5 ABK Indonesia Selamat dari Kapal Tenggelam di Sri Lanka, Kini Menunggu Pemulangan di Mauritius
Lima ABK asal Indonesia masih menunggu proses pemulangan ke tanah air setelah kapal diawaki tenggelam di Perairan Srilangka.(dok.Pemkab Batang)

LIMA Orang Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang merupakan awak KM Garuda Jaya VI selamat setelah kapal mereka tenggelam di perairan Sri Lanka pada 22 September 2026. Saat ini, kelima nelayan tersebut masih berada di Port Louis, Mauritius, Afrika, untuk menunggu proses pemulangan ke Tanah Air.

Dua dari lima ABK tersebut teridentifikasi sebagai warga Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yaitu Sopian Hadi dan Trisno. Sementara tiga ABK lainnya adalah Nuridin asal Ulujami (Kabupaten Pemalang), Muh Aditriono asal Pekalongan, serta Mulyadi asal Plered (Kabupaten Cirebon).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang bergerak cepat mengoordinasikan langkah-langkah pemulangan warganya setelah menerima kabar mengenai kejadian tersebut.

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menyampaikan pihaknya langsung berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia untuk memastikan keselamatan serta percepatan penanganan para korban.

“Pemerintah daerah telah berkomunikasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk memastikan penanganan dan proses pemulangan para ABK,” ujar Faiz Kurniawan, Senin (19/10).

Faiz menambahkan, penanganan terhadap para ABK yang terkatung-katung di luar negeri menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Informasi terakhir dengan Kemenlu saat ini masih dalam penanganan dan pendampingan,” tambahnya.

Berdasarkan informasi terbaru, kelima ABK tersebut telah dijemput oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan ditempatkan di sebuah hotel di Mauritius sembari menunggu selesainya urusan administrasi pemulangan. Pemkab Batang juga telah menyampaikan perkembangan kondisi para ABK secara langsung kepada pihak keluarga di Indonesia.

Kabar mengenai keberadaan kelima ABK di Mauritius ini pertama kali berembus dari seorang pekerja migran Indonesia lainnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, menjelaskan bahwa laporan awal diterima dari seorang ABK kapal lain bernama Jhony, yang kebetulan menginap di hotel yang sama dengan para korban di Mauritius.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari seorang ABK kapal lain asal Indonesia Jhony yang menginap di hotel yang sama dengan kelima ABK korban kapal tenggelam tersebut,” kata Teguh Tarmudjo.

Menurut Teguh, para korban sempat mengalami kendala komunikasi lantaran tidak memiliki alat komunikasi untuk menghubungi keluarga di Indonesia. Hal itu membuat proses koordinasi awal dengan KBRI di Madagaskar sempat menemui hambatan.

Selain itu, KM Garuda Jaya VI yang diawaki para korban diduga tidak diberangkatkan dari pelabuhan atau terminal di Batang. Pihak HNSI Batang saat ini masih terus mengumpulkan data lengkap serta berkoordinasi dengan pihak keluarga korban.

“Kami siap untuk melakukan pendampingan jika seluruh data sudah terkumpul,” tambah Teguh.

Upaya sinergi antara Pemkab Batang, Kemenlu, dan HNSI terus dilakukan agar seluruh prosedur administrasi dan pendampingan bagi kelima ABK Indonesia dapat segera rampung, sehingga mereka bisa secepatnya dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. (Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *