gizi pada kemasan.
Daging Olahan Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko
Berbeda dengan sejumlah produk di atas, konsumsi daging olahan menunjukkan hubungan yang berlawanan.
Penelitian menemukan bahwa setiap tambahan satu porsi daging olahan per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus sebesar 8 persen. Sementara itu, tambahan satu porsi daging yang tidak tergolong ultra-olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 4%.
Daging olahan mencakup produk seperti sosis dan bacon. Temuan ini memperlihatkan pentingnya mempertimbangkan jenis makanan yang dikonsumsi, terutama produk daging olahan.
Dengan demikian, tingkat pemrosesan makanan saja tidak cukup untuk menggambarkan hubungannya dengan risiko penyakit. Jenis bahan pangan dan kandungan nutrisinya juga perlu diperhatikan.
Penelitian tidak Membuktikan Hubungan Sebab-Akibat
Makanan ultra-olahan menjadi perhatian peneliti karena sejumlah produk mengandung tambahan gula, garam, lemak, atau bahan tambahan lainnya. Namun, makanan yang telah melalui proses pengolahan masih dapat mengandung nutrisi penting, seperti serat, kalsium, dan protein.
Penelitian dalam PLOS Medicine tersebut bersifat observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara pola konsumsi makanan dan risiko kanker usus, tetapi tidak membuktikan bahwa makanan tertentu secara langsung menurunkan atau meningkatkan risiko kanker.
Hasil penelitian ini juga bukan alasan untuk mengonsumsi makanan ultra-olahan tanpa batas. Kandungan gula, garam, lemak, dan serat tetap perlu menjadi pertimbangan saat memilih produk.
Memilih sereal kaya serat, memperhatikan kadar gula dalam yogurt, memperbanyak buah dan sayuran, serta membatasi daging olahan merupakan langkah yang dapat mendukung pola makan seimbang. (Wan/B-3)
