Maurizio Sarri Sebut Kebangkitan Atalanta Lawan Milan Jadi Modal Kepercayaan Diri
Maurizio Sarri menilai kebangkitan Atalanta saat kalah 3-2 dari Milan menjadi modal positif. Ia juga menyoroti kepemimpinan wasit dan insiden Adrien Rabiot.(Atalanta)

PELATIH Atalanta, Maurizio Sarri, berharap kebangkitan timnya di babak kedua meski kalah 3-2 dari AC Milan dapat meningkatkan kepercayaan diri para pemain. Di samping itu, Sarri juga menyampaikan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai berat sebelah, termasuk keputusan tidak mengusir Adrien Rabiot usai menghina wasit.

Atalanta sempat tertinggal tiga gol terlebih dahulu di Stadion San Siro akibat gol Goncalo Ramos, Adrien Rabiot, dan Mario Gila. Tuan rumah bahkan berpeluang menambah gol, namun eksekusi penalti kedua Goncalo Ramos berhasil ditepis oleh kiper Marco Carnesecchi.

Jalannya pertandingan berubah total setelah Gianluca Gaetano masuk dari bangku cadangan. Gaetano mencetak satu gol dan membantu merancang gol kedua yang diselesaikan oleh Nikola Krstovic untuk menipiskan jarak menjadi 3-2. Atalanta nyaris menyamakan kedudukan di menit-menit akhir, tetapi tembakan Davide Zappacosta berhasil digagalkan oleh penyelamatan gemilang Mike Maignan.

Usai pertandingan, Sarri mengakui timnya sempat kesulitan pada awal laga sebelum menemukan ritme permainan.

“Tekanan (press) kami kurang intensif di babak pertama dan kami kesulitan dengan hal itu,” ungkap Sarri kepada Sky Sport Italia. “Meski demikian, pergerakan pertama yang benar-benar berbahaya adalah milik kami melalui Krstovic, lalu insiden-insiden yang terjadi justru merugikan kami.”

Atalanta menelan kekecewaan setelah dua kali dihukum penalti akibat pelanggaran handball, sementara klaim penalti mereka atas dugaan handball Koni De Winter diabaikan oleh wasit Daniele Chiffi. Namun, sorotan utama Sarri tertuju pada perlakuan wasit terhadap pemain Milan, Adrien Rabiot.

“Pada umpan silang Rowe, tampak bagi saya bahwa De Winter menyentuh bola dengan tangannya. Hari ini saya mendapati bahwa ada pemain yang bisa menyuruh wasit untuk persetan (go **** themselves). Saya menunjukkan hal ini kepada wasit, dan dia mengatakan bahwa pemain tersebut sudah diberi kartu kuning. Jika saya yang mengatakan hal itu, saya pasti diusir dari lapangan, dan itu memang sudah seharusnya,” kritik Sarri.

Hanya beberapa menit setelah insiden tersebut, Rabiot berhasil mencetak gol kedua untuk Milan.

“Secara keseluruhan saya tidak menyukai cara wasit memimpin pertandingan, tetapi hal itu selalu terjadi setiap kali saya berurusan dengan Chiffi. Sangat disayangkan kami tidak mengamankan poin, karena menjelang akhir pertandingan momentum ada di pihak kami. Kami bahkan bisa mengincar lebih dari sekadar hasil imbang, tetapi jika performanya seperti yang kita lihat di setengah jam terakhir, maka setidaknya itu meningkatkan kepercayaan diri kami,” tegasnya.

Kedua tim sebenarnya memiliki kondisi fisik yang relatif sama setelah melakoni laga di kompetisi Eropa pada Kamis malam. Milan meraih kemenangan 4-0 di Liga Europa saat bertandang ke markas RB Salzburg, sementara Atalanta menundukkan Pafos 3-1 di Conference League.

Namun, badai cedera Atalanta kian memburuk setelah Sead Kolasinac terpaksa ditarik keluar lebih awal karena cedera. Situasi tersebut memaksa Sarri memberikan laga debut di tim senior kepada pemain muda Relja Obric, yang sayangnya langsung diganjar hukuman penalti akibat handball.

Meski begitu, Sarri tetap memberikan apresiasi kepada para pemain yang masuk dari bangku cadangan atas kontribusi positif mereka di lapangan.

“Semua pemain yang masuk dari bangku cadangan tampil positif dan reaktif, meskipun beberapa di antaranya dimasukkan ketika kami sudah mulai membalikkan keadaan,” pungkas Sarri. (Football-Italia/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *